Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Janin Bisa "Hilang" di Dalam Kandungan? Ini Faktanya
Popmama.com/Alya Putri Abi /AI
  • Fenomena janin 'hilang' bukan hal mistis, melainkan kondisi medis seperti kehamilan kosong, kehamilan palsu, atau sindrom kembar hilang yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
  • Kehamilan kosong terjadi saat kantung dan plasenta berkembang tanpa embrio akibat kelainan kromosom atau kualitas sperma dan sel telur yang kurang baik.
  • Pemeriksaan USG rutin, baik transabdominal maupun transvaginal, penting untuk memastikan keberadaan dan perkembangan janin secara akurat selama masa kehamilan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mama mungkin pernah mendengar cerita tentang janin yang tiba-tiba "hilang” dari dalam kandungan, padahal tidak ada tanda-tanda keguguran sebelumnya. Di Indonesia, fenomena ini kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis, seperti makhluk gaib yang dianggap mengambil janin.

Mitos tersebut masih dipercaya oleh sebagian masyarakat dan kerap memicu kekhawatiran bagi Mama. Dari sudut pandang medis, kondisi ini sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah dan bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan hal supranatural.

Jadi, benarkah janin bisa "hilang" di dalam kandungan? Berikut Popmama.com siapkan penjelasannya.

1. Benarkah janin bisa “hilang” di dalam kandungan?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Janin tidak bisa “hilang” secara tiba-tiba tanpa sebab. Dalam dunia medis, kondisi ini memiliki penjelasan yang logis dan dapat dipahami.

Beberapa kemungkinan yang sering terjadi antara lain blighted ovum (kehamilan kosong), pseudokesis atau kehamilan palsu, serta vanishing twin syndrome, yaitu kondisi ketika salah satu janin pada kehamilan kembar berhenti berkembang dan kemudian terserap oleh tubuh.

2. Kehamilan kosong (blighted ovum)

Popmama.com/Alya Putri Abi /AI

Salah satu penyebab janin terlihat “hilang” adalah kehamilan kosong atau blighted ovum. Kondisi ini terjadi ketika pembuahan berhasil, tetapi embrio tidak berkembang di dalam rahim, sementara plasenta dan kantong kehamilan tetap terbentuk dan tumbuh seperti kehamilan pada umumnya.

Karena kantong kehamilan masih berkembang dan hormon hCG tinggi, ibu hamil tetap bisa merasakan tanda-tanda kehamilan seperti test pack positif, mual, muntah, dan perut yang mulai membesar. Hal ini membuat kondisi ini sering terlihat seperti kehamilan normal. Namun saat diperiksa, janin tidak ditemukan atau di anggap “hilang” padahal embrio memang tidak tumbuh sejak awal.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kelainan kromosom yang membuat hasil pembuahan tidak berkembang sejak awal. Hal ini bisa terjadi karena kualitas sperma atau sel telur yang kurang baik sehingga proses pembelahan sel tidak berjalan normal. Selain itu, kehamilan kosong juga dapat dipicu oleh infeksi, kelainan bentuk rahim, konsumsi alkohol, atau efek samping obat-obatan tertentu.

3. Kehamilan palsu (pseudokesis)

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Melansir dari Cleveland Clinic, pseudokesis atau kehamilan palsu adalah kondisi ketika seseorang merasa dan meyakini dirinya hamil, padahal secara medis tidak terjadi kehamilan. Orang yang mengalaminya bisa menunjukkan gejala seperti orang hamil pada umumnya, namun hasil tes kehamilan dan pemeriksaan USG menunjukkan tidak adanya janin yang berkembang di dalam rahim.

Para ahli medis belum mengetahui penyebab pasti kondisi ini, tetapi diduga kuat berkaitan dengan faktor psikologis dan hormonal.

Beberapa faktor yang diduga dapat memicu kondisi ini antara lain keinginan yang sangat kuat untuk hamil, riwayat keguguran, kehilangan anak, infertilitas, ketakutan berlebihan terhadap kehamilan, depresi atau kecemasan, trauma emosional, hingga riwayat pelecehan seksual.

4. Sindrom kembar hilang (Vanishing Twin Syndrome)

Popmama.com/Alya Putri Abi /AI

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Hartanto Lie, menjelaskan melalui akun Instagram @lie.hartanto pada 22 April 2025 bahwa Vanishing Twin Syndrome adalah kondisi pada kehamilan kembar ketika salah satu janin tidak berkembang dan kemudian meninggal pada awal kehamilan.

Kondisi ini umumnya terjadi pada trimester pertama atau awal trimester kedua. Janin yang tidak berkembang tersebut biasanya akan diserap kembali oleh tubuh ibu sehingga tidak lagi terlihat pada pemeriksaan USG berikutnya. Menurutnya, kondisi ini sering berkaitan dengan faktor genetik pada janin, serta gangguan pada proses perkembangan di awal kehamilan.

Pada kasus yang terjadi di trimester pertama, kondisi ini tidak menimbulkan gangguan pada janin yang masih hidup maupun pada kehamilan secara keseluruhan. Namun, bila terjadi pada akhir trimester kedua atau ketiga, kondisi ini dapat meningkatkan risiko pada janin yang bertahan.

“Tapi kalau terjadi di akhir trimester kedua atau ketiga, biasanya ada risiko komplikasi nih, seperti kelahiran prematur atau gangguan pertumbuhan pada janin yang sehat,“ ujar dr. Hartanto.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Memastikan Kehamilan?

Popmama.com/Alya Putri Abi/AI

Untuk memastikan kehamilan secara akurat, Mama dapat melakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter. Biasanya dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan, seperti mual, telat menstruasi.

Setelah itu, dokter akan menyarankan pemeriksaan USG untuk memastikan adanya kehamilan serta kondisi janin.

Berikut beberapa jenis USG yang dapat dilakukan:

  1.  USG transabdominal
    USG transabdominal atau USG perut dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya kantung kehamilan, memantau letak janin dan plasenta, memperkirakan usia kehamilan dan waktu persalinan, mengukur ukuran serta berat janin, serta mendeteksi detak jantung janin. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan setidaknya satu kali sebelum usia kehamilan 24 minggu.

  2.  USG transvaginal
    USG transvaginal dilakukan dengan memasukkan alat khusus (transduser) melalui vagina. Pemeriksaan ini memberikan gambaran kondisi kehamilan yang lebih jelas dibandingkan USG perut, terutama pada usia kehamilan awal. Namun, USG ini biasanya tidak dianjurkan pada trimester akhir karena dapat meningkatkan risiko perdarahan atau kondisi seperti plasenta previa.

Itu tadi fakta soal janin bisa "hilang" di dalam kandungan. Jadi, jangan selalu kaitkan hal ini dengan mistis atau makhluk gaib, ya! Konsultasikan dengan dokter untuk memmastikan kondisi dan kebenarannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article