Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Fimosis pada Bayi? Kenali Gejala dan Penanganannya

5 min read
Apa Itu Fimosis pada Bayi? Kenali Gejala dan Penanganannya
Pexels/Emma Bauso
  • Fimosis adalah kulup yang sulit ditarik melewati kepala penis; pada bayi laki-laki umumnya normal karena kulup masih menempel dan biasanya melonggar seiring pertumbuhan.

  • Pemeriksaan dokter diperlukan bila aliran urine lemah, kulup menggembung saat berkemih, muncul kemerahan, bengkak, nyeri, cairan, infeksi berulang, atau kulup belum dapat ditarik hingga usia lebih besar.

  • Fimosis fisiologis biasanya cukup dipantau dan dijaga kebersihannya; jangan menarik kulup paksa. Dokter dapat mempertimbangkan krim steroid, peregangan lembut, atau sunat pada kasus tertentu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat memandikan si Kecil, Mama mungkin pernah melihat kulit di ujung penisnya tampak ketat dan sulit ditarik ke belakang. Wajar kalau Mama langsung bertanya-tanya, apakah ini normal atau pertanda ada masalah?

Kabar baiknya, kondisi yang disebut fimosis ini sangat umum pada bayi laki-laki dan sering kali tidak perlu dikhawatirkan. Meski begitu, ada beberapa tanda yang tetap perlu Mama waspadai.

Supaya Mama lebih mengetahui akan kondisi ini, berikut Popmama.com mengulas apa itu fimosis pada bayi? Yuk, simak sampai habis!

  1. Apa Itu Fimosis?

    Apa Itu Fimosis?
    Pexels/https://kaboompics.com/

    Melansir Children's Hospital of Philadelphia, fimosis adalah penyempitan lubang kulup sehingga kulit tersebut tidak bisa ditarik ke belakang melewati kepala penis. Pada bayi laki-laki yang baru lahir, kondisi ini justru normal.

    Mengutip Cleveland Clinic, hampir semua bayi laki-laki mengalaminya karena kulup memang masih menempel pada kepala penis. Seiring waktu, kulup akan berubah perlahan hingga akhirnya bisa ditarik.

    Soal kapan waktunya, beragam, ada anak yang kulupnya sudah bisa ditarik sejak bayi, tetapi ada juga yang baru pada usia 5 atau 6 tahun. Bahan putih seperti keju yang kadang muncul di bawah kulup pun hanyalah sel kulit yang mengelupas, bukan tanda infeksi.

  2. Apa Saja Jenis-Jenis Fimosis?

    Apa Saja Jenis-Jenis Fimosis?
    Pexels/Keira Burton

    Secara umum, fimosis terbagi menjadi dua jenis sebagai berikut, dikutip dari Cleveland Clinic.

    1. Fimosis fisiologis
      Jenis ini lebih sering terjadi pada anak dan biasanya hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Fimosis jenis ini memang sudah ada sejak lahir.

    2. Fimosis patologis
      Jenis ini muncul akibat infeksi, peradangan, atau jaringan parut, dan hanya dialami kurang dari 1 persen anak laki-laki. Berbeda dengan fimosis fisiologis, jenis ini perlu ditangani karena tidak akan membaik sendiri.

  3. Apa Saja Gejala Fimosis?

    Apa Saja Gejala Fimosis?
    Pexels/Vidal Balielo Jr.

    Sebagian besar bayi dengan fimosis tidak merasakan keluhan apa pun. Namun, ada beberapa gejala yang menandakan kondisi tersebut perlu diperiksa oleh dokter.

    1. Kulup menggembung saat buang air kecil
      Melansir Greenberg Circumcision Centre, urine bisa terjebak di antara kepala penis dan kulup hingga tampak bengkak seperti balon.

    2. Aliran urine lemah atau si Kecil tampak mengejan
      Menurut Greenberg Circumcision Centre, kesulitan berkemih bisa menjadi pertanda fimosis. Lubang kulup yang sangat kecil seperti ujung jarum merupakan salah satu penyebab keluhan ini.

    3. Kemerahan, bengkak, atau nyeri di ujung penis
      Menurut Cleveland Clinic, perubahan warna, bengkak, dan rasa nyeri bisa muncul bila ada iritasi atau infeksi. Selain itu,  keluarnya cairan dari kulup juga perlu segera dilaporkan ke dokter.

    4. Infeksi kulup yang berulang
      Children's Hospital of Philadelphia menyebut infeksi kulup atau balanitis yang sering kambuh sebagai tanda yang perlu ditangani. 

    5. Kulup tetap tidak bisa ditarik saat anak sudah lebih besar
      Menurut Children's Hospital of Philadelphia, kulup yang belum bisa ditarik sepenuhnya hingga usia 10 tahun perlu diperiksakan.

  4. Apa Saja Penyebab Fimosis?

    Apa Saja Penyebab Fimosis?
    Pexels/Huynh Van

    Pada bayi, penyebabnya sering kali sangat sederhana. Namun, ada juga beberapa faktor lain yang perlu Mama ketahui.

    1. Bawaan sejak lahir
      Cleveland Clinic menyebut kulup hampir pasti ketat pada semua bayi baru lahir. Kepala penis dan kulup masih menyatu selama beberapa tahun pertama kehidupan.
    2. Kulup ditarik paksa
      Menurut Johns Hopkins Medicine, kulup yang dipaksa mundur sebelum waktunya bisa membentuk jaringan parut yang menghalangi kulup bergerak di kemudian hari. Kulup anak juga jangan ditarik dengan paksa karena bisa memicu nyeri dan perdarahan.
    3. Infeksi
      Menurut Cleveland Clinic, infeksi adalah penyebab tersering fimosis patologis. Risikonya lebih tinggi pada anak yang lebih besar dengan infeksi kulup atau infeksi saluran kemih berulang.
    4. Kondisi kulit tertentu
      Cleveland Clinic menyebut eksim, psoriasis, lichen planus, dan lichen sclerosus sebagai kemungkinan pemicunya. 
    5. Jaringan parut
      Melansir WebMD, infeksi bisa meninggalkan jaringan parut yang membuat kulit kurang lentur. Akibatnya, kulup menjadi keras dan sulit ditarik.

  5. Bagaimana Penanganan Fimosis?

    Bagaimana Penanganan Fimosis?
    Pexels/Jonathan Borba

    Kabar baiknya, penanganan fimosis pada bayi biasanya tidak rumit. Berikut pilihan yang umum disarankan dokter.

    1. Dipantau saja
      Cleveland Clinic menyebut fimosis fisiologis biasanya tidak memerlukan pengobatan karena anak akan tumbuh lepas darinya. Sebagian besar kasus pada bayi membaik dengan sendirinya.

    2. Krim steroid
      Menurut Children's Hospital of Philadelphia, dokter dapat meresepkan krim steroid untuk melunakkan area yang ketat sekaligus mempermudah peregangan kulit. Karena ini obat resep, Mama perlu mengikuti aturan pakai dari dokter dengan saksama.

    3. Peregangan lembut
      UMass Memorial Health menyebut dokter akan mengajarkan cara menarik kulup perlahan dan lembut di rumah. Peregangan hanya boleh dilakukan sejauh kulup bisa bergerak tanpa menimbulkan rasa sakit.

    4. Sunat
      Mengutip Children's Hospital of Philadelphia, sunat dapat dipertimbangkan pada anak yang tidak membaik setelah pengobatan berulang atau sering terkena infeksi. Prosedur ini juga perlu dibicarakan dengan dokter sebelum dilakukan.

    5. Jaga kebersihan
      Menurut Medical News Today, membersihkan area penis dengan air hangat dan mengeringkannya dengan lembut. Orangtua juga tidak boleh memaksa kulup ditarik sebelum waktunya.

    6. Waspadai tanda darurat
      Menurut UMass Memorial Health, orangtua dihimbau untuk segera menghubungi dokter bila kulup yang sudah ditarik tidak bisa kembali, ada perdarahan, atau muncul nyeri.

    Jadi, fimosis pada bayi laki-laki umumnya normal dan akan membaik seiring pertumbuhan si Kecil. Yang terpenting, Mama tidak perlu menarik kulupnya dengan paksa, cukup jaga kebersihannya dan beri waktu.

    Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu fimosis pada bayi? Sebuah kondisi pada penis bayi laki-laki. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Related Articles

See More