Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Puasa Bisa Sebabkan Keguguran? Ini Penjelasannya 

Benarkah Puasa Bisa Sebabkan Keguguran? Ini Penjelasannya 
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Intinya Sih
  • Puasa saat hamil umumnya aman dan tidak menyebabkan keguguran jika kondisi ibu serta janin sehat.

  • Ibu hamil disarankan menjaga pola makan seimbang, tidak melewatkan sahur, mencukupi cairan 8–12 gelas per hari.

  • Trimester kedua dianggap waktu paling ideal untuk berpuasa karena kondisi tubuh lebih stabil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Berpuasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat muslim. Namun, bagi ibu hamil, ibadah ini kerap menjadi tantangan tersendiri dan menimbulkan berbagai pertanyaan, terutama terkait keamanan serta kesehatan janin selama menjalani puasa sepanjang hari. Kekhawatiran ini pun sering dikaitkan dengan risiko gangguan kehamilan, termasuk kemungkinan keguguran.

Dalam agama Islam, ibu hamil termasuk dalam kategori uzur syar’i, yaitu kondisi yang mendapatkan keringanan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ibu hamil diperbolehkan tidak berpuasa apabila terdapat alasan medis tertentu yang dapat membahayakan. Meski begitu, tak jarang banyak ibu hamil yang tetap ingin menjalankan ibadah ini meski ada kekhawatiran, salah satunya keguguran.

Benarkah puasa bisa sebabkan keguguran? Ini penjelasnya yang telah Popmama.com rangkum. Yuk kita simak, Ma!

Table of Content

1. Benarkah puasa bisa sebabkan keguguran?

1. Benarkah puasa bisa sebabkan keguguran?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Puasa saat hamil umumnya tetap aman dilakukan dan tidak menyebabkan keguguran, selama ibu dan janin berada dalam kondisi sehat serta kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi. Namun, kondisi bisa berbeda apabila ibu hamil memiliki penyakit penyerta dan kekurangan nutrisi selama hamil.

Oleh karena itu, ibu hamil dengan kehamilan sehat dan menjalani puasa, sangat disarankan menjaga asupan gizi selama waktu makan, yaitu saat sahur dan berbuka. Ibu hamil dianjurkan memenuhi kebutuhan energi harian sekitar 2.200 kalori. Konsumsi makanan bergizi seimbang, cukup cairan, serta istirahat yang memadai dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil selama berpuasa.

Ibu hamil yang akan berpuasa dianjurkan untuk tetap berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan sebelum menjalani puasa.

2. Perhatikan pemenuhan gizi selama ibu hamil berpuasa

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Perhatikan pemenuhan gizi selama ibu hamil menjalani puasa agar terhindar dari risiko kesehatan. Ibu hamil dianjurkan tidak melewatkan makan sahur, mengatur pola makan sejak berbuka hingga sahur, serta memastikan asupan gizi tetap seimbang setiap hari.

Ibu hamil membutuhkan asupan gizi lebih banyak dibandingkan kondisi sebelum hamil. Variasi makanan perlu ditambah baik dari jumlah maupun jenisnya untuk memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro, seperti zat besi, asam folat, kalsium, iodium, dan zink.

Vitamin larut air seperti vitamin B dan C juga harus dikonsumsi setiap hari karena tidak dapat disimpan dalam tubuh. Dengan pola makan seimbang dan teratur, ibu hamil tetap bisa menjalani puasa dengan lebih aman dan nyaman.

Selama berpuasa, kebutuhan cairan harus tercukupi dengan minum air putih sekitar 8–12 gelas di antara waktu berbuka dan sahur. Saat berbuka, sebaiknya dimulai dengan porsi kecil agar tubuh dapat beradaptasi kembali. Ibu hamil juga disarankan menghindari makanan tinggi gula, membatasi makanan tinggi garam, mengurangi konsumsi kopi, dan memastikan waktu istirahat tetap cukup.

3. Trimester berapa sebaiknya ibu hamil berpuasa?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Waktu menjalankan puasa saat hamil juga perlu diperhatikan agar tetap aman bagi ibu dan janin. Pada trimester pertama, ibu hamil umumnya tidak disarankan berpuasa karena tubuh masih dalam tahap adaptasi terhadap kehamilan. Pada fase ini, ibu hamil sering mengalami mual, muntah, serta penurunan nafsu makan yang dapat memengaruhi asupan nutrisi harian.

Trimester kedua adalah waktu ideal bagi ibu hamil yang ingin berpuasa. Pada masa ini, tubuh biasanya sudah lebih stabil karena ibu telah beradaptasi dengan perubahan hormon. Meski begitu, ibu hamil tetap perlu memastikan asupan gizi seimbang.

4. Risiko puasa saat hamil yang harus diperhatikan

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Risiko yang dapat terjadi saat ibu hamil menjalani puasa perlu diperhatikan, terutama pada trimester pertama kehamilan. Pada masa ini, organ-organ janin sedang dalam tahap pembentukan sehingga ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi dan cairan yang cukup agar proses pertumbuhan janin berjalan optimal.

Pembatasan makan dan minum selama berpuasa dikhawatirkan membuat kebutuhan energi serta cairan tubuh tidak terpenuhi dengan baik. Jika kondisi tubuh ibu tidak kuat atau asupan gizi kurang, ibu hamil dapat mengalami berbagai keluhan seperti tubuh terasa lemas, sakit kepala, asam lambung meningkat, dehidrasi, pusing, hingga pingsan.

Apabila kondisi tersebut terjadi terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, risiko gangguan kehamilan dapat meningkat, seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, hingga berisiko memicu keguguran. Oleh karena itu, ibu hamil perlu memerhatikan kondisi tubuh selama berpuasa dan segera membatalkan puasa jika muncul keluhan yang mengganggu.

5. Kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan jika ibu hamil puasa

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Sebelum menjalani puasa, ibu hamil perlu memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan stabil. Beberapa kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Diabetes gestasional
    Kondisi meningkatnya kadar gula darah selama kehamilan. Puasa dapat memicu gula darah turun terlalu rendah (hipoglikemia) atau justru meningkat setelah berbuka, sehingga berisiko bagi ibu dan janin.

  2. Hipertensi dan preeklamsia
    Tekanan darah tinggi saat hamil yang dapat disertai pembengkakan dan gangguan organ. Kurangnya asupan cairan saat puasa berpotensi memperburuk tekanan darah dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.

  3. Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
    Kondisi ketika janin tidak berkembang sesuai usia kehamilan. Pembatasan asupan nutrisi saat puasa dikhawatirkan membuat kebutuhan gizi janin tidak terpenuhi secara optimal.

  4. Hiperemesis gravidarum
    Mual dan muntah berlebihan pada kehamilan. Jika tetap berpuasa, ibu hamil berisiko mengalami dehidrasi, kekurangan nutrisi, serta penurunan berat badan yang dapat memengaruhi kondisi janin.

Nah, itu dia penjelasan terkait puasa dan kegugura. Semoga informasi ini dapat membantu Mama.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Latest in Pregnancy

See More