Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Aksi Heroik Suster Selamatkan Bayi 5 Bulan dari Kebakaran Panti di Kupang

Aksi Heroik Suster Selamatkan Bayi 5 Bulan dari Kebakaran Panti di Kupang
Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel ludes terbakar (Dok Damkar Kupang)
Intinya Sih
  • Suster Marisa dengan berani menyelamatkan bayi 5 bulan dari kebakaran hebat di Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel, Kupang, meski tanpa alas kaki dan terpapar asap tebal.
  • Kebakaran melahap seluruh bangunan panti asuhan beserta dokumen penting, peralatan, dan barang pribadi anak-anak; dugaan awal menunjukkan korsleting listrik sebagai penyebabnya.
  • Warga sekitar bersama petugas pemadam membantu evakuasi dan pemadaman api, sementara polisi kini menyelidiki penyebab pasti kebakaran yang menghanguskan panti tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Asap hitam mengepul dari dalam Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Api membara dan membakar bangunan dalam sekejap. Dari dalam bangunan, kobaran api tak bisa lagi diredam.

Ada 19 anak yang tinggal di panti asuhan itu. Suster Marisa da Costa harus menyelamatkan semuanya. Termasuk anggota termudanya, bayi yang baru berusia 5 bulan.

Sang Suster bergetar ketika mengingat musibah yang terjadi pada Rabu, 13 Mei 2026 itu. Ia dan anak-anak berusaha memadamkan api. Tapi apa daya, kobarannya dengan cepat melumat isi panti asuhan itu tanpa ada tersisa. Tinggal pakaian di badan, Suster Marisa keluar tanpa alas kaki sambil menggendong bayi 5 bulan.

Berikut Popmama rangkum aksi heroik suster selamatkan bayi 5 bulan dari kebakaran panti di Kupang.

1. Aksi heroik selamatkan bayi 5 bulan dari kebakaran panti tanpa alasa kaki

Sadar upaya penanganan tidak membuahkan hasil, Suster Marisa segera berteriak memerintahkan seluruh anak-anak untuk lari menyelamatkan diri.
Suster dan anak-anak Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel lolos dari kebakaran (IDN Times/Putra Bali Mula)

Saat kejadian, Suster Marisa sedang duduk di luar ruang tamu bersama lima anak asuhnya. Tiba-tiba mereka menciup bau asap menyengat yang berasal dari salah satu kamar kosong pada pukul 14.30 WITA.

Rupanya api muncul tepat di sela tumpukan kasur dan dinding ruangan. Para penghuni panti asuhan itu pun menjadi panik saat sang Suster memeriksa ruangan itu.

Api yang muncul di sela tumpukan kasur itu pun makin membesar. Suster berteriak memanggil anak-anak laki-laki untuk mengambil air. Mereka berusaha memadamkan, tapi api justru semakin ganas.

Asap hitam membuat Suster Marisa dan anak-anak hampir tidak bisa melihat apa-apa di depan mata.

Sadar upaya pemadaman itu tidak membuahkan hasil, Suster Marisa berteriak memerintahkan seluruh anak-anak untuk lari menyelamatkan diri. Ia sendiri berlari memeriksa kamar demi kamar untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.

Saat itulah ia menemukan bayi berusia 5 bulan yang masih tertidur pulas di dalam buaian. Suster Marisa segera menggendong bayi itu dan berlari keluar menerobos kepulan asap yang membakar tenggorokan dan membuat mata pedih itu.

Di tengah kekalutannya, ia mencari jalan keluar dari asap hitam dan panasnya api yang membara. Berkat kesigapan sang Suster, bayi itu pun selamat tanpa luka sedikit pun. Suster Marisa lalu jatuh pingsan akibat syok dan karena asap yang sempat ia hirup. Ia bertelanjang kaki ketika berusaha menyelamatkan si Bayi.

2. Semua habis terbakar

Putra F.D. Bali Mula/IDN Times
Putra F.D. Bali Mula/IDN Times

Pakaian di badan saja yang tersisa. Sertifikat tanah, ijazah anak-anak dari SD hingga perguruan tinggi, laptop, hingga lemari pakaian habis dilalap api.

Menurut warga yang tinggal di sekitar tempat kejadian, api sempat terlihat dari area meteran listrik. Meteran listrik itu terletak pada dinding luar dari kamar paling depan. Percikan api diduga seperti korsleting listrik.

Saat kejadian, beberapa warga sedang mengikuti prosesi doa pemakaman di belakang lokasi panti asuhan. Mereka pun segera bergegas memberikan bantuan dan berusaha memadamkan api. Namun api cepat menyebar ditambah dengan angin kencang sore itu.

Warga sekitar juga membantu evakuasi anak-anak panti asuhan dan suster dari kebakaran hebat tersebut.

Dua unit mobil pemadam kebakaran dan tiga mobil penyuplai air tiba di lokasi kebakaran. Sayangnya, panti asuhan itu hangus karena material dan isi bangunan yang mudah terbakar.

Kini polisi melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran di Panti Asuhan Katolik Holy Guardian Angel.

3. Suster Marisa dan anak-anak asuhnya mendapatkan bantuan

Para suster dan anak-anak panti asuhan Katolik berdiri di luar bangunan yang hangus terbakar, tampak berinteraksi dengan warga sekitar.
Suster dan anak-anak Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel lolos dari kebakaran(IDN Times/Putra Bali Mula)

Bangunan panti asuhan beserta isinya habis terbakar. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi NTT menyediakan tempat sementara di Dinas Sosial NTT. Pemerintah juga menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, pakaian, perlengkapan tidur, dan kebutuhan darurat lainnya.

Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut respons cepat terhadap peristiwa tersebut juga melalui pendampingan trauma healing kepada anak-anak dan para suster yang terdampak kebakaran.

“Kami pastikan kebutuhan dasar anak-anak panti terpenuhi. Koordinasi dilakukan agar mereka segera mendapatkan tempat berteduh yang layak dan bantuan logistik yang cukup,” ujar Melki saat ditemui wartawan.

Meski kehilangan semua harta benda, satu hal yang membuat hati Suster Marisa lega adalah nyawa seluruh anak asuhnya selamat. Itulah harta yang tak ternilai harganya.

“Asalkan mereka selamat, saya ikhlas. Rumah bisa dibangun kembali, tapi nyawa tidak bisa kembali,” ucapnya sambil memeluk erat anak-anak yang kini berada di sisinya.

Itu kisah tentang musibah kebakaran yang menimpa Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel dan aksi heroik Suster Marisa da Costa dalam menyelamatkan para anak asuhnya.

Kita doakan semoga Suster Marisa dan para anak asuhnya terus mendapatkan bantuan hingga rumah yang baru selesai dibangun, ya, Ma.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara
Follow Us

Related Articles

See More