Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wikimedia Commons/Cornelia Csuk
  • Sianosis pada bayi ditandai kulit kebiruan atau keunguan akibat rendahnya oksigen darah, terutama terlihat di bibir, mulut, lidah, telinga, kuku, atau kulit tertentu.

  • Kebiruan pada tangan, kaki, atau sekitar mulut saat dingin dapat normal dan biasanya memudar setelah dihangatkan; namun warna biru di mulut, kepala, atau badan perlu perhatian medis.

  • Waspadai kebiruan yang disertai mengi, napas cepat atau berat, cuping hidung kembang-kempis, merintih, sulit menyusu, lemas, atau berkeringat; segera cari pertolongan darurat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayi bisa jadi biru di bibir, lidah, wajah, atau kukunya karena oksigen dalam darah kurang. Bayi juga mungkin dingin, napasnya bunyi atau susah, dan lelah saat menyusu. Kalau warna biru tidak hilang setelah dihangatkan, atau bayi susah makan dan bernapas, Mama perlu segera membawa bayi ke IGD.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah Mama melihat bibir atau ujung jari si Kecil tampak kebiruan saat ia menangis atau kedinginan? Biasanya Mama langsung panik dan muncul pertanyaan, apakah ini hal biasa atau tanda ada yang tidak beres.

Kondisi ini dikenal sebagai sianosis, yaitu warna kulit yang berubah kebiruan karena kadar oksigen dalam darah berkurang. Tidak semuanya berbahaya, tetapi sebagian membutuhkan pertolongan medis segera.

Supaya Mama lebih tenang dan tahu kapan harus bergerak cepat, berikut Popmama.com mengulas 5 ciri-ciri sianosis pada bayi. Yuk, simak sampai habis!

1. Tubuh membiru

Wikimedia Commons/Jules Atkins, RM

Ciri yang paling mudah dikenali tentu warna kulit si Kecil yang tampak kebiruan atau keunguan. Melansir Cincinnati Children’s Hospital, warna ini paling jelas terlihat pada kulit yang tipis, seperti bibir, mulut, daun telinga, dan kuku.

Menurut NHS, warna biru atau abu-abu bisa muncul di bibir, lidah, gusi, telinga, kulit, sampai di bawah kuku. 

Pada kulit yang berwarna cokelat atau hitam, warnanya bisa tampak keabu-abuan dan lebih mudah dilihat di telapak tangan, telapak kaki, bibir, gusi, serta bagian dalam kelopak mata.

Letak kebiruannya juga memberi petunjuk penting. Kebiruan di tangan, kaki, dan sekitar bibir sering kali normal pada bayi, tetapi kebiruan di mulut, kepala, atau badan tidak pernah normal pada bayi baru lahir.

Biru di bibir dan mulut biasanya merupakan tanda kurang oksigen, sedangkan biru di jari tangan dan kaki umumnya berkaitan dengan masalah aliran darah. Jika bibir, lidah, atau wajah si Kecil tiba-tiba membiru, segera cari bantuan medis.

2. Penurunan suhu tubuh

Pexels/Rahul Genie

Selain warnanya, coba rasakan juga suhu tubuh si Kecil. Melansir Cleveland Clinic, suhu tubuh rendah (hipotermia) merupakan salah satu gejala yang dapat menyertai sianosis.

Saat udara sangat dingin, pembuluh darah di tangan, kaki, dan telinga menyempit demi menjaga suhu tubuh tetap normal. Dampaknya, ujung-ujung tubuh bisa tampak kebiruan.

Dilansir dari Healthline, penyempitan pembuluh darah kecil akibat dingin ini disebut akrosianosis dan sangat wajar dialami bayi pada beberapa hari pertama setelah lahir. Selama biru hanya di sekitar mulut dan bukan di bibir, kondisinya biasanya tidak serius.

Mama bisa menghangatkan si Kecil dengan pelukan atau selimut, dan warna birunya seharusnya memudar. Namun, bila tidak membaik, segera bawa ke instalasi gawat darurat (IGD) karena bisa saja ada masalah pada paru-paru atau jantung.

3. Suara napas berbunyi (Mengi)

Pexels/Evgeniya Davydova

Kalau tubuh si Kecil sudah hangat tetapi kulitnya tetap kebiruan, dengarkan juga cara ia bernapas. Menurut Cleveland Clinic, mengi (wheezing) merupakan salah satu gejala yang dapat menyertai sianosis.

Gangguan pada saluran napas, seperti krup (croup), atau penyakit paru, seperti asma dan pneumonia, termasuk pemicunya. 

Melansir WebMD, bronkiolitis masuk dalam daftar tersebut dan mencatat bahwa si Kecil bisa demam bila penyebabnya infeksi seperti pneumonia atau krup.

Pada bayi yang mengalami hal tersebut, segera ke IGD bila kulit kebiruan disertai suara merintih (grunting). Jadi, jangan menunggu sampai kondisinya memburuk.

Karena si Kecil belum bisa mengeluh, bunyi napas yang tidak biasa patut menjadi perhatian Mama. Catat kapan bunyinya muncul dan seberapa sering, supaya mudah dijelaskan ke dokter.

4. Kesulitan bernapas

Pexels/Sarah Chai

Napas yang berbunyi sering kali diikuti oleh napas yang tampak berat. Melansir News-Medical, sianosis sentral dapat disertai sesak napas serta napas yang cepat dan dangkal.

Pada bayi, kesulitan bernapas juga bisa terlihat dari cuping hidung yang kembang-kempis. Hal ini menjadi bukti bahwa napasnya sedang bekerja keras.

Melansir NHS, segera cari pertolongan darurat bila kulit di bibir, lidah, atau wajah tiba-tiba membiru. Hal yang sama berlaku jika kulit biru itu disertai dengan kesulitan bernapas.

5. Kesulitan menyusu atau mengalami gangguan saat menyusu

Pexels/Anna Shvets

Menyusu ternyata membutuhkan banyak tenaga, dan napas yang berat bisa membuat si Kecil cepat lelah. Mengutip News-Medical, bayi dengan sianosis sering tampak lelah atau berkeringat saat menyusu.

Selain itu, berat badan si Kecil bisa sulit naik. Bayi juga bisa tampak rewel serta lemas seperti terkulai. Melansir Healthline, bila warna biru tidak memudar atau bayi juga sulit makan dan bernapas, sebaiknya segera dibawa ke IGD. 

Pada kasus seperti ini, dokter biasanya akan menstabilkan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi lebih dulu sebelum mencari penyebabnya.

Jadi, bila si Kecil tampak sangat lelah atau berkeringat saat menyusu, jangan dianggap sepele, apalagi jika kulitnya ikut kebiruan.

Nah, itulah pembahasan mengenai 5 ciri-ciri sianosis pada bayi yang wajib Mama ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article