Kebiasaan begadang atau kurang tidur dapat memicu peningkatan hormon stres, yaitu kortisol. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar adrenal sebagai respons tubuh terhadap stres fisik maupun emosional. Saat Mama sering tidur larut malam, tubuh menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk stres, sehingga produksi kortisol meningkat.
Secara normal, kadar kortisol mengikuti ritme sirkadian: tertinggi di pagi hari dan menurun saat malam agar tubuh bisa beristirahat. Namun, begadang dapat mengacaukan pola ini sehingga kadar kortisol tetap tinggi pada malam hari. Kondisi tersebut membuat tubuh sulit rileks, kualitas tidur semakin menurun, dan tubuh masuk ke lingkaran stres yang berulang.
Penelitian dalam systematic review BMC Women’s Health menjelaskan bahwa gangguan tidur mengaktifkan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis, yaitu sistem yang mengatur respons stres tubuh. Aktivasi ini meningkatkan pelepasan ACTH dan kortisol, yang kemudian dapat mengganggu fungsi hormon reproduksi, perkembangan folikel, hingga proses ovulasi.
Lebih lanjut, sebuah penelitian dari Universitas Airlangga pada pasien infertilitas yang menjalani IVF menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kadar kortisol tinggi dengan jumlah folikel dominan. Semakin tinggi kadar kortisol, jumlah folikel yang berkembang cenderung semakin sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa stres kronis dan begadang berpotensi menurunkan kualitas kesuburan perempuan.
Secara fisiologis, kadar kortisol yang tinggi juga dapat menekan pelepasan GnRH, LH, dan FSH, yaitu hormon-hormon penting yang berperan dalam pematangan sel telur dan ovulasi. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, anovulasi, hingga menurunkan peluang kehamilan.