Postpartum hemorrhage adalah kondisi medis darurat saat Mama kehilangan darah secara berlebihan setelah melahirkan. Perdarahan dikategorikan PPH jika volume darah yang keluar lebih dari 1 liter.
Mengenal Postpartum Hemorrhage atau Perdarahan setelah Melahirkan

- Postpartum hemorrhage adalah perdarahan hebat lebih dari 1 liter setelah melahirkan yang dapat mengancam nyawa karena menurunkan tekanan darah dan mengganggu aliran oksigen ke organ vital.
- PPH primer terjadi dalam 24 jam pertama, sedangkan sekunder dapat muncul hingga 12 minggu. Waspadai perdarahan banyak bergumpal, lemas, pusing, pucat, kulit dingin, dan detak jantung cepat.
- Penyebabnya meliputi atonia uteri, robekan jalan lahir, sisa plasenta, atau gangguan pembekuan darah. Penanganan medis mencakup pijat rahim, obat, infus, transfusi, hingga operasi darurat.
Momen menyambut hadirnya si Kecil ke dunia tentu menjadi saat paling membahagiakan bagi Mama dan Papa. Namun, di balik kebahagiaan tersebut, tubuh mama memerlukan perhatian ekstra selama pemulihan pascapersalinan untuk mengantisipasi berbagai risiko kesehatan.
Melansir dari Cleveland Clinic, postpartum hemorrhage (PPH) atau perdarahan pascapersalinan merupakan kondisi perdarahan hebat yang berpotensi mengancam nyawa. Kondisi ini umumnya terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan, namun tetap bisa mengintai hingga 12 minggu ke depan.
Sangat penting bagi Mama mengenali kondisi medis ini sejak dini agar penanganan tepat bisa segera dilakukan. Berikut Popmama.com bagikan 5 hal penting mengenai postpartum hemorrhage atau perdarahan setelah melahirkan!
Table of Content
1. Pemahaman dasar mengenai kondisi postpartum hemorrhage

Popmama.com/Erica Santoso/AI Kondisi ini membuat tekanan darah anjlok drastis sehingga aliran darah kaya oksigen menuju organ vital terganggu. Jika dibiarkan, PPH berisiko memicu syok hipovolemik hingga kegagalan fungsi organ.
Oleh karena itu, tim medis akan bekerja cepat untuk menemukan dan menghentikan sumber perdarahan. Penanganan yang sigap sangat krusial demi keselamatan jiwa mama.
2. Jenis perdarahan pascapersalinan berdasarkan waktu terjadinya

Popmama.com/Erica Santoso/AI Kondisi PPH terbagi menjadi dua kelompok utama berdasarkan waktu pemunculannya. Pemahaman ini penting agar Mama dan keluarga tetap waspada selama masa nifas.
PPH primer terjadi dalam 24 jam pertama pascapersalinan dan paling sering dijumpai saat masih di rumah sakit. Kondisi ini membutuhkan penanganan intensif dari dokter.
Sementara PPH sekunder terjadi antara 24 jam hingga 12 minggu setelah melahirkan. Karena sering muncul saat di rumah, Mama butuh kepekaan ekstra terhadap perubahan tubuh.
3. Tanda dan gejala utama yang wajib Mama waspadai

Popmama.com/Erica Santoso/AI Gejala utama PPH adalah perdarahan vagina yang terus-menerus dalam jumlah banyak. Cairan darah yang keluar biasanya disertai gumpalan berukuran lebih besar dari bola golf.
Secara fisik, Mama akan merasa lemas, pusing hebat, penglihatan kabur, hingga ingin pingsan. Kulit juga tampak pucat, dingin, serta detak jantung berdegup lebih cepat.
Jika merasakan nyeri atau bengkak tak biasa di area kewanitaan, jangan diabaikan. Segera minta bantuan medis jika gejala tersebut muncul demi mencegah komplikasi.
4. Faktor penyebab utama terjadinya perdarahan pascapersalinan

Popmama.com/Erica Santoso/AI Penyebab PPH paling umum adalah tidak kuatnya kontraksi otot rahim (atonia uteri) untuk menutup pembuluh darah pascamelahirkan. Kondisi rahim yang lemah ini membuat darah terus mengalir.
PPH juga bisa dipicu oleh robekan jalan lahir, sisa jaringan plasenta di rahim, serta gangguan pembekuan darah. Kehamilan kembar dan riwayat preeklamsia turut meningkatkan risikonya.
Meski begitu, PPH terkadang bisa terjadi pada persalinan normal tanpa riwayat risiko. Kepekaan diri tetap menjadi kunci utama keselamatan.
5. Langkah penanganan medis darurat untuk mengatasi PPH

Popmama.com/Erica Santoso/AI Penanganan PPH berfokus menghentikan perdarahan dan mengembalikan volume darah. Dokter biasanya melakukan pijat rahim (massage uteri) serta memberikan obat perangsang kontraksi.
Jika ada sisa plasenta atau robekan jalan lahir, dokter akan segera membersihkan dan menjahitnya. Pemberian cairan infus, balon khusus rahim, hingga transfusi darah juga kerap dilakukan.
Dalam kondisi darurat saat metode lain gagal, operasi histerektomi bisa menjadi tindakan akhir. Langkah pembedahan ini dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Mama.
Meskipun terdengar mengkhawatirkan, penanganan yang cepat dan tepat dari tim medis dapat membuat Mama pulih secara maksimal, jadi pastikan Mama selalu peka terhadap setiap perubahan tubuh selama masa nifas ya!




















