Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Sianosis pada Bayi: Apa Itu, Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

5 min read
Sianosis pada Bayi: Apa Itu, Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Wikimedia Commons/Cornelia Csuk
  • Sianosis pada bayi adalah warna kebiruan pada kulit, bibir, telinga, atau kuku akibat berkurangnya oksigen dalam darah; kondisi ini merupakan gejala masalah kesehatan lain.

  • Penyebabnya beragam, termasuk gangguan pernapasan, penyakit jantung bawaan, gangguan saraf dan darah, suhu dingin, serta hambatan aliran darah.

  • Kebiruan disertai napas cepat, retraksi dada, atau tubuh dingin perlu segera dibawa ke IGD; dokter dapat mengukur saturasi oksigen dan melakukan pemeriksaan lanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat sedang menimang si Kecil, Mama tiba-tiba melihat bibir atau ujung jarinya tampak kebiruan. Wajar kalau jantung langsung berdebar dan muncul pertanyaan, “Ini normal atau justru tanda bahaya?”

Warna kebiruan pada kulit bayi dikenal sebagai sianosis. Kondisi ini bisa ringan dan hilang sendiri, tetapi bisa juga menjadi pertanda masalah serius yang perlu ditangani segera.

Supaya Mama tidak bingung saat menghadapinya, berikut Popmama.com mengulas sianosis pada bayi: apa itu, penyebab, dan cara mengatasi. Yuk, simak sampai habis!

  1. Apa Itu Sianosis pada Bayi?

    Apa Itu Sianosis pada Bayi?
    Wikimedia Commons/Chidiebere Ibe

    Sederhananya, sianosis adalah kondisi saat kulit, bibir, telinga, atau kuku bayi tampak kebiruan karena kadar oksigen dalam darahnya berkurang. 

    Dikutip dari laman Kemenkes, kondisi ini bisa muncul tiba-tiba dan berpotensi menjadi masalah kesehatan yang serius. Warna biru itu muncul karena hemoglobin, bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen, kehilangan oksigennya di dekat permukaan kulit. 

    Hemoglobin yang membawa oksigen tampak merah cerah, sedangkan yang kehabisan oksigen tampak kebiruan. Dilansir dari WebMD, istilah sianosis berkaitan dengan kata cyan yang berarti warna biru. 

    Menariknya, sianosis bukan penyakit tersendiri, melainkan gejala dari masalah kesehatan lain di baliknya. Karena hanya berupa gejala, pasti ada sesuatu yang membuat oksigen si Kecil berkurang.

  2. Penyebab Sianosis pada Bayi

    Penyebab Sianosis pada Bayi
    Pexels/Evgeniya Davydova

    Penyebab kulit bayi tampak kebiruan ternyata beragam, dari yang ringan sampai yang butuh penanganan darurat. Berikut penyebab yang bisa Mama kenali, dikutip dari laman Kemenkes.

    • Gangguan pernapasan
      Sumbatan di jalan napas atau radang paru-paru (pneumonia) membuat oksigen sulit masuk ke dalam darah. Itulah sebabnya masalah napas selalu menjadi kecurigaan pertama dokter.
    • Penyakit jantung bawaan
      Kelainan struktur jantung sejak lahir, seperti tetralogi Fallot atau transposisi arteri besar, dapat membuat bayi tampak biru. 
    • Gangguan sistem saraf pusat
      Kondisi seperti kejang atau perdarahan di dalam kepala dapat menekan dorongan bayi untuk bernapas. Akibatnya, oksigen yang masuk ke tubuh berkurang.
    • Gangguan darah
      Selain anemia, methemoglobinemia, yaitu hemoglobin yang mengalami oksidasi, dapat membuat bayi tampak biru tanpa terlihat sesak. Ada pula polisitemia, yaitu kondisi saat darah menjadi terlalu kental sehingga aliran ke ujung tubuh berkurang.
    • Paparan suhu dingin
      Udara dingin dapat membuat pembuluh darah di tangan dan kaki menyempit, sehingga ujung tubuh tampak kebiruan. Kondisi ini biasanya membaik setelah tubuh si Kecil dihangatkan.
    • Gangguan aliran darah
      Penggumpalan darah di vena dalam (deep vein thrombosis) dan gangguan arteri perifer merupakan salah satu penyebab. Keduanya berkaitan dengan lancar tidaknya aliran darah ke seluruh tubuh.

    Dengan banyaknya kemungkinan itu, Mama tidak perlu menebak-nebak sendiri penyebabnya. Pemeriksaan dokter akan membantu menemukan pemicu pastinya.

  3. Gejala Sianosis yang Perlu Mama Waspadai

    Gejala Sianosis yang Perlu Mama Waspadai
    Pexels/Дмитрий Зайцев

    Gejala utama sianosis tentu warna kulit yang kebiruan atau keunguan. Namun, tanda ini ternyata tidak selalu mudah dikenali. Berikut beberapa gejalanya, dikutip dari laman Kemenkes.

    • Kulit tampak kebiruan
      Warna biru bisa muncul di kulit, mulut, bawah kuku, telinga, serta tangan dan kaki.

    • Suhu tubuh menurun
      Tubuh si Kecil bisa terasa lebih dingin dari biasanya.

    • Kebas
      Rasa kebas pada tubuh si Kecil merupakan gejala yang harus diwaspadai oleh orangtua, karena bisa menjadi tanda yang serius.

    • Sulit bernapas
      Napas bayi tampak lebih cepat atau dadanya terlihat tertarik ke dalam (retraksi dada). Jika tanda ini muncul, segera cari pertolongan medis..

    • Batuk dan pusing
      Batuk-batuk dan pusing turut disebut sebagai gejala penyerta.

    Karena si Kecil belum bisa bercerita tentang rasa tidak nyamannya, Mama perlu jeli memperhatikan perubahan pada warna kulit dan cara napasnya.

  4. Jenis-Jenis Sianosis pada Bayi

    Jenis-Jenis Sianosis pada Bayi
    Wikimedia Commons/Jules Atkins, RM

    Kemenkes membagi sianosis menjadi tiga jenis berdasarkan letak dan penyebabnya. Berikut penjelasannya.

    • Sianosis sentral
      Jenis ini dipicu masalah sirkulasi darah atau gangguan serius pada jantung dan paru-paru. Warna biru terlihat di lidah dan selaput lendir, dan penanganannya bergantung pada penyebabnya.

    • Sianosis perifer
      Jenis ini muncul karena aliran darah ke ujung tubuh terkendala. Kebiruan tampak di ujung jari tangan dan kaki serta di sekitar bibir, sementara kadar oksigen di darah arteri tetap normal.

    • Akrosianosis
      Kondisi ini terjadi pada bayi atau anak yang terpapar cuaca dingin. Penanganannya, cukup dengan menghangatkan ujung tubuh si Kecil.

  5. Cara Mengatasi Sianosis pada Bayi

    Cara Mengatasi Sianosis pada Bayi
    Pexels/Jonathan Borba

    WebMD menyebut sebagian besar warna kebiruan pada anak berasal dari akrosianosis yang tidak perlu diobati dan biasanya hilang sendiri. Meski begitu, Mama tetap perlu tahu langkah yang tepat jika kebiruan itu ternyata bukan akrosianosis.

    Berikut beberapa cara untuk mengatasinya.

    • Periksa letak warna kebiruan
      Jika hanya terlihat di tangan, kaki, dan sekitar bibir, kemungkinan itu akrosianosis yang normal pada bayi, menurut WebMD. 
    • Cek suhu dan hangatkan tubuh
      Mengutip laman Kemenkes, ukur suhu bayi lalu segera menghangatkannya jika kebiruan terlihat di kuku tangan atau kaki. Suhu normal bayi berkisar 36,5–37 derajat Celsius.
    • Segera bawa ke IGD
      Melansir Kemenkes, segera bawa bayi ke IGD terdekat bila tanda sianosis muncul di rumah. Jangan menunggu sampai kondisinya memburuk.
    • Pengukuran saturasi oksigen
      Dokter akan memeriksa fisik, menanyakan riwayat kesehatan, dan mengukur kadar oksigen dengan alat berlampu yang dipasang di jari tangan atau kaki selama beberapa menit. 
    • Tes penunjang
      Bila perlu, dokter dapat meminta tes fungsi paru, rontgen dada, ekokardiogram, atau kateterisasi jantung untuk mencari penyebabnya.
    • Pengobatan sesuai penyebab
      Sebagian anak butuh oksigen atau alat bantu napas, obat-obatan, bahkan operasi untuk mengatasi kondisi yang mendasarinya. 

    Nah, itulah pembahasan mengenai sianosis pada bayi: apa itu, penyebab, dan cara mengatasi. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Related Articles

See More