Benarkah Melahirkan Anak Laki-Laki Meningkatkan Depresi Postpartum?

Cari tahu dulu yuk, Ma!

1 Desember 2018

Benarkah Melahirkan Anak Laki-Laki Meningkatkan Depresi Postpartum
Freepik

Ibu yang baru melahirkan anak laki-laki cenderung lebih tinggi terhadap tingkat depresi pasca melahirkan atau depresi postpartum (PPD) dibandingkan yang melahirkan anak perempuan.

Sebuah penelitian sudah dilakukan oleh para peneliti di University of Kent di Inggris melakukan survei penelitian terhadap 296 ibu hamil. 

Hasil yang menarik ditemukan bahwa melahirkan bayi laki-laki ternyata dapat meningkatkan depresi postpartum (PPD). Peningkatannya sekitar 71-79 persen lebih tinggi untuk seseorang yang melahirkan anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Selain itu, komplikasi selama persalinan juga meningkatkan risiko depresi postpartum sebesar 174 persen jika dibandingkan dengan persalinan tanpa memiliki komplikasi. 

Para peneliti mempelajari ini melalui survei bersama 296 perempuan. Survei ini meminta responden untuk melaporkan pengalamannya sendiri terhadap perasaan depresi setelah persalinan serta menjawab berbagai pertanyaan mengenai persalinan yang dilalui. 

“Informasi mengenai data penelitian ini dapat menunjukkan secara lengkap riwayat persalinan. Melalui pengalaman mereka, kami bisa melihat perbedaannya, ujar Sarah Myers, Ph.D., salah satu peneliti, dikutip dari Parents.

Para peneliti masih mencoba untuk memahami hubungan yang potensial antara kehamilan bayi laki-laki terhadap komplikasi yang dialaminya, sehingga mengarah pada peningkatan kemungkinan terjadinya depresi postpartum.

Mary Jane Minkin, M.D., seorang profesor klinis kebidanan, ginekologi, dan ilmu reproduksi di Universitas Yale, sependapat bahwa temuan ini

"Komplikasi kelahiran sendiri cukup traumatis, dan saya akan berpikir siapa saja yang telah melalui trauma yang signifikan akan berada pada risiko depresi yang lebih tinggi hanya dari trauma emosional yang dialaminya," ungkapnya. 

1. Mengenal depresi postpartum

1. Mengenal depresi postpartum
Freepik/Freepic.diller

Proses melahirkan memang tidaklah mudah, banyak sekali emosi yang terjadi saat masa-masa itu berlangsung. 

Perasaan takut dan gelisah menunggu persalinan hingga rasa bahagia saat proses yang terjadi membuat si Kecil terlahir selamat. Namun, ada juga yang merasakan depresi pasca melahirkan. 

Perlu Mama ketahui kalau depresi postpartum (PPD) bisa dikatakan sebagai masalah kesehatan mental. Biasanya secara umum depresi ini terjadi setelah pasca persalinan. Tidak hanya Mama saja yang dapat merasakan depresi postpartum, Papa sebagai kepala rumah tangga pun bisa mengalami hal serupa.  

Tanpa disadari depresi postpartum bisa tiba-tiba muncul dan berkembang dimulai pada awal-awal pasca persalinan. Sebenarnya ada 3 level yang bisa terjadi saat depresi pasca persalinan yaitu postpartum baby blues, depresi postpartum dan psikosis postpartum.

Baca juga: Jangan Salah, Ini Perbedaan Depresi Postpartum dan Baby Blues!

Baca juga: Meira Anastasia, Istri Ernest Prakasa Curhat Soal Depresi Postpartum

Editors' Picks

2. Gejala depresi postpartum

2. Gejala depresi postpartum
Freepik

Setiap depresi tentu memiliki gejala, begitu pun dengan depresi postpartum. Walau beberapa gejala atau tandanya mirip seperti postpartum baby blues, namun depresi postpartum durasi waktunya lebih lama terjadi. 

Gejalanya bisa muncul dan dirasakan langsung dalam beberapa minggu pertama setelah persalinan. Beberapa gejala yang muncul di antaranya seperti: 

  • Kesulitan terhubung atau merasa nyaman dengan bayi
  • Rasa lelah yang berlebihan hingga tidak bertenaga
  • Kurang bersemangat dalam menjalani rutinitas keseharian
  • Merasa kurang bisa menjadi orangtua yang baik
  • Sulit berkonsentrasi dan berpikiran jernih

Selain itu ada beberapa gejala lain yang perlu Mama pahami saat depresi postpartum berlangsung. Bahkan kondisinya bisa sampai menyakiti diri sendiri dan si Kecil. 

  • Sulit tertidur

Banyak pikiran membuat seseorang yang terkena depresi postpartum sulit tidur dengan nyenyak. Padahal sepanjang malam si Kecil sudah tertidur lelap. Di antara mereka seolah tersiksa dengan pemikiran-pemikiran yang mengganggu. 

Kondisi seperti ini bisa sangat membuat tidak nyaman karena dapat membuat Mama sakit. Selain itu, rutinitas baru sebagai orangtua pun tidak bisa dikerjakan dengan baik karena kesulitan untuk fokus. 

  • Mudah merasa sedih dan gelisah

Mudah menangis, gelisah dan mulai stres dalam jumlah yang masih sedang. Ini masih bisa dikatakan sebagai fase baby blues. Namun, tanda terjadinya depresi postpartum yaitu bila sudah melebihi batas normal dan biasanya akan berdampak pada kehidupan sehari-hari. 

Kesedihan dan kegelisahan ini biasanya muncul karena dihantui pemikiran negatif. Di antaranya banyak yang takut tidak bisa menjadi Mama yang baik untuk anak-anaknya kelak. Bahkan ada yang merasa belum bisa mencukupi setiap kebutuhan dari anaknya dengan baik. 

  • Mengalami perubahan mood 

Ketidakstabilan emosi yang memicu perubahan mood yang ekstrim bisa menjadi salah satu tanda dari depresi postpartum. Mama bisa saja tiba-tiba merasa bahagia, namun berubah menjadi rasa kesal dengan emosi yang meledak-ledak. 

Perubahan mood seperti ini seolah tidak bisa dikontrol dan keluar begitu saja. Hati-hati ya, Ma! 

  • Tidak bisa menentukan suatu pilihan

Kegelisahan yang dirasakan saat depresi postpartum dapat membuat Mama tidak bisa menentukan pilihan dengan baik. Hal ini semakin dirasakan saat harus menentukan pilihan yang berhubungan dengan si Kecil.
 
Seolah pilihan yang menyangkut si Kecil begitu menakutkan dan membuat diri sendiri merasa bersalah. Rasa khawatir yang berkepanjangan ini membuat dirinya merasa takut bila harus mengasuh si Kecil sendirian.  

  • Mulai dari pemikiran untuk menyakiti anak dan diri sendiri 

Jika Mama melihat banyaknya kasus orangtua yang tega menyakiti bayi atau anaknya sendiri bisa jadi ini dikarenakan depresi postpartum. Kasus bayi ditendang, dilempar bahkan dibunuh menjadi salah satu bentuk nyata dari pemikiran dari menyakiti anak sendiri. 

Bila Mama sudah mulai merasa ingin menyakiti diri sendiri atau si Kecil, ada baiknya dicegah dengan menceritakan hal ini ke orang lain. Dengan begitu ada penanganan lebih lanjut agar hal ini bisa segera diatasi. 

Jangan sampai keselamatan si Kecil terancam akibat perbuatan orangtuanya sendiri. 

Semoga beberapa penjelasan mengenai depresi postpartum bisa berguna ya, Ma! 

Baca juga: Tak Hanya Istri, Suami Juga Bisa Terkena Depresi Pasca Persalinan

Topic: