TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Takut Berada di Luar Ruangan, Mungkinkah Mengalami Agoraphobia

Agoraphobia, jenis phobia, gejala, penyebab, penanganan dan pengobatan

thetreatmentspecialist.com

Banyak orang merasa takut karena ular, gelap, hantu, kecoa atau tikus. Ketakutan tersebut bisa dikategorikan sebagai rasa takut yang normal.

Namun ada beberapa memiliki rasa takut berlebih terhadap sesuatu yang lebih spesifik pada suatu kejadian atau keadaan.

Pernah mendengar istilah agoraphobia?

Agoraphobia adalah fobia atau rasa takut yang luar biasa ketika berada di luar ruangan. Orang yang mengalami agoraphobia merasa dirinya sangat tersiksa jika sedang berada di luar ruangan. Mengintip ke luar ruangan dari dalam saja sepertinya butuh persiapan lebih.

Ketakutan akan berada di luar ruangan disebut agorophobia atau agorafobia.

Mungkin, Mama bertanya-tanya mengapa ada orang yang mengidap agorafobia? Berikut sharing dari Popmama.com mengenai fobia ini.

1. Apa itu Agoraphobia

online.grace.edu

Kata agorophobia berasal dari “Agora” bahasa Yunani yang berarti tempat berkumpul atau tempat terbuka. Sedangkan phobia adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan ketakutaan berlebihan pada objek atau situasi tertentu.

Agoraphobia adalah jenis gangguan kecemasan atau rasa takut, dimana penderita  akan menghindari tempat atau situasi yang dapat menyebabkan mereka panik, merasa terjebak, tidak berdaya atau malu.

Tempat-tempat yang membuat penderita merasa takut biasanya tempat-tempat yang ramai, seperti mal, pasar, pada saat menggunakan transportasi umum, ketika sedang mengantre, atau sesimpel ketika berada di tengah-tengah orang banyak.

2. Gejala Agoraphobia

everydayhealth.com

Biasanya ada tiga gejala yang dialami oleh penderita agoraphobia, yaitu:

  • Gejala fisik

Gejala fisik terjadi ketika penderita berada dalam situasi atau lingkungan yang menyebabkan kecemasan.

Biasanya penderita akan mengalami jantung yang berdetak lebih cepat, bernapas lebih cepat dan tidak beraturan (hiperventilasi), tiba-tiba berkeringat, merasa sakit di dada, gemetar, pusing, dan untuk kasus-kasus tertentu sampai mengalami diare.

  • Gejala kognitif

Gejala kognitif adalah perasaan atau pikiran penderita ketika berada dalam situasi yang membuatnya takut.

Gejala ini seperti:

  • serangan panik (panic attack) bahwa penderita akan terlihat bodoh atau merasa malu di depan orang lain,
  • perasaan seperti semua orang melihat kepada dirinya,
  • bisa juga perasaan bahwa serangan panik yang dialaminya akan mengancam jiwanya.

Perhatikan gejala di atas yang mungkin terjadi.

  • Gejala perilaku

Gejala perilaku yang sering dilakukan penderita adalah sebagai berikut:

  • menghindari situasi yang dapat menyebabkan serangan panik, seperti tempat-tempat ramai, transportasi umum dan antrian
  • sengaja mengisolasi diri di rumah, tidak mau meninggalkan rumah untuk waktu yang lama 
  • jika harus pergi keluar rumah
  • selalu minta ditemani oleh orang lain yang dipercaya.

3. Penyebab Agoraphobia

m1psychology.com

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa menjadi agoraphobia, yaitu:

  • Gangguan panic (panic disorder) merupakan salah satu gangguan kecemasan. Penderita gangguan panic, menderita serangan ketakutan (panic attack) berulang dan tiba-tiba,
  • Fakto psikologis seperti, penderita punya pengalaman masa kecil yang traumatis – ditinggal orang tua atau mengalami pelecehan seksual; mengalami peristiwa yang membuat stress berat seperti perceraian atau kehilangan pekerjaan;  sudah mempunyai riwayat penyakit kejiwaan sebelumnya seperti depresi, anorexia dan bulimia.
  • Agorafobia juga dapat dipicu oleh sejumlah ketakutan irasional (fobia) yang berbeda, seperti ketakutan: menjadi korban kejahatan atau serangan teroris jika meninggalkan rumah; terinfeksi oleh penyakit serius jika mengunjungi tempat-tempat ramai.

4. Penanganan Agoraphobia

inspiredmagz.com

Ada beberapa tehnik yang dapat dipakai untuk mengatasi serangan panik, seperti:

  • Bernapaslah perlahan dan dalam 

Perasaan panik dan cemas seringkali membuat kondisi menjadi bertambah buruk jika kita bernapas terlalu cepat. Coba untuk fokus pada pernapasan yang lambat dan dalam, sambil menghitung perlahan sampai 3 pada setiap napas masuk dan keluar.

  • Tetap di tempat atau diam ditempat

Coba untuk menahan keinginan untuk lari ke tempat yang aman saat serangan panik. Jika sedang mengemudi, menepi dan parkir di tempat yang aman untuk melakukannya. Kemudian bernapas lambat dan dalam untuk memulihkan diri.

  • Fokus

Fokus pada sesuatu atau satu barang yang tidak mengancam dan terlihat. Seperti lihat satu barang di supermarket, atau fokus lihat detik di jam tangan kamu, sambil mengingatkan diri sendiri bahwa pikiran dan sensasi yang menakutkan adalah tanda panik dan seiring dengan waktu akhirnya akan berlalu.

  • Visualisasi kreatif

Selama serangan panik, coba untuk menahan keinginan untuk berpikir negatif, seperti memikirkan bencana.  Pikirkan saja tempat atau situasi yang membuat kamu merasa damai, rileks, atau merasa nyaman.

  • Hindari minuman yang mengandung kafein

Seperti teh, kopi atau air soda, kafein memiliki efek stimulan dan dapat membuat gejala panik bertambah buruk.

5. Pengobatan Agoraphobia

ghs.org

Pengobatan agoraphobia dapat dilakukan dalam beberapa tahap, untuk tahap-tahap awal penderita akan disarankan untuk untuk:

  • Menjalani psikoterapi dengan psikolog atau psikiater untuk mencoba melakukan perubahan pola hidup, teknik  menolong diri sendiri (self-help), program menolong diri sendiri terbimbing (guided self-help).
  • Terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT). Terapi kognitif bertujuan membantu melatih cara berpikir atau fungsi kognitif dan cara bertindak (behavior)
  • Jika terapi sudah tidak mempan untuk membantu penderita, maka dokter akan mengkombinasikan CBT dengan obat-obatan antidepresan agar meredakan serangan yang dialami, misalnya dengan memberikan obat-obatan dengan golongan SelectiveSerotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs) dan  Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRIs).

Tanpa perawatan, agoraphobia dapat menyebabkan rasa isolasi dan kesepian yang luar biasa, namun dengan terapi dan medikasi yang tepat, penderita dapat melakukan aktifitas dan menikmati hidup.

Baca juga:

The Latest