TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Eksklusif: Perjalanan Emosi Sabai Morscheck hingga Menjadi Mama Dari yang Dulunya Tidak Suka Anak-Anak

Dari susahnya punya anak pertama, kesulitan mengASIhi hingga akhirnya menemukan mana 'saling' sebagai keluarga

Dok. Pribadi Ringgo Agus dan Sabai Morscheck

Setiap perempuan punya perdebatan dan pergolakannya sendiri dalam hidup. Pepatah menyebut jika seorang perempuan akan lahir kembali ketika ia menjadi seorang Mama. Rupanya pepatah ini cukup berlaku pada diri Sabai Dieter Morscheck.

Bersama suaminya, Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck menjadi Millennial Family of The Month Februari 2021 dari Popmama.com. Sabai Morscheck menceritakan perjalanan dan proses emosinya dari sebelum menikah hingga punya anak. Ia mengaku banyak dari dirinya yang berubah. Bahkan Ringgo saja sempat kaget dengan perubahan tersebut.

"Dulu memang tidak punya bayangan menikah itu seperti apa. Ternyata waktu sudah menikah kita masing-masing punya ekspektasi yang lebih tinggi dari pasangan, lalu ribut, sampai akhirnya kita masing-masing mengerti karakter masing-masing," jelas Sabai.

Untuk sampai di tahap mengerti karakter saja, perempuan yang punya darah Jerman ini butuh waktu dan penyesuaian yang tidak mudah. Hingga akhirnya punya anak pun ia masih berproses dengan hal-hal seputar pematangan emosinya.

Berikut Popmama.com rangkum lebih lengkap Sabai Morscheck dan ceritanya soal menjadi Mama hingga emosinya berubah.

1. Dulu cuek dan tidak suka anak-anak, Sabai Morscheck berubah sejak melahirkan

Instagram.com/sabaidieter

Sabai menceritakan dulunya ia adalah bukan tipikal orang yang menyukai anak-anak. Ia kerap bingung jika ditempatkan pada situasi dengan anak kecil.

"Apalagi untuk menggendong bayi dulu tidak bisa. Tapi sudah kepikiran punya anak, kalau ditanya ya saya mau sekali punya anak. Seperti fase kehidupan, entah insting mungkin setelah punya anak langsung bisa sayang dan langsung bisa mengurusnya," jelas Sabai.

Ringgo yang berada disamping Sabai melihat perubahan istrinya sejak belum menikah, hingga akhirnya berumah tangga dan punya anak sangat berbeda. Papa dua anak ini menyebut jika istrinya itu dulu orang yang cuek. Namun, ketika sudah punya anak ia berubah menjadi sosok yang protektif dan perhatian.

"Beda banget, Saya bahkan tidak pernah menyangka kalau dia pas sudah punya anak bakal segini protektifnya. Saya pikir dia akan jadi orang yang tetap cuek," tutur Ringgo. 

Perubahan itu membuat Sabai kini cukup 'posesif' dalam artian yang baik ke anaknya. Contohnya adalah Bjorka yang baru bisa Sabai berani tinggal ketika dia berumur 3 tahun. 

"Dulu tidak pernah saya tinggal sama sekali. Anak itu kemanapun harus saya bawa. Pokoknya tidur sama saya, sampai seposesif itu. Bjorka saja baru berani saya tinggal pergi keluar cukup lama waktu umur 3 tahun. Dulu kayaknya baru ditinggal bentar, kemana gitu, langsung khawatir," tutur Sabai. 

Namun, karena hal itu justru membuat momen dirinya dan keluarga seolah hangat setiap saat. Ia dan Ringgo tidak mempermasalahkan soal waktu berdua karena sudah terbiasa pergi-pergi dengan anak.

"Karena terbiasa selalu bareng, jadi rasanya pasti ada yang kurang kalau sama anak. Jadinya malah jadi keluarga banget," jelas Ringgo Agus.

2. Pertama kali menjadi ibu adalah perjalanan berat bagi Sabai untuk menyesuaikan

Instagram.com/sabaidieter

Sabai menceritakan dirinya adalah orang yang segan meminta bantuan kepada siapa pun. Namun, justru itu yang membuatnya menjadi kewalahan ketika mengurus anak pertamanya dulu. Sampai, akhirnya ia merasa kelelahan karena 'sok kuat' mengerjakan semuanya sendiri.

"Saya tipe orang yang mungkin sampe sekarang kali ya, segan minta tolong jadi 'oke saya bisa kok sendiri, masa tidak bisa' begitu. Dari pertama mengurus Bjorka waktu lahir saya ngotot kalau saya bisa. Akhirnya memang capek banget sampai beberapa kali saya menangis karena saking lelahnya," tutur Sabai.

Waktu pertama kali punya anak, Sabai seolah parno dan takut untuk meninggalkan Bjorka kecil. Bahkan sampai ia mandi dan makan pun tidak tenang karena takut anaknya itu menangis tiba-tiba. 

Belum lagi masa-masa menyusui dulu diakui Sabai tidak semudah itu. Ia cukup berjuang keras untuk memberikan ASI eksklusif kepada Bjorka. Disebutkan Ringgo saking beratnya ia turut prihatin dan merasa iba dengan kejadian itu jika diingat-ingat.

"Waktu ASI juga tidak segampang yang kita pikir. Waktu ASI eksklusif itu Bjorka 2 tahun 3 bulan atau 27 bulan itu waktu perjalanan awalnya untuk supaya bisa menyusui sangat perjuangan," tuturnya. 

Stres pun menjadi suatu hal yang tidak bisa terhindarkan di kehidupan sehari-hari Sabai waktu itu. Untungnya, Ringgo sebagai suami saat itu juga pengertian. Ia rela menanggalkan berbagai pekerjaan untuk menemani istrinya di awal-awal setelah melahirkan. 

"Saya melihat segala macam prosesya dari dia nangis dan sebagainya. Di sana saya sadar kalau perjuangan dia tidak mudah. Akhirnya saya ambil cuti beberapa pekerjaan," tutur Ringgo. 

Ringgo yang menemani dan melihat perubahan Sabai dari sebelum menikah sangat kaget dengan ketangguhan istrinya itu. Bahkan jika dibandingkan, Ringgo merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan Sabai menjadi seorang Mama. 

"Saya pernah liat dia seperti itu pas sebelum menikah. Itu perjuangan sampai nangis, hancur-hancuran untuk bisa menyesuaikan. Kalau melihat semuanya, malu sebenarnya kalau ditanya apa yang sudah saya lakukan untuk anak, dibandingkan dengan yang dia lakukan. Duh, saya malu kalau disamakan dengan Sabai, karena merasa tidak ada apa-apanya," pungkas Ringgo.

3. Perjalanan menjadi orangtua adalah proses belajar yang tak pernah selesai

Instagram.com/sabaidieter

Menjadi orangtua berarti harus siap belajar seumur hidup tentang anak. Menjadi orangtua sendiri tidak ada definisi pasti yang bisa jadi acuan. Sebab, setiap keluarga memiliki ciri khas dan definisinya masing-masing menjadi bahagia.

Oleh karenanya, menurut Sabai Morscheck tidak ada tolak ukur kesuksesan untuk menjadi orangtua atau perasaan sudah melewati banyak hal. Karena dalam kehidupan menjadi orangtua ke depannya, masih banyak hal yang harus dilakukan.

"Benar-benar step-by-step sih. Setelah menyusui 2 tahun, masih ada toilet traning, selanjutnya dan selanjutnya. Ada tantangan baru lagi mengurus anak di tengah pandemi, sekolah online, tantangan lagi, masih banyak," jelas Sabai.

Ringgo pun sebagai Papa dan suami Sabai merasa perjuangan sebagai orangtua itu adalah berjalan bersama seumur hidup. Ia menyebut jika baru merasa puas menjadi orangtua mungkin ketika ia dan Sabai sudah sama-sama tua dan melihat anak-anaknya dewasa dengan kehidupannya masing-masing.

"Jadi kita tidak tahu kapan merasa di titik bahagia atau selesai menjadi orangtua. Mungkin pas kita sudah tua kali ya. Cuman bagaiman Sabai merasa titik puas menjadi ibu masih belum. Karena dari bangun tuh dia sudah berjibaku dengan keluarga," tutur Ringgo.

Setiap perempuan yang beralih menjadi ibu tentu punya kesulitannya masing-masing. Setiap orangtua pasti juga ingin menjadi tang terbaik versi dan definisi dari tujuan keluarga tersebut.

Bagi pembaca, keluarga Baba Ringgo dan Mama Sabai ini bisa menjadi bukti. Definisi 'keluarga' bukan hanya soal banyak waktu untuk bersama, tapi juga 'saling' dalam segala hal.

#MillennialFamily of the Month Edisi Februari 2021 – Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck

Editor in Chief - Sandra Ratnasari
Lifestyle Editor - Onic Metheany  
Reporter – FX Dimas Prasetyo, Putri Syifa Nurfadilah
Social Media - Irma Erdiyanti
Art Designer – Aldia Nadezhda Mediani

Baca juga:

The Latest