Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Anak ASI Kurus karena ASI Kurang? Ini Kata Dokter
Megnific
  • Bayi ASI yang terlihat lebih kecil belum tentu kekurangan ASI karena kecukupan perlu dilihat dari pola pertumbuhan pada grafik KMS.

  • Jika berat badan sulit naik, orangtua perlu mengevaluasi perlekatan, frekuensi menyusu, serta asupan makan dan cairan ibu.

  • ASI booster dapat dipertimbangkan setelah dasar menyusui diperhatikan, dengan mengecek kandungan dan riwayat alergi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Bayi yang mendapat ASI eksklusif terlihat tidak se-chubby bayi lain, tetapi kondisi itu belum tentu menunjukkan kekurangan ASI.
  • Who?
    Bayi yang mendapat ASI eksklusif, orangtua, ibu menyusui, dan dokter spesialis anak dr. Lucky Yogasatria, Sp.A.
  • Where?
    Penjelasan dr. Lucky disampaikan melalui akun Instagram @dr.lucky.sp.a.
  • When?
    Per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Ukuran tubuh bayi bukan satu-satunya patokan kecukupan ASI; pola pertumbuhan pada grafik KMS lebih penting untuk diperhatikan.
  • How?
    Orangtua dapat memantau grafik KMS serta mengevaluasi perlekatan, frekuensi menyusu, dan kebutuhan nutrisi ibu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi yang minum ASI kadang terlihat lebih kecil dari bayi lain. Itu belum tentu karena ASI ibu kurang. Orangtua perlu melihat berat badan dan grafik KMS. Kalau beratnya sulit naik, perlekatan dan seringnya menyusu perlu dicek. Ibu juga perlu makan bergizi dan cukup minum. ASI booster harus dipilih dengan hati-hati.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemantauan melalui KMS membantu orangtua menilai pertumbuhan bayi secara lebih objektif daripada hanya membandingkan bentuk tubuhnya dengan anak lain. Evaluasi perlekatan dan frekuensi menyusu juga memberi dasar untuk menilai proses menyusui. Dengan begitu, perhatian dapat diarahkan pada kondisi bayi dan pola pertumbuhannya, bukan semata-mata pada tampilan fisik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi yang mendapat ASI eksklusif terkadang terlihat tidak se-chubby bayi lain seusianya. Kondisi ini bisa membuat orangtua khawatir dan langsung bertanya-tanya apakah karena ASI yang diberikan kurang?

Padahal, ukuran tubuh bayi secara kasatmata bukan satu-satunya patokan kecukupan ASI. Dokter Spesialis Anak, dr. Lucky Yogasatria, Sp.A di Instagramnya @dr.lucky.sp.a, menekankan bahwa yang lebih penting adalah melihat pola pertumbuhan bayi dari waktu ke waktu.

Berikut Popmama.com rangkum penjelasan dr. Lucky mengenai benarkah anak ASI kurus karena ASI kurang?

1. Bayi ASI tidak sechubby anak lain belum tentu ASI kurang

Magnific

Menurut dr. Lucky, orangtua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa ASI kurang bagus hanya karena bayi terlihat lebih kecil dibandingkan anak lain seusianya.

“Jangan langsung berpikir ASI ibu kurang bagus cuma karena bayinya nggak se-chubby anak sebelah, ya. Karena yang penting itu lihat pertumbuhannya di kurva KMS,” jelas dr. Lucky Yogasatria, Sp.A.

Artinya, bentuk tubuh bayi bukan satu-satunya indikator kecukupan ASI. Daripada membandingkan pipi, paha, atau ukuran tubuh bayi dengan anak lain, orangtua sebaiknya melihat bagaimana berat badan si Kecil bertambah dari waktu ke waktu.

Kartu Menuju Sehat atau KMS dapat membantu orangtua memantau pola pertumbuhan tersebut. Yang perlu diperhatikan bukan apakah bayi terlihat “gemuk” atau “kurus”, tetapi apakah grafik pertumbuhannya berjalan sesuai jalur atau justru mulai mendatar.

Lebih lanjut, dr. Lucky menjelaskan, jika berat badan bayi memang sulit naik dan kondisi itu terlihat pada grafik KMS, barulah proses menyusui perlu dievaluasi lebih lanjut.

“Kalau berat badan bayinya memang susah naik, yang terkonfirmasi dengan grafik di KMS yang mendatar, atau ibu merasa nih ASI produksi mulai berkurang, cek dulu perlekatan dan frekuensi menyusu,” ujarnya.

Jadi, kekhawatiran mengenai ASI kurang sebaiknya tidak hanya berdasarkan penampilan bayi. Pertumbuhan yang terpantau secara objektif melalui KMS jauh lebih penting daripada membandingkan bentuk tubuh bayi dengan anak tetangga.

2. Cek pelekatan, frekuensi menyusu, dan kebutuhan nutrisi ibu menyusui

Pexels/William Fortunato

Kalau grafik pertumbuhan bayi mulai tidak sesuai harapan, dr. Lucky menyarankan untuk mengevaluasi hal-hal mendasar dalam proses menyusui terlebih dahulu. Salah satunya adalah pelekatan bayi saat menyusu. Perlekatan yang kurang tepat dapat membuat bayi tidak mengisap ASI secara optimal meskipun produksi ASI sebenarnya cukup.

Selain itu, frekuensi menyusu juga perlu diperhatikan karena proses menyusui yang efektif turut membantu menjaga produksi ASI. Orangtua juga tidak boleh melupakan kebutuhan nutrisinya sendiri selama masa menyusui.

“Ibu juga jangan lupa tetap perlu makan bergizi dan cukup minum,” tutur dr. Lucky.

Jadi, sebelum langsung menyimpulkan produksi ASI rendah, coba evaluasi lebih dulu bagaimana bayi menyusu, seberapa sering ia menyusu, apakah perlekatannya sudah tepat, serta apakah kebutuhan makan dan cairan ibu menyusui sudah terpenuhi.

Jika berat badan bayi tetap sulit bertambah atau orangtua masih khawatir dengan kecukupan ASI, konsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi bisa membantu menilai kondisi bayi secara lebih menyeluruh.

3. ASI booster boleh dipertimbangkan, tetapi jangan asal pilih

Freepik

Setelah dasar-dasar menyusui sudah diperhatikan, ibu menyusui yang masih ingin memberi dukungan tambahan terhadap produksi ASI dapat mempertimbangkan ASI booster. Namun, dr. Lucky menekankan agar tidak hanya percaya pada klaim bahwa suatu produk dapat membuat ASI lebih deras.

“Kalau fondasinya tadi sudah dijaga, tapi ibu tetap pengen nambah support untuk produksi ASI, boleh pertimbangkan konsumsi ASI booster. Ya, tapi jangan cuma percaya katanya bikin ASI deras. Lihat juga kandungannya,” jelasnya.

Kandungan produk juga perlu diperhatikan, terutama jika ibu menyusui memiliki riwayat alergi. dr. Lucky mencontohkan kelabat atau fenugreek, bahan yang cukup sering digunakan sebagai galactagogue untuk membantu mendukung produksi ASI.

“Kalau ibunya ternyata alergi, terutama alergi kacang-kacangan, jangan asal pilih ASI booster. Karena terkadang ASI booster yang mengandung kelabat atau fenugreek itu bisa cross-reaction alergi dengan alergi kacang,” lanjut dr. Lucky.

Ia juga menyebut terdapat bahan lain seperti daun katuk dan daun kelor, serta produk yang dilengkapi dukungan nutrisi seperti protein atau omega-3. Namun, semuanya tetap bersifat sebagai dukungan tambahan, bukan pengganti evaluasi proses menyusui.

Di akhir videonya, dr. Lucky kembali mengingatkan orangtua agar tidak terlalu khawatir hanya karena bayi terlihat lebih kecil.

“Jadi jangan overthinking dulu kalau dibilang bayi ASI lebih kurus dibandingkan anak seusianya. Coba evaluasi dengan cara-cara tadi dulu, ya.”

Jadi, anak ASI yang terlihat kurus belum tentu mengalami kekurangan ASI. Patokan yang lebih penting adalah pola pertumbuhan pada KMS, efektivitas menyusu, serta kondisi bayi secara keseluruhan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article