- Perut yang terasa kembung. Menahan kentut selama masa kehamilan dapat memicu adanya penumpukan gas dalam perut, sehingga dapat menyebabkan perut kembung dan rasa tidak nyaman yang berkepanjangan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Gangguan pada sistem pencernaan. Gas-gas yang terjebak di dalam saluran pencernaan dapat membuat perut membesar dan membuat pencernaan makanan menjadi lebih lambat. Hal ini pun dapat menyebabkan kembung, sembelit, dan mual. Kondisi ini tak hanya membuat ibu hamil menjadi tak nyaman, tapi juga bisa mengganggu penyerapan nutrisi si Kecil.
- Adanya tekanan pada organ dalam. Saat kentut ditahan, maka tekanan dalam perut ibu hamil juga meningkat. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya tekanan pada organ dalam seperti kandung kemih, usus, dan lambung.
- Kenaikan tekanan di panggul. Tekanan di panggul dapat meningkat saat menahan kentut. Hal ini pun dapat memicu ketegangan otot-otot panggul hingga muncul rasa sakit dan tidak nyaman di bagian tersebut. Tak hanya itu, kenaikan tekanan ini juga bisa memengaruhi sirkulasi darah ke area panggul yang sangat krusial bagi Mama dan juga si Kecil.
- Risiko infeksi saluran kemih. Saat menahan kentut, maka tekanan pada kandung kemih ikut meningkat. Kondisi itu dapat mengganggu aliran urin dan bisa memicu bakteri untuk berkembang biak. Infeksi saluran kemih pada ibu hamil pun bisa memiliki risiko yang serius dan harus ditangani dengan cepat.
Bahaya Menahan Kentut saat Hamil yang Perlu Diwaspadai

- Menahan kentut saat hamil dapat menumpuk gas, memicu kembung, sembelit, mual, tekanan pada organ dan panggul, serta berisiko mengganggu aliran urin.
- Frekuensi kentut pada kehamilan, terutama trimester kedua, umumnya normal akibat progesteron, rahim membesar, perubahan pola makan, dan minimnya aktivitas fisik.
- Keluhan dapat dikelola dengan menghindari pemicu gas, makan perlahan dalam porsi kecil, cukup minum, olahraga ringan, serta konsultasi dokter bila muncul nyeri hebat, diare berdarah, atau muntah parah.
Banyak orang rela menahan kentut demi menjaga sopan santun atau menghindari rasa malu. Tapi, tahukah Mama, kebiasaan ini ternyata bisa membawa beberapa dampak bagi kesehatan? Meski terdengar sepele dan tidak berbahaya, menahan kentut terlalu sering dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman dan memicu masalah pada sistem pencernaan.
Kentut atau dalam istilah medis disebut flatus, adalah proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas dari saluran pencernaan melalui anus. Gas ini terbentuk selama proses pencernaan makanan dan juga berasal dari udara yang tidak sengaja tertelan saat makan, minum, atau berbicara.
Singkatnya, kentut adalah hasil dari akumulasi gas di dalam saluran pencernaan yang kemudian dikeluarkan. Walaupun kentut sering dianggap sebagai hal yang memalukan atau bahkan lucu, sejatinya kentut merupakan proses yang alami dan sangat wajar pada manusia.
Kentut juga merupakan salah satu hal yang sering dialami oleh ibu hamil. Perut yang terasa tidak nyaman dan produksi gas meningkat seringkali menghampiri ibu hamil, terutama pada awal masa kehamilan. Tapi, Mama jangan khawatir, sering buang gas atau perut kembung saat masa kehamilan merupakan hal alami yang sangat wajar. Sebaliknya, menahan kentut saat hamil memiliki risiko.
Berikut Popmama.com rangkum bahaya menahan kentut saat hamil yang perlu diwaspadai
Bahaya Menahan Kentut saat Hamil

Menahan kentut memang bisa mencegah rasa malu, namun di balik itu, ada bahaya yang mengintai. Beberapa bahaya yang mungkin timbul jika menahan kentut saat masa kehamilan di antaranya seperti:
Tak hanya itu, kebiasaan buruk menahan kentut juga bisa membawa dampak buruk dalam jangka panjang. Menahan kentut bisa menyebabkan risiko penyakit seperti divertikulitis atau peradangan pada kantong-kantong di usus besar yang kemudian dapat memicu rasa nyeri yang hebat, mual, dan sembelit.
Oleh karena itu, langkah terbaik jika Mama merasa ingin kentut adalah dengan mengeluarkannya, namun tetap menyesuaikan tempat dan situasinya, ya!
Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Menahan Kentut?

Tahukah Mama, saat kentut, gas yang terbentuk di dalam usus akan bergerak menuju rektum, kemudian dikeluarkan melalui anus. Tapi, saat menahan kentut, otot bokong dan sfingter anus akan mengencang untuk mencegah gas keluar. Sfingter anus sendiri merupakan otot yang berfungsi mengatur buka-tutup saluran anus.
Selama otot bokong dan sfingter anus terus dikencangkan, tekanan di dalam saluran pencernaan akan terus bertambah. Nah, saat hal ini terjadi, Mama mungkin akan mendengar suara keroncongan dari dalam perut saat gaas bergerak dalam usus.
Penelitian dalam jurnal Digestive Diseases and Sciences menyebut, sebagian gas itu pun bisa diserap kembali ke dalam aliran darah. Selanjutnya, gas akan bergerak menuju sistem pernapasan dan dikeluarkan dari tubuh saat mengembuskan napas.
Meski begitu, sebagian besar gas yang tersisa tetap berada di dalam saluran pencernaan dan membuat tekanan usus bertambah. Gas itu pun baru akan keluar jika Mama kentut atau sendawa.
Penyebab Ibu Hamil Sering Kentut saat Masa Kehamilan

Selain tak perlu khawatir, Mama juga tak perlu merasa malu jika sering kentut saat masa kehamilan, terutama pada trimester kedua, karena hal ini merupakan hal yang sangat normal.
Pada fase ini, Mama bisa merasakan adanya peningkatan produksi gas. Kondisi ini memang bisa membuat Mama merasa tak nyaman, namun umumnya tak berbahaya bagi Mama dan juga si Kecil.
Nah, ternyata, peningkatan frekuensi kentut selama kehamilan trimester kedua ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor perubahan tubuh, seperti:
- Perubahan hormonal (hormon progesteron). Selama masa kehamilan, tubuh mama memproduksi lebih banyak hormon progesteron. Peningkatan hormon ini kehamilan membuat otot-otot tubuh menjadi lebih rileks, termasuk otot pada saluran pencernaan. Akibatnya, makanan berada lebih lama di dalam usus sehingga bakteri memiliki lebih banyak waktu untuk menguraikannya dan menghasilkan gas yang berlebih.
- Rahim yang membesar dan menekan usus. Rahim mulai membesar secara signifikan seiring pertumbuhan janin pada trimester 2. Rahim yang semakin membesar ini kemudian menekan organ-organ di dalam tubuh mama, termasuk usus. Tekanan ini pun bisa menghambat pergerakan makanan dan gas di saluran pencernaan. Akibatnya, gas menjadi lebih sulit dikeluarkan, menumpuk di dalam usus, memicu perut kembung, serta membuat ibu hamil lebih sering kentut.
- Perubahan pola makan. Selama masa kehamilan, ibu hamil mungkin mengalami perubahan nafsu makan dan merasakan ngidam menyantap makanan tertentu. Konsumsi makanan yang tinggi serat atau jenis makanan yang lebih sulit dicerna dapat meningkatkan pembentukan gas di saluran pencernaan, sehingga ibu hamil menjadi lebih sering kentut.
- Kurangnya aktivitas fisik. Olahraga dan aktivitas fisik ringan yang minim selama masa kehamilan juga bisa membuat metabolisme tubuh menjadi lebih lambat. Sistem pencernaan yang kurang lancar bisa memicu lonjakan penumpukan gas.
Cara Mengatasi Sering Kentut pada Ibu Hamil

Mama dapat melakukan beberapa cara yang bisa mengatasi sering kentut saat masa kehamilan seperti berikut ini:
- Hindari konsumsi makanan penghasil gas. Mama dapat menghindari makanan-makanan yang menghasilkan lebih banyak gas seperti kol, brokoli, kembang kol, kacang-kacangan, bawang, makanan yang digoreng, dan pemanis buatan.
- Makan dengan porsi sedikit tapi sering. Sebaiknya Mama menghindari makan dengan porsi yang banyak sekaligus. Makanlah dalam porsi yang kecil tapi dengan waktu yang lebih sering.
- Makan dengan perlahan. Makan dengan terburu-buru bisa memicu udara yang tertelan lebih banyak yang kemudian menjadi gas di saluran pencernaan.
- Hindari konsumsi minuman bersoda. Mama bisa hindari mengonsumsi jenis minuman ini karena mengandung gas karbondioksida yang dapat menambah jumlah gas dalam perut.
- Konsumsi air mineral yang cukup. Asupan air yang cukup sangat penting untuk menjaga sistem pencernaan tetap lancar dan membantu tinja menjadi lebih lunak, dan mencegah terjadinya sembelit.
- Olahraga ringan dengan teratur. Mama dapat melakukan olahraga ringan seperti yoga ibu hamil, berjalan kaki, atau berenang. Hal itu dapat membantu gas bergerak ke luar saluran pencernaan.
- Cukupi kebutuhan serat. Mama bisa mengonsumsi berbagai aneka buah dan sayur-sayuran yang kaya akan nutrisi.
- Konsultasikan dengan dokter. Jika Mama mengalami masalah yang lebih serius, maka jangan ragu untuk melakukan konsultasi ke dokter agar penangannya lebih optimal.
Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meskipun kentut merupakan hal yang normal. Namun, jika terjadi secara berlebihan atau disertai keluhan tertentu, Mama sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Waspadai beberapa kondisi seperti berikut:
- Diare yang berlangsung lama atau disertai darah pada tinja.
- Nyeri atau kram perut yang hebat dan tidak kunjung mereda.
- Rasa begah yang mengganggu hingga sulit bernapas.
- Mual dan muntah yang parah (hiperemesis).
Seperti yang sudah disebutkan, sering membuang gas atau kentut pada ibu hamil merupakan hal yang wajar. Jadi, Mama tidak perlu merasa malu atau minder jika hal ini terjadi. Mama boleh kentut kapan saja asal di situasi dan kondisi yang tepat.
Itu tadi penjelasan mengenai bahaya menahan kentut saat hamil. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Mama.





















