Depresi Pascapersalinan Ternyata juga Bisa Diderita Para Papa

Jangan sampai disepelekan dan tidak ditangani ahlinya

23 Oktober 2020

Depresi Pascapersalinan Ternyata juga Bisa Diderita Para Papa
Pixabay/PublicDomainPictures

Selama ini, kasus post-partum depression (PPD) atau depresi pasca melahirkan lebih banyak kita dengar dari sisi perempuan. Kondisi ini bahkan diderita oleh satu dari sembilan orang perempuan di dunia setelah melalui masa persalinan. 

Namun, ternyata bukan hanya para mama yang mengalami. Faktanya, para papa pun juga mengalami kondisi ini. Disebut dengan paternal post-partum depression (PPND), jenis depresi ini tak bisa diremehkan begitu saja, Ma.

Dilansir dari Parents, berikut Popmama.com merangkum informasi yang penting Mama dan Papa ketahui tentang PPND atau depresi pascapersalinan pada laki-laki:

Apakah Laki-Laki Bisa Menderita PPND?

Apakah Laki-Laki Bisa Menderita PPND
Freepik/katemangostar

Apakah depresi pascapersalinan pada laki-laki itu nyata? Kok bisa? Menurut para ahli dan ilmuwan, ya, hal ini benar-benar ada. Sebuah laporan dalam Journal of American Medical Association menemukan bahwa 10 persen pria di seluruh dunia menunjukkan tanda-tanda depresi, bahkan dari trimester pertama kehamilan sang Istri.

Hal ini berlangsung hingga enam bulan setelah sang Bayi lahir. Jumlah ini melonjak hingga 26 persen selama periode tiga hingga enam bulan setelah kelahiran bayi.

"Jumlah ini lebih dari dua kali lipat tingkat depresi yang biasanya kita lihat pada laki-laki," jelas James F. Paulson, Ph.D., profesor psikologi di Old Dominion University, di Norfolk, Virginia, dan penulis utama survei, yang menilai 43 penelitian terhadap lebih dari 28.000 papa di seluruh dunia.

"Faktanya, begitu banyak calon papa dan papa baru yang mengalaminya. Tentu saja kondisi ini membuatnya menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, tetapi sebagian besar diabaikan oleh dokter dan penyedia kesehatan mental."

Editors' Picks

Penyebab Biologis PPND pada Laki-Laki

Penyebab Biologis PPND Laki-Laki
Freepik/pch.vector

Secara sains, depresi pascapersalinan pada perempuan dipicu oleh fluktuasi hormon. Ternyata, penelitian juga menemukan bahwa fluktuasi hormon ini turut dialami para laki-laki meski tidak ikut mengandung. Alasannya masih belum diketahui. 

Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat testosteron turun, sementara estrogen, prolaktin, dan kortisol naik. Beberapa laki-laki bahkan mengalami gejala seperti mual dan penambahan berat badan. 

Ahli biologi evolusi menduga bahwa fluktuasi hormon merupakan cara alami untuk memastikan agar para papa tetap dekat dan terikat dengan bayinya. Fluktuasi hormon tersebut berpadu dengan perubahan neurokimiawi yang terjadi di otak akibat waktu tidur yang kurang pasca kelahiran bayi, menciptakan badai di otak yang mengakibatkan depresi pascapersalinan.

Penyebab Psikologis dan Sosial PPND pada Laki-Laki

Penyebab Psikologis Sosial PPND Laki-Laki
Freepik/drobotdean

Faktor penyebab lain PPND pada laki-laki adalah dari segi psikologis dan sosial. Termasuk riwayat penyakit, ketidakstabilan hubungan, masalah keuangan, stres, hingga kondisi bayi yang sakit atau prematur. Laki-laki yang pernah kehilangan orang yang dicintainya, baik di masa dewasanya sebelum menjadi orangtua atau saat tumbuh dewasa, juga berisiko lebih tinggi mengalami depresi. 

"Setiap orangtua yang menghadapi gejolak emosional dan sosial yang dialami oleh bayi berisiko mengalami depresi," kata Sara Rosenquist, Ph.D., seorang terapis di Chapel Hill, North Carolina.

Prediktor terbaik dari risiko depresi seorang laki-laki adalah apakah sang Istri juga mengalami depresi. "Separuh dari semua laki-laki yang pasangannya mengalami depresi postpartum juga mengalami depresi," kata Dr. Courtenay. "Depresi pada kedua orangtua dapat mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan bagi hubungan mereka, dan terutama bagi anak-anak mereka."

Tanda dan Gejala PPND pada Laki-Laki

Tanda Gejala PPND Laki-Laki
Pixabay/Fotorech

Tanda dan gejala PPND pada laki-laki bisa terjadi lebih dari dua hingga tiga minggu. Berikut tanda-tandanya:

  • Kesedihan yang berlarut-larut
  • Lekas marah atau lepas kontrol ketika marah
  • Perasaan tidak berharga
  • Kehilangan minat pada seks atau aktivitas yang dulunya membuat mereka merasa bahagia
  • Terlibat dalam perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan
  • Sesak napas
  • Palpitasi jantung

Laki-laki yang tiba-tiba menjadi gila kerja (bekerja 60 jam seminggu) mungkin juga mengalami depresi, karena membenamkan diri dalam pekerjaan adalah cara banyak orang untuk menyembunyikan stres.

Gejala PPND bisa bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan jika tidak ditangani. Jangan disepelekan, PPND bisa berakibat serius jika diabaikan.

Meski efek depresi pascapersalinan pada laki-laki tidak banyak didokumentasikan sebaik depresi pascapersalinan pada perempuan, tetapi hal ini bisa menyebabkan kurangnya keterlibatan seorang papa pada anaknya. Hal ini bisa memunculkan berbagai masalah, mulai dari lambat bicara, perilaku mengganggu, hingga masalah sosial dan emosional di kemudian hari. 

Mengatasi PPND pada Laki-laki

Mengatasi PPND Laki-laki
Freepik/yanalya

Penelitian menunjukkan bahwa terapi sangat efektif dalam mengobati depresi dan dapat dikombinasikan dengan obat-obatan. Yang terpenting adalah sang Papa mendapatkan bantuan profesional, terutama profesional kesehatan mental yang memahami bagaimana menangani laki-laki. 

Mencari terapis yang tepat memang memerlukan perjalanan yang harus ditelateni. Teruslah mencari sampai menemukan perawatan kesehatan mental yang tepat. Yang tak kalah penting adalah dukungan dari pasangan dan orang-orang terdekat agar bisa keluar dari depresi ini. Tak perlu malu pergi ke psikolog atau psikiater. Dengan perawatan dan dukungan yang tepat, niscaya Papa dapat pulih sepenuhnya. 

Nah, itulah informasi mengenai depresi pascapersalinan pada laki-laki yang bisa saja Papa alami. Semoga informasi ini membantu ya!

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.