Waspada! Bahaya Residu Asap Rokok untuk Bayi

Asap rokok berbahaya banget buat anak mama, apalagi kalau ia masih bayi

23 Juni 2018

Waspada Bahaya Residu Asap Rokok Bayi
www.freepik.com

Bagi para orangtua perokok, sebaiknya Mama dan Papa perlu mengetahui ada sejumlah alasan tambahan lain berbahayanya paparan asap rokok bagi Si Kecil. Ada 'risiko lain' yang mengintainya jika ia menghirup residu atau endapan racun dari asap rokok.

Sebuah studi yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Allergy, Asthma & Immunology's (dan dipublikasikan di The Journal of Allergy and Clinical Immunology) menyatakan ada hubungan antara paparan dengan kebiasaan buruk dan alergi makanan yang berpotensi berbahaya pada anak-anak.

"Paparan asap rokok, kepada anak di usia dini, selain menyebabkan potensi asma kepada anak. Dalam beberapa penelitian, paparan rokok juga memicu alergi dan eksim pada anak-anak," ujar salah satu periset dalam pertemuan tersebut, Anna Bergstrom, dari Institut Karolinska di Swedia.

Periset melakukan penelitian terhadap sekitar 3.800 anak-anak Swedia antara tahun 1994 dan 1996. Penelitian tersebut dilakukan dengan kesimpulan belasan tahun berikutnya. Hasil penelitian menyebut, para bayi yang kini beranjak dewasa menunjukkan tanda-tanda alergi makanan sampai usia 16 tahun.

"Para bayi dengan paparan asap rokok, yang biasanya orangtuanya merokok saat berusia 2 bulan lebih, menunjukkan alergi terutama untuk telur dan kacang," lanjut penelitian tersebut.

Terlepas dari sejumlah risiko alergi terhadap makanan tertentu tersebut, ada banyak alasan mengapa merokok di sekitar anak tidak dianjurkan. Seperti yang ditunjukkan oleh Bergstrom dalam komentarnya bahwa residu rokok berpotensi menimbulkan asma dan eksim pada anak-anak, dan asap rokok tetap merupakan faktor risiko terjadinya Sudden Infant Death Syndrom (SIDS).

"Sepertinya kita tidak memerlukan bukti lagi bahwa merokok dan anak-anak sangat berisiko," lanjutnya.

Editors' Picks

Sulitnya berhenti merokok

Sulit berhenti merokok
www.unsplash.com

Bagi Papa dan Mama yang masih merokok, tentu lepas dari kecanduan merupakan hal yang sangat berat, meski sering mendengar kalimat “rokok berbahaya” - untuk perokok dan anak-anak mereka. Faktanya hampir satu dari setiap tiga anak di sejumlah negara masih tinggal dengan setidaknya satu perokok.

Tentu saja, menjadi perokok bukan berarti seseorang menjadi orangtua yang buruk. Kebanyakan orangtua benar-benar ingin berhenti merokok, tapi merokok adalah kecanduan yang kuat. Percaya atau tidak, menghirup nikotin memiliki efek yang lebih kuat pada otak daripada menyuntikkan heroin atau menghirup kokain.

Bagi orangtua yang stres, berhenti merokok tampaknya sangat sulit, tapi sangat bermanfaat. "Berhenti merokok untuk kesehatan keluarga sama pentingnya seperti meletakkan bayi di car seat," kata Susanne Tanski, MD, periset merokok dan asisten profesor pediatri di Dartmouth Medical School, di Hanover, New Hampshire.

Fakta penelitian juga mengatakan, hampir 40 persen perempuan perokok berhenti selama kehamilan, namun sampai 70 persen kambuh setelah bayinya lahir, kata Cheryl Healton, DrPH, Presiden American Legacy Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang ditujukan untuk melindungi anak-anak dan orang dewasa dari merokok. Sebagian besar perokok benar-benar mencoba berhenti antara delapan  hingga 11 kali sebelum mereka berhasil.

Jadi Mama, teruslah berjuang jika memang berniat penuh melindungi Si Kecil dari asap rokok..