“Betul, Ma. Tapi sekarang ternyata kita dapat informasi tentang risikonya. Aku dan suami juga berusaha pilih yang paling aman buat cucu mama…”
Cara Menanggapi Nasihat Jadul soal Kehamilan Tanpa Harus Berdebat

Ibu hamil disarankan mengakui pengalaman orangtua, lalu menyampaikan keputusan kesehatan secara tenang tanpa terjebak perdebatan antargenerasi.
Penjelasan dapat diarahkan pada alternatif konkret, satu sumber kesehatan tepercaya, atau konsultasi bersama dokter agar keluarga memahami alasan medis secara langsung.
Jika ada kekhawatiran biaya atau percakapan memanas, cari solusi layanan kesehatan, gali kekhawatiran mereka, dan tetap tegas menetapkan batasan demi keselamatan ibu serta bayi.
Selama kehamilan, beberapa ibu hamil mungkin sering menerima berbagai nasihat dari orangtua atau anggota keluarga. Mulai dari pantangan makanan, kebiasaan sehari-hari, hingga mitos seputar kondisi janin.
Meski sebagian nasihat tersebut diberikan karena rasa sayang dan kepedulian, tidak semuanya sesuai dengan penjelasan medis. Perbedaan pemahaman antargenerasi ini pun terkadang membuat Mama bingung harus merespons seperti apa, terlebih jika tidak ingin menyinggung perasaan orangtua.
Nah, untuk itu, kali ini Popmama.com telah merangkum cara menanggapi nasihat jadul soal kehamilan tanpa harus berdebat berdasarkan penjelasan dr. Yusfa Rasyid Sp.OG., mengutip dari Intsagram pribadinya, @yusfarasyid.
Seperti apa informasi selengkapnya? Yuk, simak, Ma!
1. Jangan masuk ke jebakan “zaman siapa yang lebih benar?”

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Perbedaan pola asuh dan pemahaman tentang kehamilan antargenerasi terkadang membuat orangtua membandingkan pengalaman mereka dahulu dengan kondisi sekarang. Misalnya, ketika orangtua mengatakan, “Dulu kamu juga dikasih itu!”
Dalam situasi seperti ini, Mama tidak perlu sibuk membuktikan bahwa cara atau pengetahuan zaman sekarang lebih baik atau maju daripada zaman dahulu. Sebaliknya, cobalah mengakui pengalaman orangtua terlebih dahulu, kemudian sampaikan alasan mengapa kini ada pertimbangan yang berbeda.
dr. Yusfa menyarankan Mama bisa menjawab dengan tenang dengan kalimat:
Dengan begitu, percakapan tidak berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang lebih benar. Mama tetap bisa menyampaikan keputusan yang diambil bersama pasangan tanpa membuat orangtua merasa pengalaman mereka diabaikan.
2. Ubah debat menjadi keputusan yang konkret

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Saat menerima nasihat yang kurang sesuai dengan kondisi medis, Mama sebaiknya tidak hanya membantah atau mengatakan bahwa hal tersebut dilarang oleh dokter. Cobalah jelaskan langkah yang akan dilakukan sebagai alternatif agar orangtua memahami alasan di balik keputusan tersebut, Ma.
Misalnya, ketika orangtua melarang Mama mengonsumsi obat apa pun selama kehamilan, Mama bisa menjelaskan bahwa tidak semua obat dilarang, tetapi pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kehamilan dan rekomendasi dari dokter.
Mama bisa merespons dengan mengatakan:
“Kita cek dulu obat mana yang cocok untuk ibu hamil, ya, Ma. Karena nggak semua obat dilarang, tapi kita juga nggak boleh asal pilih.”
Dengan memberikan alternatif yang jelas, orangtua mungkin bisa lebih memahami bahwa keputusan tersebut bukan sekadar menolak nasihat mereka. Mama juga tetap menunjukkan bahwa keselamatan diri dan si Kecil menjadi pertimbangan utama.
3. Jangan kirim beberapa artikel sekaligus

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Membagikan terlalu banyak artikel atau tautan informasi dari media sosial sekaligus belum tentu membuat orangtua lebih mudah memahami suatu penjelasan, Ma. Justru, informasi yang terlalu banyak bisa membuat mereka bingung atau bahkan merasa sedang digurui.
Sebaiknya, pilih satu sumber kesehatan terpercaya yang relevan dengan nasihat tersebut. Kemudian, sampaikan inti informasinya menggunakan bahasa sederhana agar lebih mudah dipahami.
Misalnya, ketika membahas pemberian makanan atau minuman selain ASI kepada bayi di bawah usia 6 bulan, Mama bisa mengatakan:
“Ma, ini penjelasan dari sumber kesehatan terpercaya tentang kenapa bayi di bawah 6 bulan nggak boleh dikasih makanan atau minuman selain ASI. Kita baca bareng, yuk,”
Cara ini bisa membuat percakapan terasa lebih santai karena Mama tidak sekadar menyalahkan pemahaman orangtua, tetapi juga mengajak mereka mempelajari informasi kesehatan bersama.
4. Ajak orangtua saat sedang konsultasi dengan dokter

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Tidak memiliki media sosial bukan berarti orangtua tidak mau belajar atau menerima informasi baru, Ma. Bisa jadi, mereka memang belum memiliki akses terhadap informasi kesehatan terbaru sehingga masih berpegang pada pengetahuan yang didapat sejak dahulu.
Untuk itu, Mama bisa mengajak orangtua menemani saat pemeriksaan kehamilan atau konsultasi dengan bidan dan dokter. Dengan begitu, mereka berkesempatan mendengarkan penjelasan medis secara langsung dan memahami alasan di balik keputusan yang Mama ambil selama kehamilan.
Mama bisa mengajaknya dengan mengatakan:
“Ma, nanti kita tanya dokter bareng-bareng, ya. Biar Mama juga bisa dengar penjelasannya langsung.”
Cara ini dapat membantu mengurangi kesalahpahaman karena informasi tidak hanya disampaikan oleh Mama, tetapi juga dijelaskan langsung oleh tenaga kesehatan. Orangtua pun bisa bertanya mengenai hal-hal yang selama ini masih mereka percayai.
5. Cari jalan keluar jika permasalahannya adalah tentang biaya

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Terkadang, nasihat orangtua untuk menghindari pemeriksaan medis bukan karena mereka tidak peduli pada kesehatan mama. Tapi bisa jadi, mereka justru khawatir dengan biaya pengobatan yang perlu dikeluarkan, Ma.
Dalam situasi seperti ini, cobalah memahami kekhawatiran mereka sekaligus menawarkan solusi yang lebih memungkinkan. Misalnya, dengan mencari tahu apakah pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas atau menggunakan BPJS Kesehatan.
dr. Yusfa menyarankan Mama bisa menyampaikan:
“Aku paham, Ma, berobat memang perlu biaya. Kita cek dulu apakah bisa ke puskesmas atau menggunakan BPJS. Yang penting, kita tahu dulu kondisi ibu dan bayinya.”
Meski begitu, jika muncul tanda bahaya selama kehamilan, jangan menunda mencari pertolongan medis hanya karena ingin mencoba pengobatan tradisional terlebih dahulu. Keselamatan Mama dan si Kecil tetap perlu menjadi prioritas.
6. Tanya apa yang sebenarnya mereka khawatirkan

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Di balik nasihat yang terkadang terdengar memaksa, bisa jadi ada kekhawatiran tertentu yang ingin disampaikan orangtua. Misalnya, mereka takut bayi kelaparan, ibu hamil kurang sehat, atau proses persalinan nantinya mengalami kesulitan.
Daripada langsung membantah, cobalah mencari tahu apa yang sebenarnya membuat orangtua merasa khawatir. Mama bisa menanyakan alasan di balik nasihat tersebut agar lebih memahami sudut pandang mereka.
Setelah mengetahui kekhawatiran yang mendasarinya, Mama bisa memberikan penjelasan yang lebih sesuai dengan masalah tersebut. Dengan begitu, percakapan tidak hanya berputar pada perdebatan mengenai tradisi, tetapi juga membantu menemukan pemahaman bersama.
7. Berhenti berdebat jika orangtua tidak mau kalah

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Mama, tidak semua perbedaan pendapat harus diselesaikan saat itu juga. Jika penjelasan yang Mama sampaikan terus-menerus dibantah dan percakapan mulai memanas, tidak perlu memaksakan diri untuk mengulang argumen yang sama.
Cobalah merespons dengan tenang tanpa harus menyetujui nasihat yang diberikan. Misalnya, Mama bisa mengatakan:
“Iya, Ma. Aku sudah dengar pendapat Mama. Makasih sudah mengingatkan. Biar aku pertimbangkan, ya.”
Mama tetap boleh mengakhiri percakapan tanpa berjanji akan mengikuti saran tersebut. Sebab, berhenti berdebat bukan berarti harus mengalah atau mengabaikan keputusan yang sudah dipertimbangkan bersama pasangan dan tenaga kesehatan.
8. Jangan berbohong dan tetap tegas menyampaikan batasan

Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI Terkadang, Mama mungkin tergoda untuk mengatakan, “Sudah aku kasih, kok,” padahal sebenarnya belum dilakukan. Kebohongan kecil seperti ini mungkin terasa menjadi jalan pintas agar orangtua berhenti mendesak, tetapi hal ini justru bisa merusak kepercayaan di kemudian hari, Ma.
Selain itu, orangtua mungkin akan terus mengulangi praktik serupa karena mengira cara tersebut memang sudah dilakukan dan tidak menimbulkan masalah.
Nah, daripada Mama berpura-pura mengikuti nasihatnya, cobalah sampaikan batasan dengan tetap sopan. Misalnya dengan kalimat:
“Ma, aku tahu Mama ingin yang terbaik, tapi untuk yang ini, kami sudah punya pertimbangan sendiri.”
Jika menyangkut keselamatan mama dan si Kecil, penting juga untuk menyampaikan batasan secara jelas dan memastikan semua orang yang ikut mengasuh bayi atau mendampingi kehamilan memahami serta mematuhinya.
Pada akhirnya, tujuan dari percakapan ini bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan menjaga kesehatan ibu dan bayi. Mama tetap bisa menghormati pengalaman orangtua tanpa harus mengikuti semua nasihatnya, terutama jika tidak sesuai dengan anjuran medis.
“Ingat, menghormati orang tua bukan berarti harus menyetujui semua pendapatnya. Kita bisa tetap santun sekaligus bertanggung jawab atas keputusan kesehatan keluarga,” tulis dr. Yusfa dalam unggahannya.
Itu dia informasi mengenai cara menanggapi nasihat jadul soal kehamilan tanpa harus berdebat menurut dokter. Jika diskusi tidak menghasilkan kesepakatan, Mama boleh mengakhiri percakapan, tetap tenang, dan mengambil keputusan berdasarkan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan, ya, Ma.
Semoga informasi ini bermanfaat!





















