Penyebab Proses Persalinan Menjadi Lebih Panjang

- Proses persalinan bisa berlangsung lebih lama karena posisi bayi kurang ideal, kontraksi tidak efektif, atau pembukaan serviks yang lambat sehingga kemajuan persalinan terhambat.
- Faktor seperti bentuk panggul sempit, ukuran bayi besar, serta ibu yang baru pertama kali melahirkan turut memperpanjang waktu persalinan dan memerlukan pemantauan medis.
- Kelelahan dan stres emosional dapat meningkatkan hormon adrenalin yang mengganggu kerja oksitosin, membuat kontraksi melemah dan proses persalinan menjadi lebih lama.
Setiap proses persalinan memiliki cerita yang berbeda. Ada yang berlangsung cepat maupun yang membutuhkan waktu lebih panjang dari yang dibayangkan.
Persalinan yang berjalan lebih lama bisa membuat Mama merasa lelah secara fisik maupun emosional. Dalam kondisi tertentu, situasi ini juga perlu mendapat perhatian medis agar tetap aman bagi Mama dan si Kecil.
Berikut Popmama.com merangkum penyebab proses persalinan bisa berlangsung lebih lama. Yuk simak berikut ini.
Table of Content
Posisi Bayi Kurang Ideal

Salah satu faktor paling umum yang membuat persalinan melambat adalah posisi bayi yang kurang ideal, dimana seharusnya kepala bayi berada di bawah dan menghadap ke belakang tubuh Mama (posisi anterior).
Namun jika bayi berada dalam posisi posterior (kepala menghadap ke atas), melintang, atau sungsang, proses pembukaan bisa berjalan lebih lambat.
Melansir dari Healthline, posisi posterior sering membuat kontraksi terasa lebih nyeri dan kurang efektif dalam membantu pembukaan serviks.
Kondisi ini dapat memperpanjang fase aktif persalinan karena kepala bayi tidak menekan leher rahim secara optimal.
Terjadinya Kontraksi

Kontraksi yang teratur dan cukup kuat berperan penting dalam membuka serviks. Jika kontraksi terlalu lemah, terlalu jarang, atau tidak konsisten, pembukaan bisa terhenti sementara.
Mengutip dari Healthline, kondisi ini dikenal sebagai labor dystocia atau persalinan yang tidak mengalami kemajuan sesuai harapan.
Selain itu, dalam beberapa kasus, dokter mungkin membantu dengan stimulasi kontraksi agar proses kembali progresif.
Melansir dari Cleveland Clinic bahwa kontraksi yang tidak efektif merupakan salah satu penyebab utama persalinan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Pembukaan Serviks yang Lambat

Serviks perlu membuka hingga sekitar 10 cm sebelum bayi dapat dilahirkan. Jika pembukaan berlangsung sangat lambat atau berhenti di angka tertentu dalam waktu lama, persalinan otomatis menjadi lebih panjang.
Selain itu, pada sebagian ibu, terutama yang baru pertama kali melahirkan, fase pembukaan bisa berlangsung lebih lama karena tubuh masih beradaptasi dengan proses persalinan.
Bahkan, faktor kelelahan, kecemasan, atau kurangnya istirahat juga bisa memengaruhi ritme pembukaan tersebut.
Faktor Bentuk Panggul

Ukuran bayi yang lebih besar dari rata-rata atau kondisi panggul yang relatif sempit dapat memperlambat proses turunnya kepala bayi ke jalan lahir, kondisi ini sering disebut sebagai cephalopelvic disproportion.
Melansir dari American Pregnancy Association bahwa ketidaksesuaian ukuran antara kepala bayi dan panggul ibu bisa membuat persalinan berlangsung lebih lama dan membutuhkan pemantauan ketat.
Ibu Baru yang Melahirkan Pertama Kali

Bagi Mama yang baru pertama kali melahirkan biasanya membutuhkan waktu lebih panjang, dibandingkan Mama yang sudah pernah melahirkan sebelumnya.
Menurut dari Healthline, jaringan otot dan serviks pada ibu pertama kali masih beradaptasi dengan proses pembukaan dan dorongan, sehingga fase persalinan aktif bisa berlangsung lebih lama.
Faktor Stres dan Kelelahan

Kondisi emosional juga berperan penting, dimana saat tubuh terlalu lelah atau Mama merasa cemas berlebihan, hormon stres seperti adrenalin dapat meningkat.
Melansir dari Mayo Clinic, peningkatan hormon stres dapat mengganggu kerja hormon oksitosin yang berfungsi memperkuat kontraksi. Inilah sebabnya dukungan emosional dan rasa nyaman sangat penting selama persalinan.
Inilah penjelasan mengapa proses persalinan yang berlangsung lebih lama. Padahal proses yang lama tersebut, tidak selalu berarti sesuatu yang berbahaya.
Sebab, setiap tubuh memiliki ritme dan respons yang berbeda, selama kondisi Mama dan Si Kecil terus dipantau oleh tenaga medis.


















