Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Ciri-Ciri Bayi Laringomalasia yang Perlu Mama Waspadai
Wikimedia Commons/Dr Chaigasame
  • Laringomalasia terjadi saat jaringan lunak di atas pita suara belum kuat dan menghambat sebagian saluran napas; sebagian besar kasus ringan membaik seiring pertambahan usia bayi.
  • Tanda yang perlu diwaspadai meliputi jeda napas lebih dari 10 detik, bibir atau kulit kebiruan, retraksi leher dan dada, serta gangguan tidur akibat napas berbunyi.
  • Bayi dapat sulit menelan, sering tersedak saat menyusu, dan sulit menaikkan berat badan; kondisi ini berisiko aspirasi sehingga perlu konsultasi atau pertolongan medis sesuai gejalanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Laringomalasia terjadi saat bagian lembut di atas pita suara bayi masih lemah, jadi napasnya bisa berbunyi melengking. Bayi juga bisa susah minum, tersedak, dada dan lehernya tertarik, susah tidur, atau berat badannya susah naik. Kalau bayi berhenti bernapas lama atau bibirnya biru, harus segera dibawa ke rumah sakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendengar napas si Kecil berbunyi melengking setiap kali ia bernapas tentu bikin Mama was-was, apalagi kalau ini pengalaman pertama menjadi orangtua. Kondisi ini punya nama medis, yaitu laringomalasia.

Laringomalasia terjadi ketika jaringan lunak di atas pita suara belum cukup kuat sehingga sedikit menutupi sebagian saluran napas saat si Kecil menarik napas. Kabar baiknya, sebagian besar kasus tergolong ringan dan akan membaik seiring bertambahnya usia si Kecil.

Meski begitu, ada beberapa ciri yang tetap perlu Mama kenali supaya bisa membedakan mana gejala yang wajar dan mana yang butuh perhatian dokter.

Berikut Popmama.com mengulas 7 ciri-ciri bayi laringomalasia. Yuk, simak sampai habis!

1. Jeda panjang saat bernapas

Pexels/SHOX ART

Salah satu tanda yang perlu Mama waspadai adalah munculnya jeda napas yang cukup lama pada si Kecil. Dilansir dari Cleveland Clinic, kondisi bernama apnea ini termasuk gejala laringomalasia yang tergolong berat.

Selain itu, Mama disarankan untuk segera membawa si Kecil ke rumah sakit apabila ia berhenti bernapas lebih dari sepuluh detik. Jeda napas yang panjang bisa memengaruhi asupan oksigen dalam tubuhnya.

Menurut Stanford Children's Health, jeda napas semacam ini lebih sering muncul pada laringomalasia tingkat sedang hingga berat. Biasanya kondisi ini juga disertai gangguan tidur karena si Kecil jadi lebih sering terbangun.

Jika bibir atau kulit si Kecil mulai tampak kebiruan saat jeda napas terjadi, segera cari bantuan medis karena ini pertanda kondisinya sudah cukup serius.

2. Kesulitan menelan

Pexels/Huynh Van

Selain napas yang berbunyi, laringomalasia juga dapat membuat bayi Mama kesulitan menelan ASI atau susu formula. Mengutip Cleveland Clinic, disfagia atau kesulitan menelan ini masuk sebagai gejala yang biasanya muncul pada kasus yang lebih berat.

Menurut Stanford Children's Health, bayi dengan laringomalasia sedang sampai berat sering kesulitan mengoordinasikan gerakan menelan dan bernapas secara bersamaan. Akibatnya, si Kecil butuh jeda lebih sering setiap kali menyusu.

Proses menyusu pun jadi terasa lebih lama dan melelahkan, baik bagi si Kecil maupun Mama yang mendampingi. Bila dibiarkan, kesulitan menelan ini berisiko membuat cairan justru masuk ke saluran napas, bukan ke lambung.

3. Menarik leher dan dada ke dalam saat bernapas

Pexels/Sarah Chai

Coba perhatikan area leher dan dada si Kecil saat bernapas, Ma. Menurut Stanford Children's Health, kulit di sekitar leher bagian bawah dan tulang rusuk bisa tertarik ke dalam ketika napasnya cukup parah.

Kondisi ini dikenal dengan istilah retraksi. Tanda ini termasuk gejala laringomalasia yang butuh perhatian ekstra serta pertolongan segera.

Menurut laman Children’s Hospital of Philadelphia, Mama dianjurkan untuk segera membawa si Kecil ke rumah sakit apabila retraksi ini tetap muncul meski posisinya sudah diubah atau sudah dibangunkan. 

Tanda ini menunjukkan bahwa si Kecil sedang bekerja lebih keras untuk mendapatkan cukup udara. Sehingga gerakan tersebut dilakukan oleh bayi mama.

4. Tersedak saat makan

Pexels/Vanessa Loring

Tersedak saat menyusu atau makan juga menjadi ciri yang cukup umum ditemukan pada bayi dengan laringomalasia. Menurut laman Children’s Hospital of Philadelphia, gejala ini merupakan salah satu tanda yang perlu diwaspadai orangtua.

Dilansir dari Cleveland Clinic, tersedak yang berulang berisiko menyebabkan aspirasi, yaitu kondisi saat makanan atau cairan justru masuk ke paru-paru, bukan ke saluran pencernaan. Kondisi ini tentu membutuhkan penanganan lebih lanjut dari dokter.

Jika si Kecil sering tersedak, batuk, atau tampak seperti kehabisan napas setiap kali menyusu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak. Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko komplikasi yang mungkin muncul.

5. Masalah tidur

Pexels/Marcus Goodman

Mama mungkin menyadari suara napas si Kecil terdengar lebih keras saat ia tertidur. Mengutip Cleveland Clinic, suara napas pada bayi dengan laringomalasia memang cenderung lebih nyaring ketika si Kecil berbaring atau sedang tidur.

Melansir Stanford Children's Health, laringomalasia sedang hingga berat dapat mengganggu kualitas tidur si Kecil, bahkan memicu jeda napas selama tidur. Akibatnya, si Kecil menjadi lebih rewel dan sering terbangun di malam hari.

Posisi tidur si Kecil seperti telentang bisa memperparah bunyi napas ini. Mama bisa mendiskusikan posisi tidur yang lebih nyaman untuk si Kecil bersama dokter anak.

6. Suara bernada tinggi

Pexels/Antoni Shkraba

Ciri paling khas dari laringomalasia adalah suara napas bernada tinggi yang disebut stridor. Menurut Stanford Children's Health, stridor merupakan gejala utama sekaligus paling mudah dikenali dari kondisi ini.

Suara melengking ini biasanya terdengar paling jelas saat si Kecil menarik napas, dan makin nyaring ketika ia menangis, menyusu, atau rewel. Stridor juga bisa memburuk saat si Kecil sedang pilek atau mengalami infeksi saluran napas atas.

Meski terdengar menakutkan, mengutip Cleveland Clinic, stridor akibat laringomalasia umumnya bukan kondisi berbahaya. Sebagian besar kasus akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia si Kecil.

7. Sulit menambah berat badan

Pexels/Bill Salazar

Kesulitan menyusu dan sering tersedak yang dialami si Kecil pada akhirnya dapat berdampak pada berat badannya. Menurut laman Children’s Hospital of Philadelphia, kesulitan menambah berat badan merupakan salah satu gejala laringomalasia yang tergolong lebih serius.

Dilansir dari Cleveland Clinic, bayi dengan laringomalasia berat cenderung sulit mengalami kenaikan berat badan yang sesuai usianya. Hal ini erat kaitannya dengan proses makan yang tidak optimal akibat gangguan pada saluran napas.

Jika Mama rutin menimbang si Kecil dan melihat grafik pertumbuhannya melambat atau bahkan stagnan, segera konsultasikan dengan dokter anak. Penanganan yang tepat waktu dapat membantu si Kecil kembali tumbuh optimal.

Nah, itulah pembahasan mengenai 7 ciri-ciri bayi laringomalasia yang orangtua wajib ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article