Setelah dasar-dasar menyusui sudah diperhatikan, ibu menyusui yang masih ingin memberi dukungan tambahan terhadap produksi ASI dapat mempertimbangkan ASI booster. Namun, dr. Lucky menekankan agar tidak hanya percaya pada klaim bahwa suatu produk dapat membuat ASI lebih deras.
“Kalau fondasinya tadi sudah dijaga, tapi ibu tetap pengen nambah support untuk produksi ASI, boleh pertimbangkan konsumsi ASI booster. Ya, tapi jangan cuma percaya katanya bikin ASI deras. Lihat juga kandungannya,” jelasnya.
Kandungan produk juga perlu diperhatikan, terutama jika ibu menyusui memiliki riwayat alergi. dr. Lucky mencontohkan kelabat atau fenugreek, bahan yang cukup sering digunakan sebagai galactagogue untuk membantu mendukung produksi ASI.
“Kalau ibunya ternyata alergi, terutama alergi kacang-kacangan, jangan asal pilih ASI booster. Karena terkadang ASI booster yang mengandung kelabat atau fenugreek itu bisa cross-reaction alergi dengan alergi kacang,” lanjut dr. Lucky.
Ia juga menyebut terdapat bahan lain seperti daun katuk dan daun kelor, serta produk yang dilengkapi dukungan nutrisi seperti protein atau omega-3. Namun, semuanya tetap bersifat sebagai dukungan tambahan, bukan pengganti evaluasi proses menyusui.
Di akhir videonya, dr. Lucky kembali mengingatkan orangtua agar tidak terlalu khawatir hanya karena bayi terlihat lebih kecil.
“Jadi jangan overthinking dulu kalau dibilang bayi ASI lebih kurus dibandingkan anak seusianya. Coba evaluasi dengan cara-cara tadi dulu, ya.”
Jadi, anak ASI yang terlihat kurus belum tentu mengalami kekurangan ASI. Patokan yang lebih penting adalah pola pertumbuhan pada KMS, efektivitas menyusu, serta kondisi bayi secara keseluruhan.