Proses persalinan merupakan salah satu tahap penting yang perlu dilalui bayi sebelum akhirnya lahir ke dunia.
Apa Itu Cephalohematoma? Kenali Penyebab dan Gejalanya pada Bayi

Cephalohematoma adalah penumpukan darah antara tulang tengkorak dan jaringan penutupnya akibat pembuluh darah kecil pecah saat persalinan, membentuk benjolan yang dapat muncul beberapa jam atau hari kemudian.
Kondisi ini kerap terkait persalinan sulit atau penggunaan forceps dan vakum. Benjolan biasanya mengecil saat darah diserap tubuh dalam beberapa minggu hingga bulan, dengan pemantauan dokter.
Waspadai pembengkakan, sulit menyusu, lemas, muntah berulang, atau kejang. Komplikasi dapat berupa anemia, kalsifikasi, infeksi, penyakit kuning, dan patah tulang tengkorak; segera konsultasikan ke dokter.
Namun, tekanan selama persalinan terkadang dapat menyebabkan kondisi tertentu pada bayi baru lahir yang perlu mendapat perhatian orangtua.
Salah satunya adalah cephalohematoma, yaitu kondisi yang ditandai dengan penumpukan darah di area kepala bayi.
Agar Mama dapat mengenali kondisi ini sejak dini, berikut Popmama.com rangkum informasi mengenai apa itu cephalohematoma dilansir dari Birth Injury Center.
Table of Content
1. Apa itu cephalohematoma?

Pexels.com/Tanaya Sadhukhan Cephalohematoma adalah kondisi ketika darah menumpuk di antara tulang tengkorak dan lapisan jaringan yang menutupinya.
Kondisi ini terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil selama proses persalinan sehingga darah terkumpul di area tersebut.
Penumpukan darah biasanya membentuk benjolan pada kepala bayi yang dapat terlihat beberapa jam hingga beberapa hari setelah kelahiran.
Hal ini karena perdarahan berlangsung secara bertahap, sehingga benjolan tidak selalu langsung terlihat saat bayi baru lahir.
Cephalohematoma umumnya terjadi setelah persalinan yang sulit atau ketika proses kelahiran membutuhkan bantuan alat, seperti forceps dan vakum.
Meski dapat membuat orangtua khawatir, kondisi ini sering kali dapat membaik dengan sendirinya melalui pemantauan medis.
2. Penyebab cephalohematoma pada bayi

Pexels.com/Andreas Ebner Cephalohematoma umumnya terjadi akibat tekanan atau trauma ringan pada kepala bayi selama proses persalinan. Tekanan tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah kecil di antara tengkorak dan jaringan di sekitarnya pecah.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan kondisi ini meliputi:
Persalinan normal yang sulit: Tekanan yang dialami kepala bayi saat melewati jalan lahir dapat menyebabkan pembuluh darah kecil pecah.
Penggunaan alat bantu persalinan: Prosedur persalinan yang menggunakan forceps atau vakum dapat meningkatkan risiko terjadinya cephalohematoma.
Meski demikian, cephalohematoma tidak selalu menandakan adanya kesalahan selama persalinan. Kondisi ini dapat terjadi secara alami akibat tekanan yang dialami bayi saat dilahirkan.
3. Berapa lama cephalohematoma pada bayi bisa hilang?

Pexels.com/Marcin Jozwiak Benjolan akibat cephalohematoma umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilang dibandingkan pembengkakan kepala bayi yang disebabkan oleh kondisi lain.
Proses pemulihannya dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, bergantung pada ukuran penumpukan darah.
Seiring waktu, tubuh bayi akan menyerap kembali darah yang terkumpul sehingga benjolan berangsur-angsur mengecil.
Selama proses pemulihan, dokter akan memantau kondisi benjolan dan memastikan tidak muncul tanda komplikasi. Mama sebaiknya tidak memijat, menekan, atau mencoba mengeluarkan darah dari benjolan tersebut karena dapat menimbulkan masalah lebih lanjut.
4. Gejala utama cephalohematoma pada bayi

Pexels.com/Luis Becerra Fotógrafo Gejala cephalohematoma umumnya ditandai dengan munculnya benjolan pada kepala bayi beberapa jam hingga beberapa hari setelah persalinan.
Selain pembengkakan, ada sejumlah gejala lain yang perlu Mama kenali untuk memantau kondisi si Kecil. Berikut beberapa gejala yang dapat muncul:
Pembengkakan pada kepala: Muncul benjolan yang terasa lunak atau kenyal akibat penumpukan darah di bawah jaringan kulit kepala.
Kepala tampak membesar: Penumpukan darah dapat membuat salah satu bagian kepala bayi terlihat lebih menonjol.
Rasa tidak nyaman: Bayi mungkin menunjukkan tanda ketidaknyamanan ketika area kepala yang membengkak tersentuh.
Kesulitan menyusu: Bayi dapat mengalami kesulitan saat menyusu atau menolak asupan ASI.
Tangisan bernada tinggi: Tangisan yang terdengar lebih melengking dari biasanya dapat menjadi tanda adanya ketidaknyamanan.
Lesu: Bayi terlihat lebih lemas atau kurang responsif dibandingkan biasanya.
Muntah: Pada beberapa bayi, muntah juga dapat terjadi dan perlu diperhatikan jika muncul berulang.
Kejang: Meski jarang, kejang dapat menjadi tanda adanya masalah serius yang membutuhkan pemeriksaan segera.
5. Gejala komplikasi cephalohematoma pada bayi

Pexels.com/Oss Leos Selain gejala utama, cephalohematoma juga dapat menimbulkan komplikasi tertentu. Mama perlu mengenali tanda-tandanya agar si Kecil bisa segera mendapatkan penanganan yang sesuai.
Anemia: Penumpukan darah dalam jumlah besar dapat menyebabkan bayi kekurangan sel darah merah. Gejalanya dapat berupa kulit pucat dan detak jantung yang cepat.
Kalsifikasi: Penumpukan darah yang menetap dapat mengeras dan membentuk benjolan keras pada kepala bayi.
Infeksi: Area benjolan dapat mengalami kemerahan, terasa hangat, atau mengeluarkan nanah. Demam juga dapat menjadi tanda infeksi.
Penyakit kuning: Pemecahan sel darah merah dari darah yang terkumpul dapat meningkatkan kadar bilirubin sehingga kulit dan mata bayi tampak menguning.
Patah tulang tengkorak: Trauma yang menyebabkan cephalohematoma terkadang juga dapat menyebabkan patah tulang tengkorak. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis.
Jika Mama menemukan benjolan pada kepala bayi atau melihat tanda-tanda komplikasi tersebut, segera konsultasikan dengan dokter. Terutama jika si Kecil mengalami kejang, sulit menyusu, muntah berulang, atau tampak sangat lemas.
Itulah penjelasan mengenai apa itu cephalohematoma. Meski umumnya dapat membaik dengan sendirinya, Mama tetap perlu memantau kondisi kepala si Kecil dan berkonsultasi dengan dokter agar proses pemulihannya berjalan dengan baik.






















