Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketuban Pecah tapi Belum Kontraksi, Harus Segera ke Rumah Sakit, Ya!
Pexels.com/lucas mendes
  • Ketuban pecah sebelum persalinan dimulai dan sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut Ketuban Pecah Dini (KPD).
  • KPD dapat terjadi saat ibu belum merasakan mulas atau kontraksi, sehingga kondisi ini tidak boleh dianggap enteng.
  • Ibu yang mengalami ketuban pecah tanpa kontraksi diminta segera pergi ke rumah sakit karena berpotensi berbahaya bagi ibu dan janin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tiba-tiba Mama merasakan pecah ketuban padahal belum mulas sama sekali. Wah, jangan ditunda ya, Ma. Segera ke rumah sakit sekarang juga!

Kondisi tersebut dinamakan Ketuban Pecah Dini (KPD) yang adalah pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan dimulai dan terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Jika mendapati kondisi ini, jangan anggap enteng karena bisa berbahaya bagi ibu dan janin. 

Seperti apa sebenarnya kondisi KPD dan apa yang harus segera dilakukan? Popmama.com akan menjabarkannya untuk Mama. 

1. Mengenal ketuban pecah dini

Pexels.com/Amina Filkins

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan dimulai dan terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Istilah ini juga digunakan ketika air ketuban pecah atau merembes tanpa disertai kontraksi persalinan, bahkan pada usia kehamilan cukup bulan. 

Kenapa hal ini berbahaya? Karena cairan ketuban memiliki peran vital sebagai bantalan pelindung bagi janin dan membantu perkembangan paru-parunya. Jika selaput ini pecah, cairan ketuban dapat keluar dari vagina dan menjadi jalur bakteri ke dalam rahim. Kondisi ini bisa berujung menjadi infeksi serius. 

2. Ciri-ciri pecah ketuban tanpa mules

Pexels.com/Dre Newsome

Tidak semua ibu bisa mengalami pecah ketuban dan disadarinya. Ada beberapa kondisi seorang ibu tidak merasakan pecah ketuban dan hanya mengira itu hanya keputihan biasa. 

Untuk itu, penting sekali untuk mengenali gejala pecah ketuban, terutama yang tanpa mules. Pertama, jika cairan bisa keluar tiba-tiba dari vagina dalam jumlah banyak, atau merembes sedikit namun terus-menerus. 

Lalu, warna ketuban yang biasanya berwarna bening atau kekuningan pucat, kadang disertai dengan bercak darah. Baunya pun khas, sedikit manis dan tidak seperti bau amonia pada urin. Jika warnanya kehijauan, kecoklatan, atau berbau busuk, maka ini bisa jadi tanda infeksi atau gawat janin. 

Berbeda dengan urine, keluarnya cairan ketuban tidak dapat dikendalikan atau ditahan. Cairan akan terus keluar meskipun mencoba mengencangkan otot panggul.

3. Risiko yang mungkin terjadi

Pexels.com/Hannah Barata

Jika mengalami KPD, kamu bisa mengalami beberapa risiko, seperti infeksi. Infeksi merupakan risiko yang paling utama karena selaput pelindung janin yang tidak utuh membuka jalan bagi bakteri dari vagina untuk masuk ke dalam rahim. 

Tanpa adanya kontraksi yang kuat, proses persalinan bisa berlangsung lebih lama atau bahkan macet. Ini dapat meningkatkan kebutuhan akan intervensi medis seperti induksi persalinan atau caesar. 

Berkurangnya volume air ketuban bisa membahayakan janin. Air ketuban berfungsi melindungi janin dari tekanan dinding rahim, membantu perkembangan paru-paru, dan memungkinkan janin bergerak bebas. Kekurangan air ketuban bisa menyebabkan kompresi tali pusat, kelainan bentuk tubuh janin, atau perkembangan paru-paru. 

4. Apa yang harus dilakukan?

Pexels.com/PARINDRA SHAAN

Jika mengalami pecah ketuban tapi tidak mules, maka kamu perlu langsung ke fasilitas kesehatan, bisa ke bidan atau IGD. Nanti tim medis akan memastikan apakah cairan tersebut benar-benar cairan ketuban dan mengevaluasi janin. 

Untuk memantau cairan, maka kamu bisa memasang pembalut wanita untuk menampung cairan yang keluar. Ini membantu untuk memantau warna, jumlah, dan bau cairan yang akan menjadi informasi penting untuk tenaga medis. 

Meski penasaran, namun jangan pernah memasukkan apapun ke vagina karena bisa memperkenalkan bakteri ke dalam rahim dan memicu infeksi. 

Jika usia janin masih sangat muda, maka sebisa mungkin batasi aktivitas fisik dan lakukan bedrest. 

5. Penanganan medis yang bisa dilakukan

Magnific.com/wavebreakmedia_micro

Setelah sampai di fasilitas kesehatan, nantinya tim medis akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan penanganan terbaik. Dokter akan memeriksa untuk memastikan pecahnya ketuban melalui pemeriksaan fisik dan tes khusus. Nanti, ada pemantauan detak jantung janin dan USG juga akan dilakukan untuk menilai kondisi janin dan volume cairan ketuban. 

Jika usia kehamilan sudah cukup bulan (lebih dari 37 minggu) dan kontraksi tidak muncul secara alami, mungkin akan dilakukan induksi persalinan. Induksi ini akan bermanfaat untuk merangsang kontraksi rahim dan mempercepat proses persalinan sehingga mengurangi risiko infeksi yang berkepanjangan. 

Untuk mencegah infeksi pada ibu dan janin, dokter biasanya akan memberikan antibiotik Sedangkan jika KPD terjadi pada usia kehamilan yang masih jauh dari cukup bulan (preterm) dan kondisi ibu serta janin stabil tanpa tanda infeksi, dokter mungkin akan memilih untuk melakukan menyarankan untuk dirawat di rumah sakit untuk observasi ketat, pemberian kortikosteroid untuk mematangkan paru-paru janin, dan antibiotik untuk memperpanjang usia kehamilan selama mungkin sampai janin siap dilahirkan. 

Jadi, jika mengalami hal ini, jangan tunda untuk datang ke fasilitas kesehatan, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article