"Ketika Mama menyodorkan payudara seperti biasanya, bayi seolah berkata, 'Aku tidak mau hanya menyusu. Aku ingin melihat apa yang sedang terjadi di dunia sekitarku,'" ungkap seorang konsultan laktasi yang diwawancarai UNICEF.
Krisis Menyusui Bayi Usia 3 Bulan, UNICEF Jelaskan Penyebabnya

- Krisis menyusui usia tiga bulan adalah fase normal ketika bayi menjadi lebih rewel, mudah terdistraksi, atau sering menyusu karena perkembangan dan peningkatan rasa ingin tahu terhadap lingkungan.
- Perubahan seperti payudara terasa lebih lembut atau ASI tidak lagi bocor bukan tanda produksi menurun, melainkan tubuh Mama mulai menyesuaikan ritme produksi sesuai kebutuhan bayi.
- UNICEF menegaskan bahwa selama berat badan dan tumbuh kembang bayi baik, perubahan perilaku menyusu tidak perlu dikhawatirkan dan dapat diatasi dengan tetap menyusui serta berkonsultasi bila diperlukan.
Menyusui sering kali menjadi perjalanan yang penuh pembelajaran bagi setiap Mama. Setelah berhasil melewati berbagai tantangan pada minggu-minggu awal setelah melahirkan, sebagian ibu mungkin merasa proses menyusui mulai berjalan lebih lancar dan nyaman.
Namun, kondisi tersebut bisa berubah ketika si Kecil memasuki usia sekitar tiga bulan. Tidak sedikit Mama yang mulai merasa cemas karena bayi tiba-tiba lebih rewel saat menyusu, sering melepas pelekatan, atau tampak tidak lagi menikmati sesi menyusu seperti sebelumnya.
Padahal, melansir UNICEF, perubahan tersebut sering kali merupakan bagian normal dari perkembangan bayi. Fenomena ini dikenal sebagai three-month breastfeeding crisis atau krisis menyusui usia 3 bulan. Meski sering membuat Mama khawatir produksi ASI mulai berkurang, para ahli menegaskan bahwa hal tersebut belum tentu menjadi penyebabnya.
Lalu, apa saja tanda-tanda krisis menyusui usia 3 bulan yang perlu Mama ketahui? Berikut Popmama.com telah merangkum informasinya berdasarkan penjelasan UNICEF.
Table of Content
1. Bayi tiba-tiba rewel saat menyusu

Salah satu tanda yang paling sering membuat Mama khawatir adalah ketika bayi mendadak menjadi lebih rewel saat menyusu. Si Kecil, yang sebelumnya menyusu dengan tenang, bisa tiba-tiba menangis, terlihat tidak nyaman, atau sering melepas dan memasang kembali pelekatan saat berada di payudara.
Perubahan perilaku ini sering membuat Mama berpikir ada sesuatu yang salah dengan proses menyusui. Apalagi jika kondisi tersebut terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung selama beberapa hari, tidak sedikit ibu yang mulai mempertanyakan apakah produksi ASI mereka masih mencukupi kebutuhan bayi.
Melansir UNICEF, perilaku tersebut merupakan salah satu tanda yang cukup umum terjadi saat bayi memasuki usia sekitar tiga bulan. Pada fase ini, bayi sedang mengalami berbagai perkembangan baru yang dapat memengaruhi kebiasaan menyusunya.
Meski membuat cemas, kondisi ini belum tentu menandakan adanya masalah pada produksi ASI. Jika berat badan bayi tetap bertambah dengan baik dan tumbuh kembangnya sesuai usia, perubahan perilaku saat menyusu umumnya merupakan bagian normal dari proses perkembangan si Kecil.
2. Si Kecil menjadi lebih mudah terdistraksi saat menyusu

Jika sebelumnya bayi bisa menyusu dengan fokus tanpa terganggu apa pun, kini ia mungkin lebih sering menoleh ke berbagai arah, memperhatikan suara tertentu, atau berhenti menyusu karena tertarik dengan aktivitas di sekitarnya. Perubahan ini sering membuat Mama mengira si Kecil mulai menolak menyusu.
Menurut para ahli yang dikutip UNICEF, bayi usia tiga bulan mulai lebih sadar terhadap lingkungan di sekelilingnya. Rasa ingin tahu yang berkembang membuat mereka lebih tertarik pada berbagai hal baru yang sebelumnya tidak terlalu menarik perhatian mereka.
Oleh karena itu, bayi yang tampak tidak fokus saat menyusu belum tentu sedang menolak ASI. Bisa jadi, ia hanya sedang berada dalam fase perkembangan yang membuat rasa penasarannya semakin besar terhadap dunia di sekelilingnya.
3. Bayi jadi lebih sering menyusu dari biasanya

Sebagian Mama juga mungkin merasa si Kecil tiba-tiba lebih sering meminta ASI dibandingkan biasanya. Bayi bisa menyusu berkali-kali dalam waktu yang berdekatan sehingga membuat Mama khawatir ASI yang dimiliki tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Melansir UNICEF, kondisi tersebut sering kali berkaitan dengan cluster feeding, yaitu periode ketika bayi menyusu lebih sering untuk membantu merangsang produksi ASI. Pola ini biasanya muncul menjelang atau selama masa growth spurt atau percepatan pertumbuhan yang cukup umum terjadi saat bayi berusia tiga bulan.
"Bayi juga mulai menyusu jauh lebih sering pada waktu-waktu tertentu untuk merangsang produksi ASI yang lebih banyak," jelas Helen Ball, Direktur Durham Infancy & Sleep Centre di Inggris.
Meski terasa melelahkan, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan bayi. Jadi, semakin sering si Kecil meminta menyusu belum tentu berarti ASI Mama berkurang, melainkan bisa menjadi tanda bahwa kebutuhan nutrisinya sedang meningkat seiring pertumbuhannya.
4. Payudara terasa lebih lembut dan tidak lagi sering bocor

Saat awal menyusui, banyak Mama merasakan payudara yang penuh, kencang, bahkan sering mengalami kebocoran ASI. Namun, ketika bayi memasuki usia sekitar tiga bulan, kondisi tersebut biasanya mulai berkurang sehingga membuat sebagian ibu merasa khawatir.
Perubahan ini kerap dianggap sebagai tanda bahwa produksi ASI mulai menurun. Padahal, menurut para konsultan laktasi yang dikutip UNICEF, payudara yang terasa lebih lembut belum tentu menunjukkan bahwa jumlah ASI yang diproduksi semakin sedikit.
UNICEF menjelaskan bahwa banyak tanda yang selama ini dianggap sebagai bukti berkurangnya produksi ASI sebenarnya tidak selalu menunjukkan adanya masalah pada pasokan ASI. Seiring waktu, tubuh Mama akan belajar menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi yang terus berkembang.
Oleh karena itu, payudara yang tidak lagi terasa penuh atau ASI yang lebih jarang bocor justru bisa menjadi tanda bahwa tubuh telah menemukan ritme produksi ASI yang lebih stabil dan efisien. Kondisi ini umumnya merupakan bagian normal dari proses menyusui yang sedang berlangsung.
5. Mama mulai khawatir produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi

Perubahan perilaku bayi dan perubahan pada payudara sering kali membuat Mama kehilangan kepercayaan diri saat menyusui. Tidak sedikit ibu yang langsung berpikir bahwa produksi ASI mereka menurun dan mulai mempertimbangkan pemberian susu formula sebagai solusi.
Menurut UNICEF, kekhawatiran tersebut merupakan salah satu hal yang paling sering terjadi saat krisis menyusui usia tiga bulan. Padahal, banyak perubahan yang dialami bayi pada fase ini sebenarnya lebih berkaitan dengan perkembangan normal daripada masalah produksi ASI.
"Bayi mungkin rewel sepanjang pagi, tidak mau menyusu, bahkan memukul-mukul saat berada di payudara. Lalu Mama langsung berpikir, 'Ya Tuhan, ada apa? Produksi ASI-ku hilang. Aku harus memberikan susu botol,'" ujar konsultan laktasi Cathy Hinge, seperti dikutip UNICEF.
Nah, para ahli mengingatkan agar Mama tidak terburu-buru mengambil kesimpulan ketika si Kecil menunjukkan perubahan perilaku menyusu. Jika berat badan bayi bertambah dengan baik, kondisi kesehatannya baik, dan tumbuh kembangnya sesuai usia, maka fase ini biasanya bukan keadaan darurat. Tetap menyusui sesuai kebutuhan bayi dan berkonsultasi dengan konsultan laktasi jika diperlukan dapat membantu Mama melewati fase ini dengan lebih tenang.
Krisis menyusui usia tiga bulan memang bisa menjadi fase yang membingungkan bagi banyak Mama. Namun, memahami perubahan yang terjadi pada diri sendiri maupun si Kecil dapat membantu Mama menjalani fase ini dengan lebih percaya diri.
Jadi yang perlu diingat, perubahan perilaku menyusu tidak selalu berarti produksi ASI berkurang. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut justru merupakan bagian normal dari perkembangan bayi yang sedang tumbuh dan belajar mengenal dunia di sekitarnya.
Apakah Mama pernah mengalami perubahan pola menyusui saat si Kecil berusia sekitar 3 bulan? Bagaimana cara Mama menghadapinya?









-sIvplQDNrk4jr2cBBYoFzPEjJidBueDs.jpg)








