Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Rajin Angkat Beban saat Hamil akan Melahirkan Bayi Kekar?
Instagram.com/chipaa.___
  • Olahraga selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin, tetapi bukti perubahan massa dan karakteristik otot keturunan terutama berasal dari penelitian pada tikus.
  • Rajin angkat beban saat hamil belum terbukti membuat bayi manusia lahir kekar; tangan bayi yang berisi tidak bisa langsung dikaitkan dengan rutinitas olahraga ibu.
  • Pada kehamilan tanpa komplikasi, aktivitas fisik umumnya aman dan dianjurkan sekitar 150 menit per minggu, dengan jenis serta intensitas disesuaikan kondisi dan konsultasi medis bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sekitar minggu ke-28 kehamilan

WHO merekomendasikan pemberian tenofovir sebagai profilaksis bagi ibu hamil dengan HBsAg positif dan HBV DNA ≥200.000 IU/mL.

saat persalinan

WHO merekomendasikan pemberian tenofovir hingga setidaknya saat persalinan.

maksimal 12 jam setelah lahir

Bayi dari ibu dengan HBsAg positif harus mendapatkan vaksin hepatitis B dan HBIg pada tempat suntikan yang berbeda.

kurang dari 24 jam

Dokumen program Kemenkes mencantumkan pemberian HB-0 dan HBIg pada bayi dari ibu HBsAg reaktif.

9–12 bulan

Bayi dapat menjalani pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs untuk mengetahui perlindungan atau infeksi HBV.

1–2 bulan setelah rangkaian vaksin hepatitis B selesai

PVST dapat dilakukan bila rangkaian vaksin hepatitis B mengalami keterlambatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hasil skrining HBsAg reaktif pada ibu hamil perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dan penanganan untuk mencegah penularan hepatitis B kepada bayi.
  • Who?
    Ibu hamil dengan HBsAg reaktif, dokter, bidan, fasilitas kesehatan, dan bayi yang akan lahir terlibat dalam penanganan ini.
  • Where?
    Pemeriksaan dan rujukan dilakukan di fasilitas kesehatan, termasuk fasilitas persalinan dan rumah sakit bila diperlukan.
  • When?
    Tindak lanjut dilakukan setelah hasil HBsAg reaktif dan tidak perlu menunggu sampai persalinan.
  • Why?
    Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi infeksi, menentukan penanganan, dan membantu mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi.
  • How?
    Ibu hamil berkonsultasi, menjalani pemeriksaan HBV DNA, memberi tahu fasilitas persalinan, serta memastikan bayi menerima vaksin, HBIg, dan pemeriksaan lanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mama yang hasil HBsAg-nya positif perlu pergi ke dokter. Dokter memeriksa jumlah virus di darah Mama. Tempat Mama melahirkan juga perlu tahu. Setelah bayi lahir, bayi mendapat vaksin hepatitis B dan HBIg. Saat bayi besar sedikit, bayi diperiksa lagi supaya tahu ia terlindungi atau tidak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penanganan hasil HBsAg reaktif memiliki langkah yang jelas, mulai dari konsultasi, pemeriksaan viral load, hingga persiapan di fasilitas persalinan. Perlindungan bayi juga dapat dilakukan melalui vaksin hepatitis B, HBIg, dan pemeriksaan setelah vaksinasi. Rangkaian ini membantu tenaga kesehatan menentukan kebutuhan ibu dan bayi secara terarah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Video seorang ibu hamil yang rutin berolahraga di gym menjadi perhatian di media sosial. Dalam video tersebut, Mama bernama Syipa Alpiani melalui akun Instagram @chipaa.__ memperlihatkan aktivitas olahraga selama kehamilan hingga momen setelah bayinya lahir.

Hal yang menarik perhatian adalah tangan bayi yang terlihat berisi dan tampak seperti memiliki otot. Momen tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, benarkah ibu hamil yang rajin angkat beban bisa melahirkan bayi dengan otot yang lebih kekar?

Pertanyaan ini turut dibahas oleh akun edukasi kesehatan @doktorgenetik. Dalam penjelasannya, olahraga selama kehamilan memang dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan janin. Namun, bukan berarti aktivitas angkat beban membuat bayi langsung memiliki otot kekar saat lahir.

Berikut Popmama.com rangkum faktanya.

1. Olahraga ibu hamil memang bisa memengaruhi perkembangan janin

Pexels/ Gustavo Fring

Akun @doktorgenetik menjelaskan bahwa aktivitas fisik selama kehamilan dapat memberikan pengaruh terhadap janin. Ia mengutip penelitian pada tikus yang menunjukkan bahwa induk yang aktif berolahraga selama hamil memiliki anak dengan performa olahraga, massa otot, dan karakteristik serabut otot yang berbeda dibandingkan anak dari induk yang tidak berolahraga.

“Olahraga waktu hamil memang sengaruh itu bahkan bisa sampai level ke DNA-nya anak kalian,” jelas akun Instagram @doktorgenetik.

Penelitian pada tikus memang menemukan bahwa olahraga maternal selama kehamilan dapat meningkatkan pembentukan mitokondria pada otot janin serta memengaruhi ekspresi gen yang berkaitan dengan fungsi otot, termasuk PGC-1α. Perubahan tersebut berkaitan dengan kemampuan otot menggunakan energi dan melakukan aktivitas fisik.

2. Ibu hamil yang rajin angkat beban tidak otomatis melahirkan bayi kekar

Pexels/Tima Miroshnichenko

Akun @doktorgenetik mengacu pada penelitian terhadap tikus yang menunjukkan olahraga selama kehamilan dapat memengaruhi kondisi otot anak setelah lahir. Namun, hasil penelitian pada hewan belum bisa disamakan dengan manusia sehingga ibu hamil yang rutin nge-gym tidak otomatis akan melahirkan bayi kekar.

Hal ini juga dijelaskan dr. Dion Haryadi melalui akun @dionharyadi. Ia mengutip penelitian terhadap 46 ibu hamil yang melakukan weight training dan menemukan bayi mereka sedikit lebih berat dan panjang. Namun, penelitian lain pada 160 ibu hamil menunjukkan ukuran bayi tidak jauh berbeda antara kelompok yang melakukan latihan beban dan yang tidak.

“Jadi sebenarnya kalau mau latihan beban ibu hamil dan berharap anaknya lahir auto kekar ya sebenarnya belum tentu,” jelas dr. Dion.

Menurutnya, manfaat olahraga selama kehamilan justru lebih terlihat pada kesehatan Mama. Meta-analisis menunjukkan olahraga dapat menurunkan risiko operasi caesar, sementara penelitian lain menemukan latihan beban berkaitan dengan risiko hipertensi, diabetes gestasional, gangguan suasana hati, dan bayi lahir terlalu besar yang lebih rendah.

Jadi, olahraga saat hamil bukan cara untuk membuat bayi lahir kekar. Manfaat utamanya justru membantu menjaga kesehatan Mama dan menurunkan risiko sejumlah komplikasi kehamilan.

3. Angkat beban saat hamil bukan berarti dilarang

Pexels/TUBARONES PHOTOGRAPHY

Ibu hamil dengan kehamilan yang sehat umumnya tetap dianjurkan aktif bergerak. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyebut aktivitas fisik selama kehamilan aman bagi sebagian besar ibu tanpa komplikasi medis atau obstetri.

ACOG juga menyebut ibu dengan kehamilan tanpa komplikasi dapat melakukan latihan aerobik maupun strength-conditioning atau latihan penguatan otot. Aktivitas fisik selama kehamilan juga tidak terbukti meningkatkan risiko keguguran atau kelahiran prematur pada kehamilan tanpa komplikasi.

Namun, aman bukan berarti semua jenis dan intensitas latihan cocok untuk setiap ibu hamil. Jenis olahraga dan beban perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, usia kehamilan, kebiasaan olahraga sebelum hamil, serta kondisi kehamilan masing-masing.

4. Ibu hamil dianjurkan aktif sekitar 150 menit per minggu

Pexels/Gustavo Fring

Untuk ibu hamil dengan kondisi yang memungkinkan berolahraga, ACOG merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu. Durasi tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sesi, misalnya 30 menit selama lima hari dalam seminggu.

Latihan kekuatan juga dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik selama kehamilan. Bahkan, tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan pada British Journal of Sports Medicine pada 2025 menemukan bahwa resistance training selama kehamilan berkaitan dengan sejumlah manfaat, termasuk penurunan peluang hipertensi gestasional, diabetes gestasional, gangguan suasana hati perinatal, dan bayi lahir dengan berat berlebih (macrosomia).

Meski begitu, penelitian mengenai dosis, beban, intensitas, dan progresi latihan beban yang paling tepat selama kehamilan masih terus berkembang. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak menjadikan rutinitas olahraga orang lain sebagai patokan untuk dirinya sendiri.

5. Jadi, apakah angkat beban saat hamil bikin bayi lahir kekar?

Freepik/Standert

Jawabannya, belum ada bukti bahwa rajin angkat beban saat hamil akan membuat bayi manusia lahir dengan otot kekar.

Video yang dibagikan Syipa Alpiani memang menarik jika dilihat dari kaitannya dengan penelitian tentang olahraga maternal dan perkembangan otot janin. Namun, penelitian yang menunjukkan perubahan massa atau karakteristik otot keturunan tersebut dilakukan pada hewan percobaan, sehingga belum dapat digunakan untuk memastikan efek yang sama pada bayi manusia.

Hal yang sudah lebih jelas, olahraga selama kehamilan dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan ibu dan kehamilan. Jadi, Mama tidak perlu berolahraga dengan tujuan membuat bayi lebih berotot. Fokus utamanya adalah menjaga kebugaran dan kesehatan selama kehamilan dengan jenis serta intensitas aktivitas yang sesuai.

Jika mama memiliki komplikasi kehamilan atau kondisi medis tertentu, konsultasikan terlebih dahulu jenis olahraga yang aman dengan dokter kandungan. ACOG juga menekankan pentingnya evaluasi medis sebelum menentukan program olahraga bagi ibu dengan kondisi kehamilan tertentu.

Itulah fakta mengenai angkat beban saat hamil dan kaitannya dengan kondisi otot bayi. Jadi, tangan bayi yang terlihat berisi setelah lahir tidak bisa langsung disimpulkan sebagai hasil dari kebiasaan ibu berolahraga selama kehamilan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article