Popmama.com/Marelda Ananda Kesuma Putri/AI
Terkadang, Mama mungkin tergoda untuk mengatakan, “Sudah aku kasih, kok,” padahal sebenarnya belum dilakukan. Kebohongan kecil seperti ini mungkin terasa menjadi jalan pintas agar orangtua berhenti mendesak, tetapi hal ini justru bisa merusak kepercayaan di kemudian hari, Ma.
Selain itu, orangtua mungkin akan terus mengulangi praktik serupa karena mengira cara tersebut memang sudah dilakukan dan tidak menimbulkan masalah.
Nah, daripada Mama berpura-pura mengikuti nasihatnya, cobalah sampaikan batasan dengan tetap sopan. Misalnya dengan kalimat:
“Ma, aku tahu Mama ingin yang terbaik, tapi untuk yang ini, kami sudah punya pertimbangan sendiri.”
Jika menyangkut keselamatan mama dan si Kecil, penting juga untuk menyampaikan batasan secara jelas dan memastikan semua orang yang ikut mengasuh bayi atau mendampingi kehamilan memahami serta mematuhinya.
Pada akhirnya, tujuan dari percakapan ini bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan menjaga kesehatan ibu dan bayi. Mama tetap bisa menghormati pengalaman orangtua tanpa harus mengikuti semua nasihatnya, terutama jika tidak sesuai dengan anjuran medis.
“Ingat, menghormati orang tua bukan berarti harus menyetujui semua pendapatnya. Kita bisa tetap santun sekaligus bertanggung jawab atas keputusan kesehatan keluarga,” tulis dr. Yusfa dalam unggahannya.
Itu dia informasi mengenai cara menanggapi nasihat jadul soal kehamilan tanpa harus berdebat menurut dokter. Jika diskusi tidak menghasilkan kesepakatan, Mama boleh mengakhiri percakapan, tetap tenang, dan mengambil keputusan berdasarkan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan, ya, Ma.
Semoga informasi ini bermanfaat!