- Usia ibu yang lebih tua saat hamil.
- Kehamilan yang berlangsung lebih dari 40 minggu.
- Robekan pada plasenta atau rahim.
- Kondisi preeklampsia atau eklampsia.
- Induksi persalinan atau persalinan yang berlangsung cepat dan kuat.
- Persalinan yang dibantu secara medis seperti penggunaan forceps atau vakum.
- Persalinan caesar atau riwayat persalinan caesar sebelumnya.
Trauma perut selama hamil.
Emboli Air Ketuban, Kondisi Langka Penyebab Kematian Ibu Melahirkan

- Emboli air ketuban adalah kondisi langka dan darurat obstetri yang terjadi saat cairan ketuban masuk ke sirkulasi darah ibu, memicu reaksi alergi berat hingga kegagalan organ.
- Kondisi ini bisa menutup pembuluh darah di jantung, paru, atau otak, menyebabkan gejala seperti serangan jantung, gagal napas, atau stroke secara mendadak.
- Meski sulit diprediksi dan dicegah, emboli air ketuban dapat terjadi pada siapa saja dengan risiko meningkat pada usia ibu tua, persalinan lama, preeklampsia, atau operasi caesar.
Saat persalinan, seorang ibu mengalami banyak perubahan dalam tubuhnya. Rahim dan panggul yang siap melahirkan bayi, hingga, tubuh yang menahan rasa sakit luar biasa selama proses persalinan tersebut.
Tak heran kalau persalinan disebut sebagai proses yang seperti meregang nyawa. Ternyata bukan karena sakitnya saja, tapi juga faktor risiko lainnya yang mungkin membuat seorang ibu kehilangan nyawa karena proses tersebut.
Salah satu kondisi yang bisa membuat seorang ibu berada di ambang kematian adalah emboli air ketuban. Seperti apa kondisi itu? dr Indra Tarigan, SpOG pun pernah menjelaskan saat menjadi tamu di podcast Raditya Dika, yang akan dijelaskan oleh Popmama.com.
Table of Content
1. Memahami emboli air ketuban

Emboli air ketuban adalah kegawatdaruratan obstetri yang tidak terduga dan sulit diprediksi. Ini adalah reaksi anafilaksis atau syok alergi yang sangat parah terhadap komponen cairan ketuban yang masuk ke sirkulasi darah ibu.
Reaksi ini menyebabkan gangguan fungsi jantung dan paru-paru secara mendadak. Pada akhirnya, hal ini bisa memicu kegagalan organ multisistem dan koagulopati, yaitu gangguan pembekuan darah yang menyebabkan perdarahan masif dan sulit dikontrol.
2. Dermis yang menutup organ tubuh

Lebih lanjut, dr Indra menjelaskan mengenai emboli air ketuban.
"Jadi emboli air ketuban, setelah bayi dan plasenta lahir, sebagian air ketuban ataupun dermis, atau bagian dari bayi masuk ke dalam pembuluh darah," ujarnya.
Bisa saja masuk ke jantung, paru-paru, atau otak.
"Kalau dia menutup pembuluh darah jantung, maka gejalanya seperti serangan jantung, kalau pada paru-paru itu gagal nafas, atau pada otak itu dia stroke," lanjutnya.
3. Bisa terjadi pada siapa saja

Menurut dr Indra, kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja dan bisa tetap terjadi meski kondisi persalinan dengan peralatan dan tenaga yang lengkap.
"Pertama, kita gak bakal tahu terjadi pada pasien yang mana, kedua, ini pasti akan terjadi suatu waktu pada pasien yang kita tangani. Hanya saja, kita gak tahu karena secara frekuensi terjadi saja," ungkap dr. Indra.
Meskipun demikian, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan terjadinya emboli air ketuban, yaitu:
4. Terjadi dengan begitu cepat

Dr. Indra menjelaskan kalau kondisi tersebut terjadi dengan sangat cepat.
"Yang paling mengerikannya, di tempat yang paling siap sekalipun, misal di ruang operasi itu kan ada alat kejut jantung, ada dokter anestesi, ada dokter spesialis sekalipun, sering kali pasien ini tetap berakhir dengan kematian atau kondisi cacat seumur hidup," ujarnya.
Jika memang seorang pasien mengalami emboli air ketuban, biasanya dokter akan melakukan tindakan seperti memberikan oksigen dan intubasi agar jalan napas tetap terbuka. lalu, memberikan cairan intravena dan obat-obatan vasopressor untuk menjaga tekanan darah tetap stabil dan mencegah syok.
Bisa juga melakukan transfusi darah untuk mengatasi perdarahan masif akibat koagulopati, serta memberikan obat-obatan untuk mendukung fungsi jantung, mengurangi peradangan, dan mengatasi reaksi alergi.
5. Komplikasi yang bisa terjadi

Pada ibu dengan kondisi emboli air ketuban, mungkin saja terjadi komplikasi seperti henti jantung dan kerusakan otak permanen akibat kekurangan oksigen. Lalu, gagal jantung dan gagal napas akut, pendarahan hebat yang sulit dihentikan, gagal ginjal akut, kerusakan organ multisistem, dan paling parah, berujung pada kematian.
Sayangnya, emboli air ketuban adalah kondisi yang tidak bisa diprediksi dan sangat sulit dicegah. Tidak ada metode skrining atau tindakan pencegahan yang terbukti efektif untuk menghindari hal tersebut.



















