TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

7 Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Virus Flu Babi yang Baru

Berpotensi jadi pandemi namun sedang diawasi ketat oleh WHO

Freepik

Pandemi covid-19 belum juga selesai, kini sudah ada virus baru yang dikatakan tak kalah bahaya dari corona. Flu babi G4 kini ditemukan di beberapa daerah di China. 

Flu babi dengan strain virus H1N1 kini bermutasi menjadi G5 EA H1N1. Meski bukan virus baru, namun ini dikhawatirkan bisa berkembang menjadi pandemi selanjutnya. 

Saat ini, baik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), otoritas China, dan jaringan pengawasan influenza global di seluruh dunia tengah mengawasi virus flu babi ini. 

Lalu, perlukah khawatir tentang virus ini? Apa saja yang harus diketahui tentang flu babi G4, berikut Popmama.com jabarkan untuk kamu.

1. Virus strain ini sudah diawasi sejak tahun 2011

Freepik/pressfoto

Menurut Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan, Diketahuinya tentang virus flu babi G4 adalah temuan dari pengawasan yang telah dilakukan bertahun-tahun. 

Penelitian tentang virus ini sudah dimulai pada tahun 2011 dan masih berlangsung hingga 2018 lalu. Penelitian tersebut menemukan varian genotipe 4 virus H1N1 yang menyerupai burung Eurasia (G4 EA H1N1).

Peneliti telah mengambil 30.000 sampel usap hidung babi dari berbagai rumah jagal dan rumah sakit hewan yang tersebar di 10 provinsi di China. Dari sanalah, peneliti mengetahui bahwa setidaknya ada 179 virus flu babi. 

Mayoritas virus flu yang ditemukan merupakan jenis baru yang dominan ditemukan pada babi sejak 2016 lalu. 

2. Vaksin yang sudah diberikan tidak bisa menangkal strain virus baru ini

Freepik/8photo

Para peneliti melakukan percobaan pada hewan ferret karena memiliki reaksi yang mirip dengan manusia. Mereka memiliki gejala sakit yang mirip dengan manusia terutama demam, batuk, dan bersin.

Dari sana, terlihat bahwa flu G4 sangat menular dan bereplikasi pada sel manusia. Selain itu, virus ini memiliki efek gejala yang lebih serius pada ferret daripada virus flu lainnya.

Vaksin untuk flu babi H1N1 sudah ditemukan dan sudah banyak orang yang mengambil imunisasinya. Namun sayangnya, tidak bisa membuat orang tersebut jadi kebal akan virus flu babi G4. 

Dari tes yang dilakukan para peneliti, kekebalan yang didapat manusia dari paparan flu musiman tidak bisa memberikan perlindungan dari flu terbaru ini. 

3. Penularannya bisa dari tetesan air liur atau kontak langsung

Freepik

Dari penelitian menggunakan ferret, terlihat bahwa tanpa upaya pemisahan antara ferret yang sehat dan sakit, mereka akan dengan mudah tertular virus. 

Dengan begitu, berarti virus G4 bisa menular lewat kontak langsung. 

Di eksperimen berikutnya, mereka memisahkan ferret yang sehat dengan yang sakit namun tetap membiarkan yang sakit batuk ke arah yang sehat. Terjawab bahwa ferret yang sehat tetap bisa tertular. 

Yang berarti, virus flu G4 bisa menular melalui tetesan air liur. 

4. Virus melekat di jaringan trakea dan menginfeksi saluran nafas manusia

thehealthsite.com ilustrasi sesak napas

Berdasarkan jurnal dari Proceeding of National Academic of Science (PNAS) virus ini bisa menempel di sel manusia. Pada khususnya, sel-sel yang melapisi trakea. 

Virus ini melekat di tabung penghubung saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Dengan begitu, virus ini bisa menuju paru-paru manusia. 

Dari jurnal tersebut juga terungkap bahwa sel-sel yang biasanya melapisi bronkus dan alveoli manusia berhasil diinfeksi dengan virus G4 di laboratorium. 

Setelah masuk ke sel manusia, barulah virus ini berkembang biak dan menyebar.

5. Orang yang berhubungan langsung dengan babi lebih berpotensi terkena virus

Pixabay/Jai79

Selama 2 tahun, para peneliti telah mengambil sampel di antara pekerja industri babi di 15 peternakan berbeda.

Mereka juga mengambil sampel orang yang bukan pekerja di industri babi, serta tidak tinggal bersama mereka. Ini dilakukan untuk membuat perbandingan populasi umum. 

Hasilnya, 10,4% sampel pekerja industri babi dan 4,4% sampel populasi umum telah memiliki antibodinya. Kemungkinan, mereka telah terinfeksi virus G4 di beberapa titik. 

Analisis statistik mengungkapkan bahwa para pekerja di industri babi memiliki kemungkinan tertular virus G4 2,25% lebih besar dibanding populasi umum. 

Kemungkinan penularan orang yang bekerja di industri babi adalah sebesar 6,5% dan penularan dari populasi umum adalah sebesar 2,2%. 

Angka ini jauh lebih tinggi dibanding kemungkinan penularan virus flu babi G1 yang telah ada sebelumnya. Dengan kata lain, virus G4 bisa jadi lebih menular dari virus pendahulunya.

6. Dianggap tidak akan menjadi pandemi dalam waktu dekat oleh CDC China

Freepik/prostooleh

Jurnal Proceeding of National Academic of Science telah menjabarkan alasan kenapa virus ini bisa jadi pandemi. Namun hal ini ditampik dengan mudah oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China. 

Mereka meyakinkan publik untuk tidak terlalu khawatir tentang hadirnya strain virus yang baru ini. CDC China mengatakan jenis baru virus G4 ini punya potensi (jadi pandemi), namun bukan ancaman kesehatan masyarakat secara langsung. 

Menurut CDC, reassortment dan mutasi virus influenza adalah hal biasa dan mereka dapat menyebabkan pandemi. Namun tidak bisa diprediksi kapan dan bagaimana virus ini bisa menyebabkan pandemi.

7. Flu babi G4 berbeda dengan demam babi Afrika

Freepik

Flu babi atau swine fever tidaklah sama dengan African swine fever (ASF). Hal ini dikatakan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, dr Siti Nadia Tarmizi. 

Menurutnya, keduanya memang penyakit pada babi. Yang membedakannya adalah penularannya. Sejauh ini, ASF hanya menular dari hewan ke hewan dan belum ada bukti bisa menular ke manusia. 

Sedangkan swine fever atau flu babi telah jelas bisa menularkan ke manusia. Orang yang bekerja di industri babi lebih rentan terkena dibanding oleh orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan industri babi. 

Di masa seperti ini, penting sekali untuk tetap menjaga jarak dengan orang sekitar dan selalu memakai masker. Rajin-rajinlah mencuci tangan dan patuhi protokol kesehatan. 

Baca juga:

The Latest