- nyeri
- ketidaknyamanan
- kembung
- gangguan pencernaan
- mulas
Jangan Dianggap Sepele, Ini Bahaya Menahan Kentut saat Hamil

- Menahan kentut saat hamil dapat menyebabkan nyeri, kembung, dan gangguan pencernaan karena tekanan gas meningkat di sistem pencernaan.
- Peningkatan gas selama kehamilan dipicu oleh hormon progesteron, pola makan, sembelit, stres, serta tekanan rahim yang membesar pada usus.
- Mengurangi ketidaknyamanan bisa dilakukan dengan minum cukup air, olahraga ringan, menghindari makanan pemicu gas, serta menjaga pola makan bergizi seimbang.
Gas dan kembung adalah ketidaknyamanan umum selama kehamilan. Gejala yang berkaitan dengan pencernaan ini, yang dapat berkisar dari sedikit tidak nyaman hingga sangat menyakitkan, disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk hormon dan diet.
Peningkatan kembung dan gas dapat datang dan pergi, tetapi dapat mengganggu sepanjang kehamilan.
Ketika tubuh menumpuk gas berlebih di dalam sistem pencernaan, hanya ada dua tempat gas tersebut dapat keluar, dan salah satunya adalah anus. Proses mengeluarkan gas ini lebih dikenal sebagai kentut.
Terkadang, ibu hamil mungkin segan untuk kentut saat berada di dekat orang lain. Oleh karena itu, ibu hamil memilih untuk menahannya. Tapi, apa bahaya menahan kentut saat hamil?
Bila Mama suka menahan kentut saat hamil, yuk, simak penjelasan Popmama.com berikut ini tentang bahaya menahan kentut saat hamil. Semoga bisa menambah wawasan!
Apa Itu Gas Kehamilan?

Setiap orang mengalami dan mengeluarkan gas. Tubuh menghasilkan gas karena bakteri alami di perut dan usus memecah makanan yang dimakan selama pencernaan. Mama juga memasukkan udara ke dalam tubuh dengan menelannya saat makan, minum, tertawa, bernapas, dan berbicara.
Terkadang gas dapat menyebabkan kembung, yaitu ketika perut ibu hamil kembung dan terasa penuh setelah makan atau karena penumpukan gas. Perasaan kembung ini bisa ringan atau cukup tidak menyenangkan. Hal ini juga dapat membuat perut mama membesar sementara.
Penting untuk diketahui bahwa janin tidak merasakan nyeri atau tekanan gas seperti yang Mama rasakan. Si Kecil aman dan nyaman mengambang di dalam cairan pelindung kantung ketuban. Gerakan dan suara yang dihasilkan gas saat bergerak melalui usus mama bahkan mungkin terasa menyenangkan dan menenangkan bagi bayi.
Apa Bahaya Menahan Kentut saat Hamil?

Ketika tubuh menumpuk gas berlebih di dalam sistem pencernaan, hanya ada dua tempat gas tersebut dapat keluar, dan salah satunya adalah anus. Proses mengeluarkan gas ini lebih dikenal sebagai kentut.
Gas yang menyebabkan kentut (dan juga sendawa) biasanya menumpuk selama pencernaan dan juga ketika Mama menelan udara bersama makanan saat makan atau minum. Gas ini dapat menumpuk lebih cepat jika merokok, menggunakan sedotan, atau makan makanan yang sulit dicerna.
Mama mungkin juga lebih sering kentut jika stres, sembelit, atau memiliki kondisi medis yang memengaruhi sistem pencernaan. Gas dapat menyebabkan kembung dan ketidaknyamanan. Kentut adalah cara sehat untuk mengeluarkan gas dari tubuh.
Kentut adalah hal yang sepenuhnya alami dan tubuh setiap orang melakukannya. Kebanyakan orang kentut lima hingga 23 kali sehari.
Beberapa orang mungkin merasa malu atau tidak nyaman jika mereka lebih sering kentut, kentutnya tidak nyaman atau berbau, atau harus kentut di tempat umum. Beberapa orang mencoba menahan kentut sampai mereka merasa cukup aman untuk melepaskannya atau gas tersebut keluar tanpa terkendali.
Meskipun penelitian tentang kentut masih terbatas, beberapa studi menunjukkan bahwa menahan kentut mungkin tidak baik bagi kita dan jauh lebih sehat untuk membiarkannya keluar begitu saja.
Bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menahan kentut dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan masih terbatas.
Dalam jangka pendek, menahan kentut dapat menyebabkan:
Terlebih lagi, seiring meningkatnya tekanan, tingkat stres Mama juga dapat meningkat, sehingga semakin tidak nyaman dan semakin kecil kemungkinan Mama dapat menahan kentut.
Pada tahun 1970-an, para ahli menemukan bahwa kebiasaan menahan kentut dapat dikaitkan dengan perkembangan divertikulitis. Ini adalah peradangan atau pembengkakan kantung yang terbentuk di sepanjang saluran pencernaan. Divertikulitis dapat menjadi parah dan dapat menyebabkan infeksi jika tidak diobati. Namun, tanpa penelitian yang lebih baru, hubungan yang jelas antara menahan kentut dan divertikulitis tidak dapat dibuat.
Saat kentut, gas bergerak dari usus ke rektum, dan kemudian keluar melalui anus. Namun, jika Mama mengencangkan otot sfingter anus (otot yang mungkin juga Mama kencangkan jika menahan buang air besar) dengan mengencangkan bokong, Mama biasanya dapat menahan kentut untuk beberapa waktu.
Setelah mengencangkan otot sfingter, tekanan akan mulai meningkat pada gas di sistem pencernaan. Mama mungkin mengalami beberapa gejala jangka pendek menahan kentut, termasuk nyeri, kembung, dan rasa tidak nyaman. Mama mungkin merasakan gelembung atau suara gemericik saat gas bergerak di sekitar sistem pencernaan.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian gas ini diserap kembali oleh sistem peredaran darah tubuh dan akhirnya dapat dikeluarkan saat Mama menghembuskan napas. Namun, sebagian besar gas akan tetap berada di bawah tekanan di dalam tubuh sampai Mama akhirnya dapat melepaskannya melalui kentut atau sendawa, atau keduanya.
Penyebab Gas Kehamilan

Saat hamil, Mama mungkin menyadari bahwa Mama lebih sering buang gas dari biasanya dan terasa sakit. Peningkatan gas dan kembung selama kehamilan dapat dipicu oleh berbagai penyebab, termasuk perubahan kadar hormon dan makanan yang dikonsumsi. Selanjutnya, pelajari lebih lanjut tentang penyebab gas kehamilan.
Progesteron
Selama kehamilan, terdapat lebih banyak hormon progesteron dalam tubuh. Progesteron ekstra adalah alasan utama mengapa Mama mungkin mengalami lebih banyak gas dan kembung saat hamil.
Salah satu fungsi progesteron dalam tubuh mama adalah untuk merelaksasi otot polos saluran pencernaan. Ketika otot-otot ini rileks, hal itu dapat menyebabkan makanan bergerak lebih lambat melalui sistem pencernaan mama.
Saat pencernaan melambat, lebih banyak gas menumpuk di usus. Gas membantu tubuh mama memanfaatkan makanan yang Mama makan secara optimal, tetapi juga menyebabkan lebih banyak sendawa, buang angin, dan kembung.
Pola makan ibu hamil
Makanan dan minuman yang Mama konsumsi juga memengaruhi produksi gas. Makanan yang diketahui meningkatkan gas meliputi makanan pedas, makanan gorengan, makanan olahan, makanan berlemak, produk susu, biji-bijian utuh, minuman berkarbonasi, dan banyak buah dan sayuran.
Banyak makanan penghasil gas yang sangat sehat, seperti kacang-kacangan, brokoli, dan dedak. Mama dapat mulai dengan menghilangkan makanan penghasil gas yang kurang bergizi (seperti onion ring, keripik kentang, dan soda) sebelum mengurangi asupan buah-buahan, sayuran, produk susu, dan biji-bijian utuh.
Namun, perlu diingat bahwa mengubah pola makan terlalu cepat juga dapat menyebabkan gas. Jika Mama ingin melakukan beberapa penyesuaian, lakukan secara perlahan. Jika Mama tiba-tiba mulai mengonsumsi makanan yang tinggi serat dan penuh dengan buah dan sayuran sehat, tubuh mama tidak akan punya waktu untuk menyesuaikan diri. Kemungkinan besar Mama justru akan menghasilkan lebih banyak gas untuk sementara waktu.
Perut yang semakin membesar
Saat rahim membesar, rahim memberi tekanan pada usus. Tekanan pada sistem pencernaan dapat memperlambatnya. Penyempitan juga dapat mempersulit pengendalian pelepasan gas, yang dapat berarti Mama kentut secara tiba-tiba atau lebih sering.
Sembelit
Kesulitan buang air besar, juga dikenal sebagai sembelit, juga dapat menyebabkan kembung dan nyeri. Kotoran yang tertahan di usus membuat gas lebih sulit untuk melewati dan keluar dari tubuh.
Vitamin prenatal
Vitamin prenatal membantu memastikan bahwa ibu hamil dan janin mendapatkan semua (dan cukup) vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk kehamilan yang sehat. Namun, beberapa vitamin dan mineral (terutama suplemen zat besi) berkontribusi pada sembelit, yang pada gilirannya dapat menyebabkan gas.
Stres dan kecemasan
Saat gugup, Mama mungkin bernapas lebih cepat dan menghirup lebih banyak udara, yang dapat menyebabkan gas. Kecemasan selama kehamilan atau kapan pun juga dapat menyebabkan gejala gastrointestinal.
Pengobatan dan Pencegahan Gas saat Hamil

Gas adalah fungsi normal tubuh manusia. Mama tidak dapat sepenuhnya mencegahnya. Namun, ada beberapa hal yang dapat Mama lakukan untuk meminimalkan masalah dan mengurangi ketidaknyamanan, yaitu:
- Minumlah banyak air. Air dan cairan sehat lainnya menjaga tubuh tetap terhidrasi dan membantu mencegah sembelit. Kurangi minuman berkarbonasi dan bergula, seperti soda. Meskipun minuman tersebut dapat memberikan hidrasi, minuman tersebut juga dapat meningkatkan gas.
- Gunakan cangkir atau gelas. Saat Mama minum dari botol atau melalui sedotan, Mama menelan lebih banyak udara saat minum.
- Minumlah lebih perlahan. Cobalah untuk meluangkan waktu dan menikmati minuman Mama dengan lebih lambat. Saat Mama menelannya dengan cepat, Mama menghirup udara ekstra setiap tegukan.
- Kurangi makanan yang menghasilkan gas. Beberapa makanan cenderung menghasilkan lebih banyak gas, seperti brokoli, kol, dan kacang-kacangan. Makanan manis, gorengan, pedas, atau berlemak juga dapat menyebabkan gas. Sebaiknya hindari makanan yang menyebabkan perut kembung sebelum kehamilan, karena kemungkinan besar akan menyebabkan lebih banyak gas dan perut buncit selama kehamilan.
- Cobalah teh peppermint atau jahe. Baik peppermint maupun jahe dikenal dapat membantu meredakan gangguan pencernaan dan ketidaknyamanan perut.
- Pertahankan pola makan yang bergizi. Banyak makanan sehat juga dapat menyebabkan gas. Mama mungkin ingin menghindari beberapa makanan, tetapi Mama tidak perlu berhenti memasukkan semua makanan bergizi ini ke dalam diet. Mama perlu memastikan Mama mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan.
- Lakukan olahraga. Aktivitas fisik selama kehamilan baik untuk pencernaan dan membantu tubuh mama mengeluarkan gas, yang mengurangi perut kembung. Olahraga juga dapat membantu mencegah sembelit, mengurangi perut kembung, dan menjaga agar gas tetap bergerak melalui tubuh (dan keluar). Jalan kaki singkat atau peregangan ringan dapat membantu meredakan gas, dan banyak pose yoga juga aman dan efektif.
- Tambahkan serat secara perlahan. Serat menarik air ke dalam usus yang memudahkan pergerakan feses. Buang air besar secara teratur penting untuk mencegah sembelit, perut kembung, nyeri, dan gas. Namun, Mama perlu menambahkan serat ke dalam diet Mama secara bertahap—jika Mama meningkatkan asupan terlalu cepat, hal itu justru dapat memicu lebih banyak gas. Makanan yang kaya serat meliputi buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Jika Mama mengalami sembelit dan kesulitan mendapatkan cukup serat dalam diet, tanyakan kepada dokter tentang mengonsumsi suplemen.
- Kenakan pakaian yang nyaman. Kenakan pakaian yang nyaman dan tidak menekan perut mama. Celana ketat atau ikat pinggang di sekitar pinggang dapat menekan usus dan meningkatkan ketidaknyamanan Mama.
- Hindari permen karet. Mengunyah permen karet dapat menyebabkan Mama menelan udara. Selain itu, beberapa pemanis buatan dalam permen karet juga dapat menyebabkan gas.
- Temukan cara sehat untuk mengatasi stres. Merasa kesal atau khawatir dapat menyebabkan pencernaan melambat dan gas menumpuk. Tarik napas dalam-dalam, meditasi, dan teknik relaksasi lainnya dapat membantu Mama mengurangi kecemasan dan stres. Jika Mama merasa sulit mengatasi stres atau kecemasan selama kehamilan (atau kapan pun), bicarakan dengan dokter. Mereka dapat merujuk Mama ke terapis atau konselor yang dapat membantu.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Gas bisa terasa nyeri, tetapi bukan hanya itu yang dapat menyebabkan sakit perut selama kehamilan. Banyak kondisi lain yang dapat disalahartikan sebagai gas. Beberapa di antaranya terkait kehamilan seperti kontraksi Braxton Hicks, kehamilan ektopik, dan bahkan persalinan. Kondisi lain mungkin atau mungkin tidak terkait dengan kehamilan. Termasuk radang usus buntu, batu empedu, dan sindrom iritasi usus besar.
Jika Mama tidak yakin apakah gas yang menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan, hubungi dokter. Lebih baik diperiksa dan mengetahui bahwa rasa sakit itu hanya gas daripada mengabaikan kondisi medis yang berpotensi serius (bahkan mengancam jiwa).
Selalu hubungi dokter atau pergi ke IGD jika rasa sakit tidak kunjung reda atau semakin memburuk, jika Mama mengalami mual dan muntah yang parah, atau melihat darah dalam tinja saat buang air besar. Kemungkinan kontraksi selalu menjadi alasan untuk menghubungi dokter atau bidan.
Itu penjelasan tentang bahaya menahan kentut saat hamil. Apakah Mama sering menahan kentut juga?





















