September Jadi Bulan Kesadaran PMOS: Mengenal Gangguan Hormonal pada Perempuan

- PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome merupakan gangguan hormonal yang hanya dialami perempuan dan berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi.
- Gejala PMOS umumnya melibatkan gangguan pada organ reproduksi serta dapat menjadi hambatan untuk terjadinya kehamilan secara alami.
- Istilah PCOS kini berubah menjadi PMOS, Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome, agar pemeriksaan lebih menyeluruh dan peluang kesembuhan meningkat.
PCOS identik dengan masalah kesehatan reproduksi. Masalah ini hanya dialami oleh perempuan.
PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome adalah masalah hormonal yang hanya terjadi pada perempuan. Gejala umumnya adalah masalah pada organ reproduksi dan menjadi salah satu hambatan terjadinya kehamilan secara alami.
Beberapa bulan yang lalu, gangguan hormonal ini berganti istilah menjadi PMOS atau Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome. Dengan perubahan nama ini, diharapkan pemeriksaan bisa lebih menyeluruh dan peluang kesembuhan pun makin besar.
Seperti apa PCOS yang kini bernama PMOS? Popmama.com akan menjabarkannya untuk Mama.
Table of Content
1. PCOS Awareness month

Pexels.com/freepik Bulan September menjadi bulan untuk kesadaran PCOS. Di bulan ini, kampanye kesadaran akan masalah hormonal ini digaungkan dalam bentuk seminar, kelas, iklan, dan materi-materi menarik lainnya.
Diharapkan, dengan digelarnya bulan kesadaran PCOS, masyarakat bisa sadar akan kondisi tubuhnya. Karena, ada sekitar 70% perempuan yang mengalami kondisi ini belum terdiagnosis.
2. Perubahan istilah dari PCOS ke PMOS

Vecteezy.com/jennmiranda3855832485 Di bulan Mei 2026, konsorsium medis internasional telah secara resmi mengubah nama PCOS menjadi PMOS. Alasannya, karena nama PCOS sudah tidak lagi relevan dengan gejala yang timbul.
Kalau PCOS hanya memfokuskan pada pengobatan di ovarium, sedangkan gangguan ini lebih kompleks dari itu. Yang melatarbelakanginya adalah, ada banyak pasien tidak memiliki kista sama sekali dan tetap menderita PMOS, demikian ditengok dari Reproductive Science.3. Bukan sekadar masalah reproduksi

Pexels.com/Sora Shimazaki Tak bisa dipungkiri, PCOS identik dengan masalah infertilitas. Perempuan yang mengidap PCOS biasanya memiliki telur yang kecil dan tidak matang sehingga tidak bisa dibuahi oleh sperma.
Padahal, gangguan ini bukan hanya di area reproduksi, melainkan masalah hormonal yang kompleks. Bahkan, berpengaruh juga pada kondisi resistensi insulin, dan metabolisme tubuh secara keseluruhan, demikian ditengok dari Healthline.
4. Gejala utama dari PMOS

Pexels.com/Andrea Piacquadio Gangguan utama dari PMOS adalah masalah di siklus menstruasi dan reproduksi. Perempuan yang mengalami masalah ini biasanya memiliki siklus haid yang tidak teratur, dan menstruasi dengan disertai perdarahan yang hebat. Pada reproduksi, sel telur banyak yang gagal berkembang dan jarang dilepaskan secara teratur.
Pada tubuh, terlihat pertumbuhan rambut atau bulu yang tebal secara berlebihan di area yang biasa dialami laki-laki, seperti di wajah, dada, perut, dan punggung, demikian ditengok dari Johns Hopkins Medicine.
Juga, ada jerawat parah dengan kulit berminyak di area wajah, dada, dan punggung atas. Terakhir, mungkin juga terjadi penipisan rambut di kulit kepala atau mundurnya garis rambut.
5. Masalah metabolik lainnya

Pixabay.com/Saranya7 Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan studi kasus dari masalah hormonal ini, PMOS juga memengaruhi metabolisme tubuh.
Salah satu gejalanya adalah naiknya berat badan secara drastik, terutama penumpukan lemak di area perut, serta sangat sulit untuk menurunkan berat badan meski sudah mencoba berbagai macam cara diet.Lalu, terdapat lipatan kulit yang menggelap dan terasa seperti beludru, biasanya di area leher belakang, ketiak, selangkangan atau di bawah payudara. Kondisi ini menjadi tanda kalau penderita PMOS juga mungkin mengalami resistensi insulin.
Merasa mudah lelah dan sering nge-hang karena brain fog? Ini juga menjadi salah satu gejala yang muncul dari PMOS. Terakhir, merasa suasana hati mudah berubah, serta terdapat peningkatan risiko kecemasan dan depresi, demikian ditengok dari Cleveland Clinic.
6. Edukasi untuk mengurangi risiko jangka panjang

Pcosaa.org Menekan masalah yang ditimbulkan karena gangguan hormonal ini tidak hanya meningkatkan kesempatan untuk hamil, namun juga mengurangi risiko jangka panjang, demikian ditengok dari Womancare Centers.
Dengan edukasi yang tepat, maka banyak pengidapnya bisa terhindar dari komplikasi serius seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, gangguan kesuburan, hingga kanker endometrium.
Yuk, ketahui tubuhmu lebih baik lagi!





















