TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

7 Cara Ajari Anak Tentang Privasi agar Saling Menghormati

Penting bagi anak untuk memahami batasan privasi orang lain

Pexels/Ron Lach

Hidup bersosialisasi membuat anak-anak harus mampu berkomunikasi dan bergaul dengan lingkungannya. Memang penting untuk mengajarkan anak tentang berkomunikasi yang baik, namun mengajarkan anak tentang privasi juga tak kalah penting lho, Ma.

Privasi merupakan hal personal yang harus dijaga dari diri seseorang. Tentunya privasi termasuk hal terpenting yang harus dijaga dengan baik. Hal yang berkaitan dengan privasi bahkan harus diajarkan pada anak bahkan sejak kecil.

Hal ini dilakukan agar anak memahami pentingnya privasi, dan bagaimana cara saling menghormati serta menjaga privasi satu sama lain.

Untuk mengajarkan anak segala hal mengenai privasi, berikut ini Popmama.com telah menyiapkan tujuh cara ajari anak tentang privasi agar saling menghormati. Yuk simak informasinya!

1. Mengenalkan berbagai macam privasi pada anak

Pexels/Ketut Subiyanto

Hal pertama yang harus diajarkan orangtua dan termasuk yang paling penting dalam mengenalkan privasi adalah mengenai berbagai macam privasi yang ada pada anak. Terdapat privasi yang berkaitan dengan urusan personal dan ada pula yang berkaitan dengan privasi tubuh.

Untuk anak-anak yang umumnya belum memiliki urusan penting mengenai personal, maka privasi yang perlu ditekankan adalah mengenai tubuh. Privasi tubuh ini berkaitan dengan haknya untuk menolak segala bentuk kontak fisik dari orang lain yang tidak membuatnya merasa nyaman.

2. Tekankan rasa hormat terhadap ruang pribadi

Freepik/Karlyukav

Salah satu aturan pertama untuk menghormati privasi adalah menghormati ruang pribadi orang lain. Tapi, anak-anak kecil tentu tidak mengerti fakta ini, karena mereka suka dekat dengan orang lain.

Oleh karena itu, penting untuk mengajarkannya menjaga jarak tertentu dari orang lain, karena terlalu dekat dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman. Ada banyak cara untuk membuat anak mengerti bagaimana menjaga jarak yang nyaman dari siapa pun.

Misalnya, jika anak terlalu kecil untuk memahami satuan panjang, minta ia untuk berdiri dengan tangan di pinggul dan pastikan sikunya tidak menyentuh orang lain di sekitarnya.

Tetapi, jika anak sudah cukup besar untuk memahami konsep tersebut, maka mintalah ia untuk menjaga jarak dua kaki dari orang lain. Ajak anak berlatih menjaga jarak aman saat berinteraksi dengan orang lain di rumah.

3. Memastikan anak memahami apa itu privasi dengan membuat "skrip sosial"

Freepik/Tirachardz

Untuk memastikannya dapat memahami apa itu privasi, Mama dapat membuat sebuah "skrip sosial". Tulis apa yang dapat dilakukan anak untuk menghormati privasi, di selembar kertas.

Misalnya, "Aku tidak boleh menyentuh orang lain ketika sedang berbicara dengan mereka", "Aku harus menutup pintu ketika menggunakan kamar mandi", "Aku harus mengetuk pintu sebelum memasuki kamar." 

Tempelkan kertas ini di tempat di mana anak dapat membacanya beberapa kali di siang hari. Mama juga dapat menulis aturan yang berbeda pada lembar kertas yang berbeda. Setelah anak mulai mengikuti aturan tertentu dengan rajin, lepaskan lembaran tersebut.

4. Berikan contoh privasi melalui permainan peran

Freepik/lookstudio

Beberapa anak tidak dapat dengan mudah atau merasa sulit untuk memahami konsep ruang pribadi. Namun mereka dapat dengan mudah memahaminya dengan permaianan role-play atau bertukar peran.

Misalnya mintalah semua anggota keluarga untuk membentuk antrian, seakan-akan seperti mau masuk ke dalam bus dan minta anak untuk berdiri di belakang Mama pada jarak yang dianggap tepat.

Atau, minta anak untuk mengambilkan remote TV. Ketika ia datang untuk memberikannya kepada Mama, minta anak berhenti pada jarak yang tepat dan ambil darinya.

Saat Mama melakukan kegiatan ini, tetap tegaskan kepada anak bahwa ia perlu menjaga jarak yang layak antara dirinya dan orang lain.

5. Jelaskan pada anak tentang percakapan pribadi

Freepik/Kuprevich

Kebanyakan anak ingin tahu tentang orang dewasa. Ia suka mendengarkan percakapan orang dewasa dan ikut serta dengan menyampaikan pandangan mereka.

Buat anak memahami bahwa ketika orang dewasa sedang berbicara dengan lembut satu sama lain, itu adalah tanda bahwa mereka tidak ingin orang lain mendengarkan.

Di sisi lain, ketika orang yang anak kenal berbicara dengan keras, ia dapat bergabung dengan mereka. Namun dengan syarat harus tetap meminta izin sebelum melakukannya.

Konsep privasi saat ini meluas ke ponsel dan komputer pribadi juga. Anak-anak menganggap gadget ini sangat menarik dan sering mencoba melihat layar saat orang lain menggunakannya. Ajari anak bahwa bahwa melakukan itu tidak sopan.

6. Dorong anak untuk meminta izin sebelum melihat sesuatu yang merupakan milik orang lain

Pexels/amber currin

Kebanyakan anak kecil suka mengambil apa pun yang mereka anggap menarik, baik itu di rumah seseorang atau di toko. Maka itu, ajari anak perbedaan antara apa yang menjadi miliknya dan apa yang bukan.

Mama juga bisa mengatakan padanya bahwa jika ia ingin melihat sesuatu yang merupakan milik orang lain, ia harus meminta izin terlebih dahulu. Juga, ajari anak untuk mengetuk pintu dan meminta izin sebelum memasuki ruangan.

7. Jadilah teladan yang baik untuk mengajarkan anak tentang privasi

Freepik/andranik.h90

Bukan rahasia umum lagi jika anak-anak cenderung belajar dari kebiasaan orangtua mereka. Karena itu, sebagai orangtua, penting bagi Mama untuk meneladani pentingnya privasi di depan anak-anak mama.

Misalnya, meminta izin sebelum menangani barang-barang miliknya seperti tas sekolah, atau memasuki kamar, atau bergabung dalam percakapan anak dengan temannya. Ini akan membantunya memahami cara berlatih menghormati privasi.

Nah itulah tujuh cara ajari anak tentang privasi agar saling menghormati. Ketika anak-anak tumbuh, batas-batas pribadinya akan berkembang, dan ia akan membutuhkan lebih banyak privasi.

Tapi, sementara anak belajar tentang menghargai privasinya sendiri, ia juga harus belajar untuk menghormati batasan yang ditetapkan oleh orang lain. Semoga informasinya bermanfaat ya, Ma!

Baca juga:

The Latest