Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

6 Penyebab Leher Bayi Merah yang Perlu Mama Ketahui

4 min read
6 Penyebab Leher Bayi Merah yang Perlu Mama Ketahui
Pexels.com/Polina Tankilevitch
  • Leher bayi dapat memerah karena biang keringat, intertrigo, atau infeksi jamur yang dipicu panas, gesekan, serta kelembapan dari keringat, air liur, dan sisa susu.

  • Kemerahan juga bisa berupa tanda lahir, termasuk port-wine stain dan stork bite, atau eksim yang dipicu faktor genetik maupun paparan seperti keringat, udara kering, dan produk berpewangi.

  • Alergi protein susu sapi dapat menimbulkan ruam, biduran, muntah, diare, hingga gangguan napas; pemeriksaan dokter diperlukan sebelum mengganti formula atau pola makan ibu menyusui.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika sedang memandikan atau mengganti pakaian si Kecil, Mama mungkin tak sengaja melihat kulitnya memerah, terutama di bagian leher.

Kondisi ini bisa membuat Mama khawatir, terlebih jika kulit bayi tampak iritasi atau muncul bintik-bintik kecil. Mengingat kulit bayi masih sensitif, perubahan pada area tersebut bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Apalagi, lipatan leher bayi cenderung mudah lembap akibat keringat, air liur, atau sisa susu yang menempel.

Lantas, kenapa leher bayi terlihat merah? Untuk mengetahui lebih lanjut, yuk, simak penjelasan terkait enam penyebab leher bayi merah yang sudah Popmama.com rangkum dari Parents berikut ini.

  1. 1. Biang keringat

    Biang keringat
    Pexels.com/https://kaboompics.com/

    Biang keringat dapat muncul ketika panas dan keringat terperangkap di lipatan kulit leher bayi. Kondisi ini terjadi karena kelenjar keringat bayi masih berkembang sehingga salurannya lebih mudah tersumbat.

    Biang keringat lebih sering terjadi saat cuaca panas atau lembap. Namun, kondisi ini juga bisa muncul ketika cuaca dingin jika bayi mengenakan pakaian terlalu tebal atau terlalu banyak menggunakan salep dan pelembap.

    Beberapa ciri biang keringat pada bayi meliputi:

    • Bintik-bintik kecil berwarna merah muda.

    • Kulit terasa gatal.

    • Muncul lepuhan kecil berisi cairan, terutama pada bayi baru lahir.

  2. 2. Ruam atau tanda lahir

    Ruam atau tanda lahir
    Pexels.com/Andreas Ebner

    Kulit leher bayi yang memerah tidak selalu disebabkan oleh ruam. Pada beberapa bayi, kemerahan tersebut bisa berupa tanda lahir yang muncul sejak lahir atau dalam beberapa minggu pertama kehidupannya.

    Ada dua jenis tanda lahir yang umum ditemukan di area leher bayi, yaitu:

    • Port-wine stain: Bercak datar berwarna merah muda, merah, atau keunguan yang dapat menutupi area kulit cukup luas. Seiring pertumbuhan bayi, bercak ini bisa menjadi lebih tebal dan besar.

    • Stork bite: Bercak kecil berwarna merah muda atau merah yang juga dikenal sebagai angel kiss. Tanda lahir ini biasanya terlihat lebih jelas ketika bayi menangis.

  3. 3. Intertrigo

    Intertrigo
    Pexels.com/Huynh Van

    Intertrigo merupakan kondisi peradangan kulit yang terjadi di area lipatan tubuh akibat gesekan antarkulit.

    Pada bayi, bagian leher menjadi salah satu lokasi yang rentan mengalami kondisi ini karena lipatannya dapat menahan keringat dan kelembapan.

    Gesekan yang terjadi secara berulang dapat membuat kulit mengalami iritasi dan menimbulkan ruam kemerahan. Beberapa tanda intertrigo yang perlu Mama perhatikan meliputi:

    • Kulit tampak kemerahan.

    • Muncul rasa gatal.

    • Kulit terasa nyeri atau sensitif saat disentuh.

    • Area kulit tampak basah atau mengeluarkan cairan.

    • Muncul bau tidak sedap.

  4. 4. Infeksi jamur

    Infeksi jamur
    Pexels.com/juliane Monari

    Infeksi jamur juga bisa menjadi penyebab leher bayi merah. Jamur dapat tumbuh berlebihan di lingkungan yang lembap, termasuk lipatan leher yang sering menjadi tempat berkumpulnya keringat, air liur, dan sisa ASI atau susu.

    Menurut dokter anak Daniel Ganjian dari Providence Saint John's Health Center di Santa Monica, California, lipatan kulit leher merupakan area yang mendukung pertumbuhan jamur karena kelembapannya.

    Bayi juga lebih rentan mengalami infeksi jamur karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Ruam akibat infeksi jamur umumnya memiliki ciri-ciri berikut:

    • Kemerahan yang tampak cerah dan cukup jelas.

    • Bercak atau garis kemerahan dengan batas yang tegas.

    • Kulit terasa gatal.

    Jika kemerahan tidak kunjung membaik, semakin meluas, atau disertai luka, Mama sebaiknya membawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

  5. 5. Eksim

    Eksim
    Pexels.com/Burst

    Eksim merupakan kondisi peradangan kulit kronis yang dapat dipicu oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Kondisi ini cukup umum terjadi pada anak-anak dan sering mulai muncul saat bayi.

    Pada bayi, eksim dapat kambuh ketika kulit terpapar berbagai pemicu, seperti air liur, keringat, udara kering, bulu hewan, serbuk sari, serta produk perawatan tubuh atau deterjen yang mengandung pewangi.

    Ruam eksim pada bayi dapat terlihat berbeda bergantung pada warna kulitnya. Beberapa cirinya meliputi:

    • Bercak kemerahan pada kulit yang lebih terang.

    • Bercak keunguan, kecokelatan, atau keabu-abuan pada kulit yang lebih gelap.

    • Kulit terasa kering dan kasar saat disentuh.

    Jika Mama mencurigai eksim sebagai penyebab leher bayi merah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk memastikan diagnosis dan menentukan perawatan yang tepat.

  6. 6. Alergi susu sapi

    Alergi susu sapi
    Pexels.com/Mohd Aimi Mustaqim

    Dalam beberapa kasus, ruam di leher bayi dapat menjadi salah satu tanda alergi terhadap protein susu sapi. Protein ini bisa ditemukan dalam berbagai produk susu formula dan juga dapat masuk ke ASI dari makanan yang dikonsumsi Mama.

    Reaksi alergi susu sapi tidak selalu muncul dalam bentuk ruam di leher. Namun, beberapa tanda yang mungkin menyertainya antara lain:

    • Kulit tampak kemerahan.

    • Biduran berupa bentol yang dapat berubah bentuk dan ukuran serta muncul atau menghilang secara tiba-tiba.

    • Gejala lain, seperti muntah atau diare.

    Pada sebagian bayi, alergi susu sapi juga dapat disertai gangguan pernapasan. Jika si Kecil mengalami kesulitan bernapas atau pembengkakan pada bibir maupun lidah, segera cari pertolongan medis darurat.

    Mama sebaiknya tidak langsung mengganti susu formula atau menghindari makanan tertentu selama menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter.

    Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah kemerahan tersebut benar-benar berkaitan dengan alergi susu sapi.

    Itu dia enam penyebab leher bayi merah yang perlu Mama ketahui. Mama bisa menjaga area leher si Kecil tetap bersih dan kering serta memperhatikan perubahan pada kulitnya agar selalu sehat.

Related Articles

See More