TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Jenis Obat Antikolinergik yang Mengobati Berbagai Kondisi

Obat antikolinergik hanya tersedia dengan resep dokter, lho!

Pexels/Anna Shvets

Apakah dokter pernah meresepkan kamu obat antikolinergik?

Secara medis, obat ini digunakan untuk mengobati berbagai kondisi. Termasuk penyakit paru obstruktif kronik, kondisi kandung kemih dan gangguan gastrointestinal.

Obat antikolinergik memblokir aksi neurotransmitter yang disebut asetilkolin, seperti yang dilansir dari Healthline.

Mengenai hal tersebut Popmama.com akan membahas daftar 5 jenis obat antikolinergik. Apa sajakah itu?

1. Atropine diberikan setelah timbulnya gejala keracunan

Pexels/Artem Podrez

Biasanya atropine adalah obat yang sering diresepkan dokter untuk mengobati gejala detak jantung rendah.

Bahkan juga dapat mengurangi air liur dan penangkal overdosis obat kolinergik atau keracunan jamur. 

Diwartakan dari Drugs, atropine kadang-kadang digunakan sebagai penangkal beberapa jenis keracunan dan tujuan yang tidak tercantum dalam panduan pengobatan ini.

Biasanya atropine disuntikkan ke otot, di bawah kulit. Terkadang dengan cara diinfus ke pembuluh darah yang diberikan sesegera mungkin setelah timbulnya gejala keracunan.

2. Benztropine mesylate untuk pengobatan Parkinson

Pexels/Castorly Stock

Benztropine mesylate adalah jenis obat antikolinergik. Paling sering digunakan sebagai pengobatan tambahan dalam terapi semua bentuk Parkinson.

Bahkan benztropine mesylate juga bisa mengendalikan gangguan ekstrapiramidal, yakni efek samping yang timbul dari penggunaan obat antipsikotik.

Diinformasikan dari Webmd, minum obat benztropine mesylate melalui mulut seperti yang diarahkan oleh dokter. Biasanya 2-4 kali sehari dengan makanan dan sebelum tidur.

Dokter mungkin memulai kamu dengan dosis rendah dan meningkatkan dosis secara perlahan untuk menemukan dosis terbaik.

3. Clidinium memperlambat gerakan alami usus

Pexels/Artem Podrez

Clidinium termasuk kelas obat antikolinergik yang membantu mengurangi gejala kram perut dan usus. 

Cara kerjanya sendiri dengan memperlambat gerakan alami usus dan mengendurkan otot-otot di perut maupun usus. 

Dikutip dari Medlineplus, beri tahu dokter dan apoteker jika kamu alergi terhadap clidinium. Tanyakan juga pada apoteker untuk daftar bahan-bahannya.

Minum clidinium melalui mulut yang biasanya 3-4 kali sehari, yakni 30-60 menit sebelum makan dan sebelum tidur.

4. Cyclopentolate digunakan sebelum pemeriksaan mata

Pexels/Karolina Grabowska

Umumnya, cyclopentolate digunakan sebelum pemeriksaan mata seperti pemeriksaan refraksi sikloplegik atau oftalmoskopi.

Cyclopentolate sendiri milik kelas obat antikolinergik yang bekerja dengan mengendurkan otot-otot mata.

Dirilis dari Mayoclinic, cyclopentolate digunakan untuk melebarkan (memperbesar) pupil. Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter.

Pasien bisa mengoleskan cyclopentolate di mata 40-50 menit sebelum prosedur atau sesuai yang diarahkan oleh dokter. Obat cyclopentolate pum mulai bekerja dalam hitungan menit.

5. Darifenacin memiliki lebih sedikit efek samping

Pexels/Anna Shvets

Umumnya, darifenacin diresepkan untuk mengobati kandung kemih yang terlalu aktif.

Namun kamu tidak boleh mengonsumsi darifenacin jika memiliki glaukoma sudut sempit yang tidak diobati atau tidak terkontrol.

Darifenacin digunakan dalam mengobati gejala hilangnya kontrol kandung kemih, urgensi dan frekuensi. Darifenacin memiliki lebih sedikit efek samping, seperti yang diberitahu oleh Goodrx.

Kamu dapat mengonsumsi darifenacin sebelum atau sesudah makan. Telan tablet darifenacin dengan segelas air. 

Itulah 5 jenis obat antikolinergik. Namun kelompok lanjut usia tidak dapat mengonsumsi obat-obatan ini. 

Baca juga:

The Latest