- Batasi asap masuk ke rumah. Tutup pintu dan jendela saat asap di luar pekat, serta gunakan penyaring udara jika tersedia. Hindari merokok dan membakar sampah di sekitar rumah karena dapat menambah polusi udara.
- Hindari penggunaan masker pada bayi di bawah dua tahun. Perlindungan sebaiknya difokuskan pada lingkungan, bukan wajah bayi, karena masker berisiko menghambat jalan napasnya.
- Pantau kualitas udara sebelum keluar rumah. Periksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan batasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara tidak sehat. Sebaiknya bayi tidak dibawa keluar ketika paparan asap tinggi.
- Pastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi. Lanjutkan pemberian ASI pada bayi yang masih menyusu dan berikan air putih kepada anak sesuai usianya.
- Bantu membersihkan hidung yang tersumbat. Larutan garam fisiologis atau NaCl 0,9% dapat digunakan untuk membantu membersihkan lendir di hidung. Selain itu, mandi air hangat juga dapat membantu membuat anak merasa lebih nyaman.
- Berikan perhatian khusus pada anak dengan kondisi medis tertentu. Anak yang lahir prematur, memiliki asma, atau mengalami kelainan jantung berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat paparan asap. Konsultasikan dengan dokter jika muncul keluhan.
- Segera cari pertolongan saat muncul tanda bahaya. Jangan menunda pemeriksaan jika anak mengalami sesak, bibir kebiruan, sangat lemas, sulit dibangunkan, atau menolak menyusu dan minum.
5 Tanda Bahaya akibat Paparan Asap Karhutla pada Bayi dan Anak

Paparan asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan bayi dan anak yang masih rentan.
Tanda bahaya yang perlu diwaspadai meliputi napas cepat, dada tertarik ke dalam, menolak minum, bibir kebiruan, serta tubuh sangat lemas atau sulit dibangunkan.
Lindungi si Kecil dengan menjaga kualitas udara di rumah, memantau ISPU, membatasi aktivitas luar ruangan, dan segera mencari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya.
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Kondisi ini tentunya meningkatkan risiko gangguan atau infeksi pernapasan pada bayi dan anak di wilayah terdampak kabut asap.
Menanggapi isu tersebut, Dokter sekaligus Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr. Putro S. Muhammad, menjelaskan bahwa orangtua perlu mengenali tanda bahaya agar dapat mengetahui kapan si Kecil membutuhkan pertolongan medis.
Berikut Popmama.com merangkum tanda-tanda bahaya akibat paparan asap karhutla pada bayi dan anak menurut dokter. Yuk, simak, Ma!
Table of Content
1. Napas anak lebih cepat dari biasanya atau terlihat sesak

Popmama.com/Putri Syifa N/AI Salah satu tanda bahaya akibat paparan asap karhutla adalah perubahan pola pernapasan. Anak dapat bernapas lebih cepat dari biasanya atau terlihat kesulitan mengambil napas. Kondisi ini perlu diperhatikan karena asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk gangguan pernapasan yang dialami anak.
Orangtua dapat menghitung frekuensi napas si Kecil selama satu menit ketika ia sedang tenang. Pada bayi berusia di bawah dua bulan, napas sebanyak 60 kali per menit atau lebih perlu diwaspadai.
Sementara itu, pada bayi usia 2–12 bulan, batasnya 50 kali per menit atau lebih, dan pada anak usia 1–5 tahun sebanyak 40 kali per menit atau lebih.
2. Dinding dada tampak tertarik ke dalam saat bernapas

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Mama juga perlu memperhatikan gerakan dada si Kecil ketika bernapas. Jika bagian bawah tulang rusuk atau dinding dada tampak tertarik ke dalam setiap kali anak menarik napas, kondisi ini dapat menandakan bahwa ia sedang berusaha lebih keras untuk mendapatkan udara. Tanda tersebut berbeda dari gerakan dada biasa saat bernapas.
Tarikan dinding dada ke dalam dapat muncul bersama napas cepat, cuping hidung yang kembang-kempis, atau bunyi napas yang tidak biasa. Kombinasi gejala tersebut menunjukkan kemungkinan gangguan pernapasan yang perlu segera ditangani. Jangan menunggu sampai anak terlihat semakin kesulitan bernapas untuk mencari pertolongan medis.
3. Anak menolak minum atau tidak mau menyusu

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Paparan asap yang mengganggu pernapasan dapat membuat bayi kesulitan menyusu atau anak enggan minum. Mama perlu memperhatikan perubahan kebiasaan makan dan minum si Kecil, khususnya jika sebelumnya ia menyusu atau minum seperti biasa. Penolakan minum yang disertai napas cepat atau sesak dapat menjadi tanda bahwa kondisi anak sedang memburuk.
Bayi yang tidak mendapatkan cukup cairan juga berisiko mengalami dehidrasi. Karena itu, perhatikan apakah si Kecil tetap mau menyusu, seberapa sering ia buang air kecil, dan apakah ia tampak lebih lemah daripada biasanya.
4. Bibir atau kuku anak tampak kebiruan

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Perubahan warna bibir atau kuku menjadi kebiruan merupakan tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini dapat menandakan bahwa tubuh anak tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Pada bayi dan anak yang terpapar kabut asap, perubahan warna tersebut perlu diperhatikan bersama gejala gangguan pernapasan lainnya.
Bibir yang tampak kebiruan, khususnya jika disertai sesak atau napas yang tidak normal, membutuhkan pertolongan medis segera. Mama tidak perlu menunggu sampai warna kulit berubah lebih jelas atau muncul gejala lain. Segera bawa si Kecil ke faskes terdekat atau unit gawat darurat (UGD) jika mengalami kondisi tersebut.
5. Anak sangat lemas, tidak aktif, atau sulit dibangunkan

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Perubahan perilaku juga dapat menjadi tanda bahaya akibat gangguan kesehatan selama paparan asap karhutla. Anak yang biasanya aktif mungkin terlihat sangat lemas, tidak tertarik bermain, atau lebih banyak tidur daripada biasanya. Pada bayi, tanda ini dapat terlihat dari respons yang melemah atau keengganan untuk menyusu.
Mama perlu lebih waspada jika si Kecil sulit dibangunkan, mengalami penurunan kesadaran, atau berhenti bernapas selama lebih dari 20 detik. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai kelelahan biasa.
Langkah Melindungi Bayi dan Anak dari Paparan Asap Karhutla

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Melansir laman resmi Universitas Airlangga, Pakar paru UNAIR, Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, SpP(K), FAPSR, FCCP, FISR, mengingatkan orangtua untuk melakukan langkah perlindungan di rumah guna mengurangi paparan asap. Berikut langkah yang dapat Mama lakukan:
Nah, itu dia informasi selengkapnya mengenai tanda-tanda bahaya akibat paparan asap karhutla pada bayi dan anak yang perlu diwaspadai orangtua.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya, Ma.






















