“Memang aliran darah ke plasentanya buruk, misalnya pengental darah, sehingga plasentanya kecil, baby-nya juga kecil begitu,” ujarnya.
Plasenta Kecil, Apakah Bayi di Dalam Kandungan Juga Kecil?

Plasenta berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin, sehingga ukuran dan kesehatannya sangat memengaruhi pertumbuhan bayi.
Plasenta kecil dapat disebabkan oleh faktor seperti aliran darah tidak optimal, kekurangan nutrisi ibu, kelainan genetik, infeksi.
Meskipun plasenta kecil bisa berdampak pada pertumbuhan janin, dokter menegaskan perlu melihat faktor lain.
Plasenta adalah lapisan yang menempel pada rahim selama kehamilan dan berperan penting dalam menjaga aliran darah dari ibu ke bayi melalui tali pusar. Melalui plasenta, nutrisi dan oksigen dari tubuh ibu dialirkan dengan lancar ke janin, sehingga pertumbuhan dan perkembangan bayi di dalam kandungan dapat berlangsung dengan optimal.
Ukuran plasenta pada setiap ibu hamil bisa berbeda-beda. Sebagai jalur utama asupan nutrisi dan oksigen bagi janin, ukuran dan kondisi plasenta dapat memengaruhi pertumbuhan serta kesehatan bayi selama berada di kandungan.
Lantas, benarkah plasenta kecil berhubungan dengan bayi kecil di dalam kandungan? Berikut Popmama.com siapkan penjelasannya.
Table of Content
Plasenta Kecil, Apakah Bayi di Dalam Kandungan Juga Kecil?”

Plasenta yang kecil atau kurang berkembang sering disebut insufisiensi plasenta (placental insufficiency atau disfungsi plasenta). Kondisi ini membuat plasenta tidak mampu menyalurkan nutrisi dan oksigen secara optimal ke janin.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Yusfa Rasyid, membagikan penjelasannya melalui video di akun Instagram pribadinya @yusfarasyid pada 8 Desember 2025. Ia menekankan bahwa plasenta adalah jalur utama untuk oksigen dan nutrisi bagi janin. Jika ukuran plasenta lebih kecil, fungsinya bisa berkurang dan hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan serta perkembangan bayi di dalam kandungan.
Penyebab Plasenta Kecil yang Perlu Ibu Hamil Ketahui

Plasenta kecil bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan fungsinya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Aliran darah kurang optimal
Kondisi seperti hipertensi, preeklamsia, diabetes, atau penyakit ginjal dapat menyempitkan pembuluh darah ke plasenta sehingga suplai nutrisi dan oksigen berkurang.Nutrisi ibu kurang
Berat badan rendah sebelum hamil atau kenaikan berat badan yang minim selama kehamilan bisa membuat plasenta dan janin tumbuh lebih kecil.Faktor genetik atau bawaan janin
Kelainan kromosom seperti trisomi 13, 18, atau 21 dapat memengaruhi perkembangan plasenta.Lingkungan
Paparan asap rokok, alkohol, atau obat-obatan tertentu dapat mengganggu pertumbuhan plasenta.Masalah pada plasenta
Kondisi seperti plasenta previa, abrupsio, atau infark plasenta dapat membuat ukuran plasenta lebih kecil.Masalah pada janin
Bayi dengan FGR/IUGR (pertumbuhan janin terhambat) sering kali memiliki plasenta kecil.Usia ibu dan riwayat obstetri
Risiko lebih tinggi pada ibu berusia di atas 35 tahun atau yang pernah mengalami plasenta kecil sebelumnya.Infeksi
Infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, CMV, herpes) dapat memengaruhi jaringan plasenta.Gangguan autoimun dan lainnya
Lupus, stres, malnutrisi, atau paparan radiasi bisa mengganggu aliran darah ke plasenta.
Faktor Lain yang Memengaruhi Pertumbuhan Janin

Plasenta yang lebih kecil tidak otomatis membuat bayi akan mengalami masalah pertumbuhan. Ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi perkembangan bayi di dalam kandungan. Salah satunya adalah faktor keturunan, yang menentukan potensi ukuran tubuh bayi secara alami.
Selain itu, pertumbuhan janin juga dipengaruhi oleh aliran darah ke plasenta, kondisi tali pusar, ukuran janin, dan jumlah air ketuban. Semua faktor ini diperhitungkan bersama untuk memastikan bayi tumbuh dengan baik.
“Bukan satu-satunya diagnosis bahwa ada gangguan pada kehamilan, tapi mesti dilihat yang lain-lainnya,” ungkap Dokter Yusfa Rasyid.
Peran Penting Plasenta dalam Pertumbuhan Janin

Plasenta bukan sekadar ari-ari, tetapi organ yang memiliki banyak fungsi penting bagi janin. Ia bekerja seperti paru-paru dengan menyalurkan oksigen dari darah ibu ke janin, sekaligus membantu membuang sisa metabolisme seperti ginjal dan sistem pencernaan.
Pasenta berperan sebagai kelenjar hormon yang memproduksi hormon penting untuk menjaga kehamilan dan mendukung pertumbuhan organ janin. Plasenta juga bertindak sebagai sawar selektif, memastikan hanya nutrisi dan zat aman yang bisa melewati dari darah ibu ke janin, sekaligus melindungi bayi dari racun atau patogen berbahaya.
Semua fungsi ini membuat plasenta menjadi organ vital yang memengaruhi pertumbuhan dan kesehatan bayi selama berada dalam kandungan.
Tidak Semua Penyakit Mama Menular Lewat Plasenta

Banyak orang mengira plasenta bisa “bocor” sehingga semua penyakit mama otomatis menular ke janin. Padahal, plasenta bekerja sebagai sawar yang sangat selektif. Darah ibu dan bayi tidak bercampur, sehingga sebagian besar bakteri dan virus tidak bisa melewati plasenta.
Beberapa penyakit memang berisiko menular, tetapi tidak selalu terjadi. Misalnya, HIV dapat melewati plasenta, namun jarang terjadi. Dengan terapi yang tepat, risiko penularan ke janin bisa ditekan hingga kurang dari 1–2%, dan penularan lebih sering terjadi saat persalinan atau menyusui.
Hepatitis B hampir tidak menembus plasenta, dan penularan saat lahir dapat dicegah lebih dari 90–95% dengan imunisasi dan HBIG. Sementara itu, Hepatitis C berisiko menular sekitar 5–10%, terutama bila viral load ibu tinggi atau ada koinfeksi.
Selain itu, mitos seperti makanan pedas yang “langsung terasa” oleh janin tidak benar. Plasenta bukan sekadar sisa tubuh yang tidak penting, melainkan organ vital yang melindungi dan mendukung pertumbuhan bayi.
Nah, itu tadi tentang plasenta kecil berhubungan denngan bayi kecil di dalam kandungan. Semoga informasi ini bermanfaat.


















