Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Stres Ibu Hamil Menghambat Pertumbuhan Plasenta, Ini Studinya!
Freepik
  • Studi dalam jurnal European Neuropsychopharmacology menemukan bahwa stres berlebihan pada ibu hamil dapat mengubah cara kerja gen di plasenta melalui mekanisme epigenetik.

  • Kadar kortisol tinggi selama kehamilan terbukti membuat ukuran plasenta lebih kecil, sehingga berpotensi memengaruhi penyaluran nutrisi dan oksigen bagi janin.

  • Studi lanjutan menunjukkan janin merespons stres ibu lewat perubahan detak jantung, menandakan pengaruh langsung terhadap perkembangan emosi bayi di masa depan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di balik rasa antusias menyambut si Kecil, ada perubahan hormon, hingga kecemasan menjelang persalinan, yang bisa membuat pikiran terasa penuh. Wajar kalau sesekali Mama merasa stres.

Namun, stres berlebihan saat hamil ternyata bukan cuma soal mood swing, lho. Saat tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi, kondisi ini bisa berdampak pada pertumbuhan plasenta. 

Padahal, plasenta berperan penting dalam menyalurkan nutrisi dan oksigen untuk janin. Jika pertumbuhannya terganggu, perkembangan si Kecil pun bisa ikut terpengaruh. Hal ini diungkap dalam sebuah penelitian, Ma. 

Untuk lebih lengkapnya, berikut rangkuman Popmama.com tentang stres ibu hamil menghambat pertumbuhan plasenta.

Bagaimana Stres bisa Menghambat Pertumbuhan Plasenta?

Freepik

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal European Neuropsychopharmacology mengungkap bahwa stres pada ibu hamil dapat meninggalkan “jejak biologis” pada plasenta. Penelitian ini dipimpin oleh Lourdes Fañanás dari University of Barcelona dan Elisabeth Binder dari Max Planck Institute of Psychiatry, Jerman.

Dilansir dari Science Daily, penelitian tersebut melibatkan 45 perempuan sehat yang sedang hamil anak pertama. Selama masa kehamilan, kadar kortisol serta gejala depresi para partisipan dipantau secara berkala. Setelah persalinan, jaringan plasenta dianalisis untuk melihat kemungkinan perubahan biologis yang terjadi.

Hasilnya menunjukkan adanya perubahan epigenetik pada gen-gen tertentu di plasenta, terutama gen yang berperan dalam pengaturan hormon stres. Perubahan ini memang tidak mengubah struktur DNA, tetapi memengaruhi cara gen bekerja dalam merespons stres.

Nah, ketika kadar kortisol meningkat secara berlebihan, kondisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan plasenta. Pada ibu hamil yang mengalami stres berat, ukuran plasenta cenderung lebih kecil dibandingkan ibu hamil dengan kondisi emosi yang stabil.

Karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa stres, terutama di awal kehamilan, bisa memengaruhi fungsi plasenta dan berpotensi berdampak pada perkembangan bayi di masa mendatang.

Studi Lain terkait Dampak Stres saat Hamil

Freepik

Temuan serupa juga pernah dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychobiology pada tahun 2007. Penelitian ini meneliti bagaimana stres ibu hamil dapat langsung memengaruhi respons janin di dalam kandungan.

Dalam studi tersebut, para ibu hamil diminta menjalani Stroop Test, yaitu tes psikologi yang dirancang untuk memicu respons stres ringan. Selama tes berlangsung, detak jantung janin dipantau menggunakan alat khusus.

Hasilnya menunjukkan bahwa janin mengalami perubahan detak jantung ketika ibu berada dalam kondisi stres. Respons ini menunjukkan bahwa janin mampu “merasakan” perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh ibunya.

Penelitian lanjutan dilakukan saat bayi berusia empat bulan. Bayi yang sebelumnya menunjukkan perubahan detak jantung lebih besar cenderung memiliki respons yang lebih reaktif terhadap rangsangan baru, seperti suara dan cahaya. 

Hal ini memperkuat dugaan bahwa stres selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan emosi dan regulasi respons bayi di kemudian hari.

Faktor yang Paling Sering Memicu Stres pada Ibu Hamil

Freepik/pvproductions

Stres selama kehamilan bisa muncul dari berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun lingkungan sekitar. Berikut beberapa pemicu yang paling sering dialami Mama.

1. Perubahan hormon
Lonjakan hormon estrogen dan progesteron selama kehamilan dapat memengaruhi suasana hati. Mama mungkin merasa lebih sensitif, mudah tersinggung, atau cepat menangis. Perubahan ini normal, tetapi jika berlangsung intens, bisa meningkatkan risiko stres.

2. Perubahan bentuk tubuh
Pertambahan berat badan dan perubahan fisik sering kali membuat Mama merasa kurang percaya diri. Kekhawatiran apakah tubuh bisa kembali seperti semula setelah melahirkan juga bisa menjadi sumber tekanan emosional.

3. Kekhawatiran tentang persalinan dan peran sebagai orangtua
Rasa cemas menghadapi proses melahirkan, kesehatan bayi, hingga kesiapan menjadi orangtua adalah hal yang wajar. Tapi, jika terus dipikirkan tanpa dukungan yang cukup, kecemasan ini bisa berkembang menjadi stres berkepanjangan.

4. Masalah sehari-hari
Tekanan pekerjaan, persoalan finansial, atau konflik dalam hubungan juga dapat memperberat beban mental Mama selama kehamilan. Kombinasi antara perubahan fisik dan tekanan eksternal membuat kondisi emosional menjadi lebih rentan.

Tips Mengelola Stres selama Kehamilan

Freepik/lookstudio

Mengelola stres menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan Mama dan janin. Dilansir dari Abundant Life Healthcare, berikut beberapa cara yang bisa dicoba.

  1. Terapkan jadwal tidur yang teratur dan sleep hygiene yang baik

  2. Konsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang

  3. Lakukan aktivitas menyenangkan seperti membaca atau mendengarkan musik

  4. Coba teknik relaksasi seperti yoga prenatal dan meditasi

  5. Luangkan waktu menikmati alam atau berjalan santai

  6. Ceritakan keluh kesah kepada pasangan atau orang terpercaya

  7. Bangun support system dengan sesama ibu hamil

  8. Tulis perasaan dalam jurnal sebagai bentuk terapi emosional

  9. Batasi paparan informasi yang memicu kecemasan berlebihan

  10. Konsultasi dengan psikolog atau dokter jika stres terasa berat

Nah, itu dia penjelasan tentang stres ibu hamil menghambat pertumbuhan plasenta. Yuk, kelola stres dengan bijak selama kehamilan agar tidak berdampak buruk pada janin, Ma!

Editorial Team