Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Emboli Paru pada Ibu Baru: Kondisi Medis Darurat Ibu Nifas
Popmama.com/Erica Santoso/AI
  • Emboli paru adalah sumbatan bekuan darah di paru yang mengganggu oksigen dan dapat mengancam nyawa ibu nifas; risikonya meningkat hingga 20 kali, terutama tiga minggu pertama setelah melahirkan.

  • Kehamilan dan persalinan memperlambat aliran darah serta meningkatkan pembekuan; risiko bertambah pada operasi caesar, imobilisasi, pendarahan pascapersalinan, obesitas, hipertensi, autoimun, usia di atas 35 tahun, dan kehamilan kembar.

  • Waspadai bengkak atau nyeri pada satu kaki, nyeri panggul, serta sesak napas atau ketidaknyamanan dada mendadak; kondisi terkonfirmasi ditangani dengan antikoagulan LMWH yang aman untuk menyusui.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masa nifas seyogianya menjadi momen membahagiakan untuk mengasihi dan merawat si Kecil. Namun, proses pemulihan fisik pascapersalinan kerap menyimpan risiko komplikasi medis yang datang tanpa disadari.

Salah satu kondisi kritis yang patut diwaspadai adalah emboli paru atau sumbatan pembuluh darah di paru-paru. Gangguan ini tergolong sebagai keadaan darurat medis yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu baru.

Ingin memahami bahaya serta penanganan kondisi ini secara lebih mendalam? Berikut Popmama.com bagikan fakta mengenai emboli paru pada ibu nifas yang wajib diwaspadai!

1. Mengenal ancaman sumbatan bekuan darah di organ paru

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Emboli paru terjadi ketika gumpalan darah dari area pembuluh vena berpindah dan menyumbat aliran darah utama di dalam paru-paru. Kondisi ini memicu gangguan sirkulasi oksigen yang berpotensi menyebabkan kerusakan organ secara permanen.

Melansir riset Louise E. Simcox dkk. (2015), risiko penumpukan gumpalan darah ini meningkat hingga 20 kali lipat setelah melahirkan.

Kenaikan risiko komplikasi vascular tersebut paling rentan dialami ibu baru pada rentang tiga minggu pertama masa nifas.

2. Memahami pemicu utama peningkatan risiko pembekuan darah

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Selama proses kehamilan hingga persalinan, tubuh mama secara alami mengubah mekanisme pembekuan darah sebagai perlindungan dari pendarahan. Laju aliran darah di daerah panggul juga melambat akibat tekanan rahim yang membesar.

Tindakan persalinan melalui operasi caesar maupun bantuan alat juga berpotensi memicu trauma kecil pada dinding pembuluh darah.

Kombinasi antara aliran darah lambat dan darah yang mudah membeku inilah yang memicu munculnya sumbatan vena.

3. Mengidentifikasi berbagai faktor risiko pemicu komplikasi

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Risiko emboli paru cenderung meningkat pada Mama yang memiliki riwayat medis tertentu seperti penyakit autoimun, obesitas, atau hipertensi. Usia melahirkan di atas 35 tahun serta kehamilan kembar juga turut memperbesar peluang munculnya komplikasi.

Selain itu, prosedur operasi caesar, pendarahan hebat pascapersalinan, hingga kurangnya pergerakan fisik saat pemulihan bisa menjadi pemicu tambahan.

Mama yang menjalani proses rawat inap lama pascapersalinan pun diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala ini.

4. Waspadai gejala spesifik dari pembengkakan hingga sesak napas

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Indikasi awal sumbatan darah kerap ditandai dengan pembengkakan dan rasa nyeri mendadak yang terisolasi pada salah satu sisi kaki. Rasa sakit di area panggul juga bisa muncul apabila bekuan darah mulai menyebar ke saluran vena internal.

Jika gumpalan darah tersebut berpindah ke organ dada, Mama akan merasakan sesak napas mendadak yang terasa sangat berat.

Gejala ketidaknyamanan pada dada ini wajib segera mendapatkan penanganan medis darurat di unit gawat darurat.

5. Penanganan medis aman menggunakan terapi antikoagulan

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Diagnosis emboli paru dilakukan melalui serangkaian tes khusus seperti analisis gas darah, rekaman EKG, hingga pemindaian paru. Setelah terkonfirmasi, dokter akan memberikan terapi obat pengencer darah jenis Low Molecular Weight Heparin (LMWH).

Pengobatan antikoagulan ini umumnya diberikan selama minimal tiga bulan hingga enam minggu setelah melahirkan secara berkala.

Obat pengencer darah ini terbukti sangat aman bagi ibu menyusui karena tidak akan terserap ke dalam ASI.

Menjaga kewaspadaan terhadap sinyal tubuh merupakan langkah bijak untuk melindungi diri selama menjalani masa nifas. Segera konsultasikan ke dokter apabila Mama merasakan keluhan fisik yang mencurigakan ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article