Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan, Kenali Gejalanya Ma!

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan, Kenali Gejalanya Ma!
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap risiko kesehatan ibu setelah melahirkan, karena masa nifas masih menyimpan potensi komplikasi serius yang dapat mengancam nyawa.
  • Tujuh penyebab utama kematian ibu pascapersalinan dijelaskan, termasuk perdarahan hebat, eklamsia, infeksi, emboli air ketuban, tromboemboli vena, penyakit jantung, dan kardiomiopati peripartum.
  • Pencegahan melalui pemantauan medis rutin, menjaga kebersihan, serta dukungan keluarga menjadi langkah penting agar Mama tetap sehat dan mampu mendampingi tumbuh kembang si Kecil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menjadi seorang Mama adalah perjalanan yang luar biasa, penuh dengan kebahagiaan saat menanti kehadiran si Kecil. Namun, di balik momen membahagiakan tersebut, penting bagi kita untuk menyadari bahwa proses persalinan bukanlah fase yang tanpa risiko. Kesehatan Mama selama masa kehamilan hingga setelah melahirkan menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan.

Sayangnya, masih banyak Mama yang belum memahami bahwa masa nifas atau postpartum bukan berarti perjuangan sudah selesai. Kondisi kesehatan fisik yang tidak terpantau dengan baik setelah melahirkan dapat memicu komplikasi serius yang berujung pada kondisi fatal bagi sang Mama. Memahami tanda-tanda bahaya adalah langkah awal perlindungan diri yang paling krusial.

Kematian ibu pascamelahirkan memang menjadi isu yang cukup sensitif, namun mengenali penyebabnya adalah langkah bijak untuk meningkatkan kewaspadaan. Dengan mengetahui faktor risiko apa saja yang mungkin terjadi, Mama dan Papa bisa lebih sigap dalam melakukan pemantauan medis dan segera mencari pertolongan jika menemui gejala yang mencurigakan di masa nifas.

Agar Mama lebih waspada dan bisa menjaga kesehatan dengan maksimal setelah bersalin, Popmama.com telah merangkum 7 penyebab utama kematian ibu setelah melahirkan yang wajib Mama pahami berikut ini!

Table of Content

1. Perdarahan pascapersalinan (hemorrhage)

1. Perdarahan pascapersalinan (hemorrhage)

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 3.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Perdarahan hebat setelah melahirkan, atau secara medis disebut postpartum hemorrhage, merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di banyak tempat. Kondisi ini bisa terjadi karena rahim gagal berkontraksi dengan baik setelah plasenta lahir atau adanya robekan pada jalan lahir yang tidak terdeteksi.

Kehilangan banyak darah dalam waktu singkat akan membuat Mama merasa sangat pusing, lemas, hingga kehilangan kesadaran. Inilah mengapa dokter selalu memantau kondisi Mama secara intensif selama beberapa jam pertama di rumah sakit tepat setelah proses persalinan selesai.

Jika Mama merasakan perdarahan yang sangat deras melebihi biasanya, jangan pernah menganggapnya remeh. Segera komunikasikan dengan tenaga medis yang bertugas agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin untuk mencegah kondisi syok yang berbahaya bagi nyawa.

2. Eklamsia dan preeklamsia pascapersalinan

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 6.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Banyak yang mengira bahwa risiko preeklamsia akan langsung hilang setelah bayi lahir, padahal kondisi ini bisa tetap muncul atau bertahan hingga beberapa hari setelah persalinan. Preeklamsia pascapersalinan ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urine.

Apabila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa meningkat menjadi eklamsia, yaitu kondisi di mana tekanan darah yang sangat tinggi memicu terjadinya kejang-kejang. Kejang ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius pada organ vital tubuh Mama.

Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin pascapersalinan sangatlah penting dilakukan. Jika Mama merasa sakit kepala hebat, pandangan kabur, atau nyeri di perut bagian atas, jangan tunda untuk segera berkonsultasi kembali dengan dokter kandungan.

3. Infeksi (sepsis puerperalis)

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 4.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Infeksi pascapersalinan, atau sepsis, biasanya terjadi akibat adanya bakteri yang masuk ke dalam saluran reproduksi selama proses persalinan atau saat masa pemulihan. Infeksi ini bisa berasal dari luka bekas operasi caesar, robekan episiotomi, atau sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim.

Gejala awal yang muncul biasanya berupa demam tinggi, menggigil, nyeri pada bagian bawah perut, dan pengeluaran lokia (darah nifas) yang berbau busuk. Jika infeksi ini masuk ke aliran darah, kondisinya akan berkembang dengan cepat menjadi sepsis yang mengancam nyawa.

Menjaga kebersihan area intim dan mematuhi jadwal kontrol luka operasi adalah kunci utama untuk mencegah infeksi. Selalu pastikan tangan Mama bersih sebelum merawat luka atau menyentuh area intim agar terhindar dari kontaminasi bakteri yang tidak diinginkan.

4. Emboli air ketuban

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 5.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Meski tergolong langka, emboli air ketuban menjadi salah satu kondisi gawat darurat yang sangat menakutkan karena terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini terjadi ketika air ketuban masuk ke dalam aliran darah Mama dan memicu reaksi alergi hebat yang menyebabkan kegagalan fungsi jantung dan paru-paru.

Karena kejadiannya sangat mendadak, gejalanya pun sering muncul tanpa peringatan, seperti sesak napas yang ekstrem, kebiruan pada kulit, hingga penurunan kesadaran. Seringkali kondisi ini terjadi saat persalinan berlangsung, namun dampaknya bisa terus berlanjut hingga masa pemulihan awal.

Hingga saat ini, belum ada cara pasti untuk mencegah emboli air ketuban karena faktor risikonya yang sulit diprediksi. Namun, penanganan medis yang sangat cepat dan tepat di fasilitas kesehatan yang lengkap merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan peluang keselamatan bagi Mama.

5. Tromboemboli vena (penggumpalan darah)

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 2.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Selama kehamilan dan setelah melahirkan, tubuh Mama mengalami perubahan sistem pembekuan darah yang membuat risiko penggumpalan darah menjadi lebih tinggi. Gumpalan darah ini bisa terbentuk di kaki dan kemudian berpindah ke paru-paru, yang dikenal sebagai emboli paru.

Gejala yang patut diwaspadai meliputi nyeri pada betis, pembengkakan pada salah satu kaki, hingga sesak napas yang muncul secara mendadak. Jika Mama tidak banyak bergerak setelah melahirkan, risiko ini pun akan meningkat secara signifikan.

Untuk meminimalisir risikonya, dokter biasanya menyarankan Mama untuk segera bergerak ringan atau berjalan santai sesegera mungkin setelah kondisi fisik memungkinkan. Pergerakan tubuh membantu melancarkan sirkulasi darah dan mencegah terbentuknya sumbatan yang berbahaya.

6. Penyakit jantung

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 6.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Masalah jantung yang sudah ada sebelumnya atau baru muncul saat kehamilan bisa menjadi ancaman serius bagi Mama setelah melahirkan. Beban kerja jantung yang meningkat secara drastis saat proses persalinan dapat memicu gagal jantung atau aritmia yang fatal bagi kesehatan Mama.

Gejala seperti sesak napas yang terus menerus saat berbaring, detak jantung yang tidak teratur, atau pembengkakan ekstrem pada kaki bisa menjadi tanda bahwa ada masalah pada fungsi jantung Mama. Jangan pernah mengabaikan keluhan ini dengan alasan "hanya lelah karena mengurus bayi".

Penting bagi Mama yang memiliki riwayat penyakit jantung untuk tetap melakukan pemantauan ketat bersama dokter spesialis jantung selama masa kehamilan hingga masa nifas selesai. Perawatan yang tepat akan sangat membantu menjaga kondisi Mama agar tetap stabil.

7. Kardiomiopati peripartum

Penyebab Kematian Ibu setelah Melahirkan 8.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Kardiomiopati peripartum adalah jenis gagal jantung langka yang terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan hingga beberapa bulan setelah melahirkan. Pada kondisi ini, otot jantung menjadi melemah dan tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan efisien.

Mama akan merasakan gejala seperti sesak napas terutama saat beraktivitas atau berbaring, batuk terus-menerus, dan kelelahan yang tidak wajar. Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai efek samping kelelahan merawat bayi baru lahir, sehingga penanganannya sering terlambat.

Jika Mama merasa tubuh sangat tidak bugar dan sesak napas tidak kunjung membaik, segera lakukan pemeriksaan medis. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat membantu jantung Mama pulih kembali dan memastikan Mama tetap bisa mendampingi si Kecil tumbuh besar.

Menjaga kesehatan setelah melahirkan bukan berarti Mama mengabaikan kebutuhan si Kecil, justru inilah bentuk tanggung jawab terbesar agar Mama bisa terus mendampingi tumbuh kembangnya. Segala risiko di atas memang terdengar menakutkan, namun dengan kesadaran dan pemantauan medis yang tepat, kita bisa meminimalisir kemungkinan terburuk yang ada.

Jangan ragu untuk selalu terbuka kepada pasangan atau keluarga mengenai apa yang Mama rasakan, baik secara fisik maupun emosional. Dukungan orang-orang terdekat sangat berperan dalam pemulihan Mama, jadi jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan saat kondisi tubuh mulai memberikan sinyal-sinyal kelelahan.

Nah, dari ketujuh poin di atas, adakah hal yang sebelumnya belum Mama ketahui atau membuat Mama merasa khawatir?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More