“Perkembangan bahasa awal pada anak diketahui sebagai prediktor fungsi kognitif di kemudian hari, seperti perhatian, memori, dan kemampuan belajar. Karena itu, kami ingin meneliti apakah paparan kortisol selama kehamilan juga berkaitan dengan skor IQ anak pada usia 7 tahun,” ujar Dr. Anja Fenger Dreyer, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut di Kongres Endokrinologi Eropa ke-25.
Studi: Stres saat Hamil Bisa Berkaitan dengan Kemampuan Bicara Bayi

- Penelitian di Odense University Hospital menemukan kadar kortisol tinggi pada ibu hamil dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa anak usia dini.
- Hasil studi menunjukkan efek hormon stres berbeda antara anak laki-laki dan perempuan, memengaruhi jumlah kata yang diucapkan serta pemahaman bahasa.
- Perkembangan bahasa awal dikaitkan dengan kecerdasan masa depan, mendorong penelitian lanjutan tentang pengaruh paparan kortisol terhadap fungsi kognitif anak.
Selama kehamilan, Mama pasti sering mendengar saran untuk tetap tenang dan mengurangi stres demi kesehatan si Kecil. Namun kenyataannya, hal ini tidak selalu mudah dilakukan.
Berbagai faktor dapat membuat ibu hamil merasa kewalahan, bahkan sampai stres. Menariknya, di balik itu semua, sebuah penelitian justru menujukkan manfaat yang baik bagi janin di dalam kandungan.
Alih-alih selalu berdampak negatif, stres selama kehamilan ternyata bisa memberikan manfaat, khususnya bagi perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak. Kira-kira apa alasannya?
Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan melansir dari laman The Bump.
1. Hormon stres pada kehamilan bisa tingkatkan kemampuan bahasa anak

Para peneliti di Odense University Hospital menemukan bahwa kadar kortisol yang lebih tinggi (hormon stres) pada ibu hamil dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa pada anak usia dini.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data kadar kortisol dari 1.093 perempuan di Denmark selama trimester ketiga kehamilan.
Data ini kemudian dibandingkan dengan kemampuan bicara dan bahasa dari 1.093 anak berusia 12–37 bulan yang tergabung dalam Odense Child Cohort.
Hasilnya menunjukkan bahwa kadar kortisol yang lebih tinggi pada ibu hamil berkaitan dengan perkembangan bahasa yang lebih baik pada anak.
Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa stres dalam batas tertentu tidak selalu berdampak negatif bagi tumbuh kembang si Kecil.
2. Dampaknya berbeda pada anak laki-laki dan perempuan

Penelitian ini menjadi yang pertama dalam mengeksplorasi hubungan antara kadar kortisol saat dalam kandungan dengan perkembangan bicara anak. Para ilmuwan menemukan adanya perbedaan efek berdasarkan jenis kelamin anak.
Anak laki-laki yang terpapar kadar kortisol tinggi selama masa kehamilan cenderung mampu mengucapkan lebih banyak kata pada usia 12–37 bulan. Sementara itu, anak perempuan menunjukkan kemampuan memahami lebih banyak kata pada usia 12–21 bulan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa respons terhadap hormon stres selama kehamilan bisa bervariasi antara anak laki-laki dan perempuan.
Artinya, perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk kondisi selama dalam kandungan.
3. Perkembangan bahasa dini berkaitan dengan kecerdasan di masa depan

Perkembangan bahasa sejak dini memang memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan kognitif anak di masa depan.
Oleh karena itu, temuan ini membuka peluang penelitian lanjutan untuk memahami dampak jangka panjang dari stres selama kehamilan.
Demikian informasi mengenai stres kehamilan dapat membantu perkembangan bicara bayi. Jadi, ketika Mama mengalami hari atau minggu yang terasa sangat melelahkan dan penuh tekanan, tidak perlu terlalu khawatir.
Penelitian ini memberikan sedikit ketenangan bahwa bahkan di tengah stres, Mama tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang si Kecil.


















