TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Terdeteksi di Singapura, IDI Imbau Dokter Waspadai Gejala Cacar Monyet

Pemahaman yang baik dan kewaspadaan dini menjadi modal utama pencegahan cacar monyet di Indonesia

Freepik/Kuprevich

Sementara dunia baru mulai pulih dari pandemi Covid-19, penemuan penyakit monkeypox atau cacar monyet, telah mengganggu beberapa negara dan menyebabkan kekhawatiran.

Badan Kesehatan Dunia WHO, telah menetapkan status darurat untuk kasus cacar monyet. Meski jarang terjadi, hingga 25 Juli 2022 lalu, sudah terdapat 18.905 kasus konfirmasi monkeypox di seluruh dunia, dengan 17.852 kasus terjadi di negara tanpa riwayat kasus konfirmasi sebelumnya.

Sebagai bentuk pencegahan awal, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta seluruh dokter agar waspada dengan gejala cacar monyet agar bisa segera ditindaklanjuti.

Untuk mengetahui perkembangan cacar monyet, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa fakta berdasarkan dari rilis Ikatan Dokter Indonesia pada 27 Juli 2022 secara lebih detail.

1. Cacar monyet atau Monkeypox merupakan suatu penyakit infeksi virus yang bersifat zoonosis

Freepik/randpixi

Cacar monyet atau Monkeypox adalah suatu penyakit infeksi virus, bersifat zoonosis dan jarang terjadi.

Beberapa kasus infeksi pada manusia (human monkeypox) yang pernah dilaporkan, terjadi secara sporadis di Afrika Tengah dan Afrika Barat, dan umumnya pada lokasi yang berdekatan dengan daerah hutan hujan tropis.

Cacar monyet ini tergolong ke dalam genus orthopoxvirus. Virus lain yang juga berasal dari genus orthopoxvirus adalah virus variola yang menyebabkan penyakit cacar (smallpox). Virus ini telah dinyatakan tereradikasi di seluruh dunia oleh WHO pada tahun 1980.

2. WHO telah menerima laporan kasus monkeypox yang berasal dari negara non endemis

Freepik/Jruiz1708

Berdasarkan data dari WHO, penyakit cacar monyet ini pada awalnya teridentifikasi pada tahun 1970 di Zaire dan sejak itu dilaporkan secara sporadis di 10 negara di Afrika Tengah dan Barat.

Kemudian pada tahun 2017, Nigeria mengalami outbreak terbesar yang pernah dilaporkan, dengan perkiraan jumlah kasus yang terkonfirmasi sekitar 40 kasus.

Sejak Mei 2022, monkeypox menjadi penyakit yang menarik perhatian kesehatan masyarakat global, karena dilaporkan dari negara non endemis.

Sejak tanggal 13 Mei 2022, WHO telah menerima laporan kasus-kasus monkeypox yang berasal dari negara non endemis, dan saat ini telah meluas secara global dengan total 75 negara.

Hingga 25 Juli 2022 terdapat 18.905 kasus konfirmasi monkeypox di seluruh dunia, dengan 17.852 kasus terjadi di negara tanpa riwayat kasus konfirmasi sebelumnya.

Bahkan, Amerika Serikat melaporkan kasus monkeypox sebesar 3.846 kasus. Di ASEAN, Singapura telah melaporkan 9 kasus konfirmasi dan Thailand melaporkan 1 kasus konfirmasi.

3. Penularan utama penyakit cacar monyet melalui kontak manusia dengan kulit hewan yang terinfeksi

Pixabay/a_m_o_u_t_o_n

Dikatakan oleh dr. Adityo Susilo, SpPD, KPTI, FINASIM dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), penularan utama penyakit cacar monyet adalah kontak manusia dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada mukosa maupun kulit hewan yang terinfeksi.

Di Afrika, kasus infeksi cacar monyet pada manusia yang pernah dilaporkan, berhubungan dengan riwayat kontak dengan hewan yang terinfeksi seperti monyet, tupai, tikus dan rodents lainnya.

Memakan daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak dengan matang juga dikatakan dapat menjadi metode penularan yang lainnya.

“Adapun penularan antar manusia, diduga dapat terjadi sebagai akibat dari kontak erat dengan pasien yang terinfeksi secara langsung (direct close contact) melalui paparan terhadap sekresi saluran napas yang terinfeksi, kontak dengan lesi kulit pasien secara langsung, maupun berkontak dengan objek yang telah tercemar oleh cairan tubuh pasien,” kata dr. Adityo Susilo.

dr. Adityo juga menjelaskan bahwa transmisi secara vertikal, yaitu dari Mama ke janin melalui plasental (infeksi Cacar Monyet kongenital) juga dimungkinkan.

4. Proses inkubasi cacar monyet yang berkisar antara 5-21 hari

Freepik

Periode inkubasi cacar monyet berkisar antara 5-21 hari dengan rerata 6-16 hari.

Setelah melewati fase inkubasi, pasien akan mengalami gejala klinis berupa demam tinggi dengan nyeri kepala hebat, limfadenopati, nyeri punggung, nyeri otot dan rasa lemah yang prominen.

Dalam 1-3 hari setelah demam muncul, pasien akan mendapati bercak-bercak pada kulit, dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Bercak tersebut terutama akan ditemukan pada wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Seiring waktu bercak akan berubah menjadi lesi kulit makulopapuler, vesikel dan pustule yang dalam 10 hari akan berubah menjadi koreng.

5. Masyarakat juga perlu mewaspadai terhadap kemungkinan masuknya virus ini di Indonesia

freepik

dr. Adityo, yang juga merupakan pengurus pusat PETRI (Perhimpunan Kedokteran Tropis dan Penyakit Infeksi Indonesia) menerangkan bahwa hingga saat ini masih belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi cacar monyet.

Meski demikian, di masa lalu, vaksinasi terhadap penyakit cacar/smallpox yang disebabkan oleh karena infeksi virus Variola, dikatakan dapat memberikan efektivitas proteksi sebesar 85 persen untuk mencegah infeksi cacar monyet.

dr. Adityo kembali mengingatkan bahwa dengan ditemukannya kasus cacar monyet di Singapura, maka masyarakat juga perlu mewaspadai terhadap kemungkinan masuknya virus ini di Indonesia.

Hal ini menjadi lebih penting terutama pada populasi khusus oleh karena risiko fatalitas cacar monyet ini dikatakan lebih tinggi pada kelompok anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan imunitas rendah (imunosupresi).

Namun demikian, dengan berkaca kepada pandemi Covid-19 yang telah melanda, masyarakat harus selalu optimis bahwa dengan bekerja sama, dunia akan mampu bergerak secara cepat menyikapi situasi ini.

6. Pemahaman yang baik dan kewaspadaan pada infeksi cacar monyet menjadi modal utama dalam pencegahan

Freepik/user19579769

Dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI, mengatakan bahwa pemahaman yang baik terhadap infeksi cacar monyet dan kewaspadaan dini terhadap Kejadian Luar Biasa atau outbreak, menjadi modal utama dalam aspek pencegahan.

Upaya untuk menghindari kontak dengan pasien yang diduga terinfeksi merupakan kunci pencegahan yang dinilai paling efektif pada saat outbreak, diiringi dengan upaya surveilans dan deteksi dini kasus aktif guna melakukan karantina untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

Dr. Agus juga meminta tenaga kesehatan, baik dokter maupun perawat yang menemukan gejala cacar monyet pada pasien, agar segera melakukan tindak lanjut dengan tes PCR (Polymerase Chain Reaction).

Ini merupakan metode pemeriksaan virus cacar monyet dengan mendeteksi DNA virus tersebut, dan segera melaporkan ke Dinas Kesehatan setempat, agar bisa segera dilakukan surveilans dan tindakan lebih lanjut lainnya.

Nah itulah informasi seputar cacar monyet yang harus kita waspadai. Yuk, jaga terus kesehatan dan kebersihan diri sendiri dan keluarga tercinta, agar terhindar dari penyakit cacar monyet dan penyakit berbahaya lainnya.

Tetap sehat selalu, ya!

Baca juga:

The Latest