Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Ibu Hamil Terkena Scabies, Bagaimana Cara Mengobatinya?
Freepik.com/freepik

Pernahkah Mama mengalami gatal-gatal di kulit akibat terkena penyakit scabies? Penyakit scabies atau yang dikenal dengan kudis merupakan gangguan kulit yang diakibatkan oleh parasit, yakni tungau.

Scabies dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita scabies maupun secara tidak langsung melalui bantal, selimut, baju, dan sebagainya yang telah terkontaminasi.

Scabies bukanlah penyakit yang membahayakan nyawa. Meski begitu, bagi mama yang tengah berbadan dua tentu harus lebih berhati-hati. Pasalnya, obat yang diberikan untuk mengatasi penyakit ini bisa jadi dapat berpengaruh pada janin dalam kandungan.

Lantas, bagaimana cara mengobati scabies yang aman bagi ibu hamil? Berikut penjelasan yang telah Popmama.com rangkum, yuk disimak!

Cara Mengobati Scabies yang Aman bagi Ibu Hamil

Freepik/Jcomp

Scabies merupakan penyakit yang sangat mudah penularannya. Siapa saja bisa terkena penyakit kulit yang diakibatkan oleh tungau ini, termasuk ibu hamil.

Jika terkena scabies, Mama akan merasakan gatal pada kulit dan rasa gatalnya akan semakin menjadi saat malam hari. Itu karena tungau menjadi lebih aktif saat malam hari.

Hal ini tentu sangat mengganggu ya, Ma. Namun, Mama tak perlu khawatir. Ada cara mengobati scabies yang aman bagi Ibu hamil, di antaranya dengan pemberian obat gatal alergi atau obat scabies.

Beberapa jenis obat scabies yang biasa diberikan untuk ibu hamil, antara lain:

1. Obat permethrin

Freepik

Obat permethrin termasuk jenis obat topikal atau salep yang biasa digunakan untuk pengobatan scabies. FDA (Food Drugs Administration) dan beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa penggunaan permethrin untuk pengobatan scabies tidak berisiko bagi ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Asalkan penggunaannya sesuai dengan resep dokter, yakni dengan mengoleskannya ke seluruh tubuh kecuali area wajah pada hari pertama selama 8 hingga 12 jam. Selanjutnya, lakukanlah pengulangan dengan treatment yang sama pada satu minggu kemudian.

Meski aman bagi ibu hamil, kemungkinan efek samping penggunanan obat ini tetap ada, seperti iritasi, alergi, kemerahan hingga rasa terbakar.

2. Chlorpheniramine (CTM)

Freepik/freepik

Jenis obat selanjutnya, yakni chlorpheniramine maleat (CTM). CTM merupakan obat antihistamin yang digunakan untuk menekan reaksi alergi dengan cara mengurangi rasa gatal pada kulit.

Obat ini tergolong aman dikonsumsi oleh ibu hamil, selama Mama mengonsumsinya dengan resep dan dosis yang tepat sesuai dengan kondisi scabies yang dialami.

Meski tergolong aman, munculnya efek samping dari penggunaan CTM pada ibu hamil tetap mungkin terjadi, seperti mual, muntah, sembelit, susah buang air kecil, nafsu makan berkurang, mengantuk, sakit kepala, gangguan penglihatan, dan area mulut, hidung, dan tenggorokan terasa kering.

Oleh sebab itu, Mama tetap harus mengkonsultasikan kondisi kehamilan mama ke dokter selama menggunakan obat permethrin maupun chlorpeniramine saat mengatasi scabies.

Selain mengonsumsi kedua obat yang telah disebutkan tadi, ada beberapa cara yang bisa Mama lakukan untuk mengurangi tingkat keparahan dan penularan scabies ke anggota keluarga lain.

Cara Mengurangi Keparahan dan Penularan Scabies

Pexels/Lisa Fotios

Tidak hanya mengonsumsi obat dan mengoleskan salep, Mama juga harus menerapkan hal-hal berikut ini untuk mengurangi tingkat keparahan dan penularan scabies ke anggota keluarga lainnya, yakni:

  • Setiap anggota keluarga yang belum tertular scabies sebaiknya juga menggunakan obat oles permethrin di seluruh tubuhnya untuk mencegah adanya penularan.

  • Gunakanlah air panas saat merendam dan mencuci pakaian, handuk, sprei, dan lainnya yang memiliki kontak langsung dengan kulit si penderita scabies.

  • Jemurlah semua yang telah dicuci tadi di bawah terik matahari.

Sekalipun ada cara mengobati scabies yang aman bagi ibu hamil, Mama tetap harus memastikan lingkungan sekitar mama selalu bersih dan sehat ya. Hal ini dilakukan agar Mama dan keluarga dapat terhindar dari penyakit-penyakit menular lainnya.

Editorial Team

Related Article