Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Pup Bayi Berbusa Apakah Berbahaya? Ini Penjelasannya

Pup Bayi Berbusa Apakah Berbahaya? Ini Penjelasannya
Pexels/Emma Bauso
  • Pup bayi berbusa umumnya tidak berbahaya dan dapat membaik sendiri, tetapi perlu dipantau bila berulang, berlangsung lebih dari seminggu, atau disertai gejala lain.
  • Kondisi ini dapat dipicu ketidakseimbangan ASI awal-akhir, gangguan cerna sementara, infeksi, alergi protein susu, tumbuh gigi, atau awal MPASI.
  • Segera periksakan bayi bila feses berdarah atau berlendir berlebih, demam di atas 38°C, muntah, lemas, tanda dehidrasi, menolak menyusu, atau berat badan sulit naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Momen ganti popok menjadi terasa berbeda ketika Mama mendapati tekstur pup si Kecil berubah menjadi berbusa dan penuh gelembung kecil. Wajar saja kalau rasa khawatir langsung muncul, apalagi kalau ini baru pertama kali Mama lihat.

Tenang dulu, Ma. Sebelum buru-buru cemas, Mama harus mencari tahu dulu apa sebenarnya arti dari pup bayi berbusa, apa saja penyebabnya, dan kapan kondisi ini benar-benar perlu diwaspadai.

Untuk menjawab rasa penasaran Mama tentang kondisi pup bayi yang berbusa, berikut Popmama.com mengulas tentang pup bayi berbusa apakah berbahaya? Yuk, simak sampai habis!

  1. Apakah Pup Bayi Berbusa Berbahaya?

    Apakah Pup Bayi Berbusa Berbahaya?
    Pexels/https://kaboompics.com/

    Jawaban singkatnya, pup bayi berbusa umumnya tidak berbahaya. Menurut Blueberry Pediatrics, kondisi ini termasuk salah satu keluhan tekstur feses yang paling sering ditanyakan orangtua kepada dokter anak, dan sebagian besar kasus penyebabnya termasuk ringan dan bisa membaik sendiri.

    Mengutip Medical News Today, feses berbusa sesekali biasanya menandakan tubuh sedang mencerna sesuatu secara kurang sempurna, entah itu kandungan lemak maupun gula tertentu, dan kondisinya umumnya akan membaik seiring waktu tanpa penanganan khusus.

    Meski begitu, pup berbusa bisa jadi sinyal yang perlu diwaspadai jika muncul berulang, bertahan lebih dari seminggu, atau disertai gejala lain seperti demam dan darah dalam feses.

    Jadi, kuncinya bukan cuma melihat tampilan pupnya saja, tetapi juga mengamati pola dan gejala penyerta yang menyertainya.

  2. Apa Itu Pup Bayi Berbusa?

    Apa Itu Pup Bayi Berbusa?
    Pexels/Keira Burton

    Mengutip Momminess, pup bayi berbusa adalah kondisi feses yang mengandung gelembung-gelembung udara kecil sehingga teksturnya tampak seperti berbuih. 

    Warnanya bisa kuning terang, hijau, atau kecokelatan, dengan konsistensi yang cenderung lebih encer dibandingkan pup pada umumnya.

    Kondisi ini paling sering ditemukan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, meski bukan berarti si Kecil yang minum susu formula bebas dari kemungkinan ini. 

    Menurut Blueberry Pediatrics, bayi yang disusui langsung memang cenderung memiliki feses yang lebih lembek dan cair dibandingkan dengan bayi yang minum susu formula, sehingga tekstur berbusa lebih mudah muncul.

  3. Penyebab Pup Bayi Berbusa

    Penyebab Pup Bayi Berbusa
    Pexels/Anna Shvets

    Ada beberapa hal yang membuat pup si Kecil menjadi berbusa, dan sebagian besar berkaitan erat dengan pola makan serta sistem pencernaannya yang masih terus berkembang.

    1. Ketidakseimbangan foremilk dan hindmilk.
      Dikutip dari Medical News Today, saat menyusu, ASI di awal (foremilk) memiliki kandungan lemak yang lebih rendah dibandingkan ASI di akhir (hindmilk) yang lebih kental dan mengenyangkan. Kalau bayi Mama lebih banyak mendapat foremilk, laktosa lebih sulit dicerna sehingga muncul gas dan pup berbusa.
    2. Sensitivitas atau intoleransi laktosa.
      Menurut Blueberry Pediatrics, yang lebih umum adalah intoleransi laktosa sementara akibat gangguan pencernaan, misalnya setelah infeksi usus, sehingga laktosa yang tidak tercerna berfermentasi dan memicu busa pada feses.
    3. Infeksi saluran cerna.
      Infeksi akibat bakteri, virus, atau parasit dapat mengganggu proses pencernaan normal dan memicu feses yang encer serta berbusa. Kalau kondisi ini disertai demam, lemas, atau muntah, Mama  disarankan untuk segera menghubungi dokter.
    4. Alergi protein susu sapi.
      Reaksi terhadap protein susu sapi atau kedelai juga bisa memicu pup berbusa yang disertai lendir, kulit sekitar anus memerah, dan bayi jadi lebih rewel setelah menyusu. Mengutip Blueberry Pediatrics, kondisi ini perlu dikonsultasikan ke dokter agar pola makan disesuaikan.

    Selain empat penyebab di atas, faktor lain seperti tumbuh gigi atau baru mulai MPASI juga kerap membuat feses sementara menjadi lebih encer dan berbusa, lalu berangsur normal kembali dengan sendirinya.

  4. Seberapa Sering Bayi Pup dalam Sehari?

    Seberapa Sering Bayi Pup dalam Sehari?
    Pexels/William Fortunato

    Tidak ada angka pasti soal seberapa sering bayi harus pup dalam sehari, sebab setiap bayi punya pola yang berbeda. Mengutip Healthy Children, frekuensi normal bisa berkisar dari 1 kali pup setiap beberapa hari sampai beberapa kali dalam sehari, tergantung usia dan jenis asupan yang dikonsumsi.

    Bayi yang mendapat ASI eksklusif umumnya pup lebih sering, bisa 3 sampai 4 kali sehari pada minggu-minggu awal, bahkan ada yang pup setiap kali selesai menyusu. 

    Sementara itu, bayi yang minum susu formula cenderung pup 1 sampai 4 kali sehari, dan setelah usia 1 bulan frekuensinya bisa berkurang menjadi sekali sehari atau 2 hari sekali.

    Yang lebih penting untuk Mama perhatikan bukan cuma jumlahnya, melainkan apakah si Kecil tetap aktif, berat badannya naik sesuai grafik pertumbuhan, dan popok basahnya cukup dalam sehari.

    Selama semua itu terpenuhi, variasi frekuensi pup si Kecil termasuk kategori normal meski sesekali disertai tekstur berbusa.

  5. Kapan Harus Dibawa ke Dokter?

    Kapan Harus Dibawa ke Dokter?
    Pexels/Jonathan Borba

    Meski sebagian besar kasus pup berbusa tergolong ringan, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak boleh Mama abaikan begitu saja.

    1. Muncul darah atau lendir berlebih pada feses.
      Kondisi ini bisa menandakan infeksi atau reaksi alergi yang butuh pemeriksaan lebih lanjut. Jangan tunda untuk segera memeriksakan si Kecil ke dokter anak.
    2. Demam di atas 38 derajat Celsius.
      Demam yang disertai pup berbusa dapat menjadi tanda infeksi saluran cerna. Mengutip Blueberry Pediatrics, Mama disarankan untuk segera mencari pertolongan medis begitu gejala ini muncul.
    3. Tanda-tanda dehidrasi.
      Mulut kering, tidak keluar air mata saat menangis, ubun-ubun cekung, atau popok basah kurang dari 3 kali sehari adalah sinyal bahwa si Kecil butuh penanganan segera. Dehidrasi pada bayi dapat berkembang cepat sehingga tidak boleh dianggap sepele.
    4. Berlangsung lebih dari seminggu atau bayi menolak menyusu
      Kalau pup berbusa menetap lebih dari tujuh hari, berat badan si Kecil sulit naik,, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter anak. Melansir  Medical News Today, sangat penting untuk memeriksakan si Kecil ke dokter bila feses berbusa muncul berulang lebih dari 2 kali.

    Nah, itulah pembahasan mengenai pup bayi berbusa apakah berbahaya? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More