Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Penyebab Keluar Lendir Bening saat Ovulasi, Apakah Normal?

Penyebab Keluar Lendir Bening saat Ovulasi, Apakah Normal?
Popmama.com/Erica Santoso/AI
Intinya Sih
  • Lendir bening saat ovulasi muncul karena peningkatan hormon estrogen, namun tidak semua perempuan mengalaminya secara terlihat dan hal ini tidak selalu menandakan masalah kesuburan.
  • Siklus haid yang panjang atau faktor gaya hidup seperti stres, kurang tidur, dan perubahan berat badan dapat memengaruhi waktu terjadinya ovulasi.
  • Pemantauan masa subur bisa dilakukan lewat tes LH, USG folikel, atau suhu basal tubuh; evaluasi medis disarankan bila siklus haid tidak teratur dalam jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernahkah Mama merasa bingung karena sudah memasuki masa subur, misalnya di hari ke-14 hingga ke-18, namun tanda-tanda yang diharapkan seperti lendir bening belum terlihat? Bagi pejuang promil, hal ini sering memicu kekhawatiran soal kesuburan.

Melansir melalui akun Instagram @amirfahad.spog, dr. Amir Fahd, Sp.OG menjelaskan bahwa lendir bening memang tanda umum menjelang ovulasi akibat peningkatan hormon estrogen. Namun, tidak semua perempuan melihatnya dengan jelas, jadi belum tentu Mama tidak subur jika tanda ini tidak muncul.

Banyak faktor memengaruhi jadwal ovulasi, mulai dari durasi siklus hingga kondisi fisik. Agar Mama tidak panik, berikut Popmama.com bagikan informasi penting seputar penyebab lendir bening saat ovulasi dan apa saja yang perlu diperhatikan.

1. Peran hormon estrogen dalam tubuh

Peran hormon estrogen dalam tubuh
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Munculnya lendir bening adalah tanda alami dari peningkatan hormon estrogen yang terjadi sesaat sebelum ovulasi. Lendir ini memiliki tekstur seperti putih telur yang berfungsi untuk memudahkan sperma berenang menuju sel telur.

Namun, tidak semua perempuan memiliki volume lendir yang banyak atau cukup terlihat secara kasat mata. Sebagian perempuan mungkin memproduksi lendir tersebut di dalam serviks saja, sehingga tidak selalu keluar sampai ke area luar tubuh.

Jadi, tidak munculnya lendir bukan berarti Mama tidak mengalami masa subur. Tubuh Mama tetap bisa menjalankan proses ovulasi dengan normal meski tanda fisik yang terlihat sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali.

2. Pengaruh siklus haid yang panjang

Pengaruh siklus haid yang panjang
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Siklus haid yang panjang (lebih dari 35 hari) akan membuat waktu ovulasi pun bergeser menjadi lebih lambat. Hal ini terjadi karena fase sebelum ovulasi pada setiap perempuan bisa berubah-ubah durasinya.

Fase setelah ovulasi menuju haid berikutnya biasanya cenderung stabil di angka 12 hingga 14 hari. Jika siklus Mama panjang, ovulasi mungkin baru terjadi pada hari ke-20, ke-24, atau bahkan setelahnya.

Karena itulah, jika di hari ke-14 atau ke-16 Mama belum melihat lendir, jangan terburu-buru menyimpulkan ada masalah. Kemungkinan besar, masa subur Mama memang belum tiba dan akan bergeser sesuai dengan panjangnya siklus haid tersebut.

3. Faktor gaya hidup yang mengganggu ovulasi

Faktor gaya hidup yang mengganggu ovulasi
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Selain durasi siklus, kondisi tubuh Mama juga berperan besar dalam menentukan kapan ovulasi terjadi. Stres yang berlebihan, perubahan berat badan yang drastis, kurang tidur, hingga kelelahan adalah musuh utama ovulasi.

Ketika tubuh merasa tertekan oleh faktor-faktor tersebut, sistem hormonal dapat terganggu dan menyebabkan jadwal ovulasi bergeser. Inilah mengapa menjaga kesehatan fisik dan mental sangat krusial bagi Mama yang sedang menjalankan program hamil.

Jika Mama merasa gaya hidup sedang tidak teratur, cobalah untuk lebih rileks dan memberikan waktu istirahat yang cukup. Tubuh yang tenang akan jauh lebih mudah untuk mencapai ovulasi yang tepat waktu.

4. Metode lain untuk memantau ovulasi

Metode lain untuk memantau ovulasi
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Jika lendir bening bukan patokan utama yang muncul pada Mama, ada cara lain yang bisa digunakan untuk memantau masa subur. Mama bisa melakukan LH test (tes ovulasi) yang tersedia di apotek untuk mendeteksi lonjakan hormon.

Selain itu, pemantauan melalui USG folikel yang dilakukan oleh dokter kandungan adalah metode yang paling akurat. Mama juga bisa mencoba metode suhu basal tubuh, di mana suhu tubuh akan sedikit meningkat setelah terjadi ovulasi.

Kombinasi antara observasi mandiri dan pengecekan medis akan memberikan gambaran yang lebih jelas. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar Mama tidak perlu menebak-nebak setiap bulannya.

5. Kapan harus melakukan evaluasi lebih lanjut?

Kapan harus melakukan evaluasi lebih lanjut?
Popmama.com/Erica Santoso/AI

Jika haid Mama tidak teratur dalam jangka waktu yang lama, ada baiknya untuk melakukan evaluasi medis lebih mendalam. Dokter perlu memastikan apakah ada kondisi tertentu yang mengganggu, seperti PCOS atau gangguan hormonal lainnya.

Evaluasi ini penting untuk memberikan penanganan yang tepat dan efektif sesuai dengan kondisi kesehatan reproduksi Mama. Setelah penyebabnya diketahui, dokter bisa memberikan saran promil yang lebih terarah bagi Mama dan Papa.

Selama menunggu evaluasi, tetaplah konsisten menjaga pola hidup sehat. Pemantauan yang dilakukan dengan tenang akan membuat proses promil terasa lebih ringan dan terencana.

Ingat ya, Ma, kunci utama promil adalah kesabaran dan hubungan intim yang teratur. Dokter menyarankan untuk melakukan hubungan suami-istri setiap 2 sampai 3 hari sekali di masa subur, bukan 2-3 kali sehari, agar kualitas dan peluangnya lebih maksimal. Jangan keburu panik jika tanda fisik belum terlihat, teruslah pantau siklus Mama dan tetap berpikiran positif. Perjuangan ini akan berbuah manis pada waktunya, tetap semangat ya, Mama!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More