Saat sedang menimang si Kecil, Mama tiba-tiba melihat bibir atau ujung jarinya tampak kebiruan. Wajar kalau jantung langsung berdebar dan muncul pertanyaan, “Ini normal atau justru tanda bahaya?”
Sianosis pada Bayi: Apa Itu, Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Sianosis pada bayi adalah warna kebiruan pada kulit, bibir, telinga, atau kuku akibat berkurangnya oksigen dalam darah; kondisi ini merupakan gejala masalah kesehatan lain.
Penyebabnya beragam, termasuk gangguan pernapasan, penyakit jantung bawaan, gangguan saraf dan darah, suhu dingin, serta hambatan aliran darah.
Kebiruan disertai napas cepat, retraksi dada, atau tubuh dingin perlu segera dibawa ke IGD; dokter dapat mengukur saturasi oksigen dan melakukan pemeriksaan lanjutan.
Warna kebiruan pada kulit bayi dikenal sebagai sianosis. Kondisi ini bisa ringan dan hilang sendiri, tetapi bisa juga menjadi pertanda masalah serius yang perlu ditangani segera.
Supaya Mama tidak bingung saat menghadapinya, berikut Popmama.com mengulas sianosis pada bayi: apa itu, penyebab, dan cara mengatasi. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Apa Itu Sianosis pada Bayi?

Wikimedia Commons/Chidiebere Ibe Sederhananya, sianosis adalah kondisi saat kulit, bibir, telinga, atau kuku bayi tampak kebiruan karena kadar oksigen dalam darahnya berkurang.
Dikutip dari laman Kemenkes, kondisi ini bisa muncul tiba-tiba dan berpotensi menjadi masalah kesehatan yang serius. Warna biru itu muncul karena hemoglobin, bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen, kehilangan oksigennya di dekat permukaan kulit.
Hemoglobin yang membawa oksigen tampak merah cerah, sedangkan yang kehabisan oksigen tampak kebiruan. Dilansir dari WebMD, istilah sianosis berkaitan dengan kata cyan yang berarti warna biru.
Menariknya, sianosis bukan penyakit tersendiri, melainkan gejala dari masalah kesehatan lain di baliknya. Karena hanya berupa gejala, pasti ada sesuatu yang membuat oksigen si Kecil berkurang.
Penyebab Sianosis pada Bayi

Pexels/Evgeniya Davydova Penyebab kulit bayi tampak kebiruan ternyata beragam, dari yang ringan sampai yang butuh penanganan darurat. Berikut penyebab yang bisa Mama kenali, dikutip dari laman Kemenkes.
- Gangguan pernapasan
Sumbatan di jalan napas atau radang paru-paru (pneumonia) membuat oksigen sulit masuk ke dalam darah. Itulah sebabnya masalah napas selalu menjadi kecurigaan pertama dokter. - Penyakit jantung bawaan
Kelainan struktur jantung sejak lahir, seperti tetralogi Fallot atau transposisi arteri besar, dapat membuat bayi tampak biru. - Gangguan sistem saraf pusat
Kondisi seperti kejang atau perdarahan di dalam kepala dapat menekan dorongan bayi untuk bernapas. Akibatnya, oksigen yang masuk ke tubuh berkurang. - Gangguan darah
Selain anemia, methemoglobinemia, yaitu hemoglobin yang mengalami oksidasi, dapat membuat bayi tampak biru tanpa terlihat sesak. Ada pula polisitemia, yaitu kondisi saat darah menjadi terlalu kental sehingga aliran ke ujung tubuh berkurang. - Paparan suhu dingin
Udara dingin dapat membuat pembuluh darah di tangan dan kaki menyempit, sehingga ujung tubuh tampak kebiruan. Kondisi ini biasanya membaik setelah tubuh si Kecil dihangatkan. - Gangguan aliran darah
Penggumpalan darah di vena dalam (deep vein thrombosis) dan gangguan arteri perifer merupakan salah satu penyebab. Keduanya berkaitan dengan lancar tidaknya aliran darah ke seluruh tubuh.
Dengan banyaknya kemungkinan itu, Mama tidak perlu menebak-nebak sendiri penyebabnya. Pemeriksaan dokter akan membantu menemukan pemicu pastinya.
- Gangguan pernapasan
Gejala Sianosis yang Perlu Mama Waspadai

Pexels/Дмитрий Зайцев Gejala utama sianosis tentu warna kulit yang kebiruan atau keunguan. Namun, tanda ini ternyata tidak selalu mudah dikenali. Berikut beberapa gejalanya, dikutip dari laman Kemenkes.
Kulit tampak kebiruan
Warna biru bisa muncul di kulit, mulut, bawah kuku, telinga, serta tangan dan kaki.Suhu tubuh menurun
Tubuh si Kecil bisa terasa lebih dingin dari biasanya.Kebas
Rasa kebas pada tubuh si Kecil merupakan gejala yang harus diwaspadai oleh orangtua, karena bisa menjadi tanda yang serius.Sulit bernapas
Napas bayi tampak lebih cepat atau dadanya terlihat tertarik ke dalam (retraksi dada). Jika tanda ini muncul, segera cari pertolongan medis..Batuk dan pusing
Batuk-batuk dan pusing turut disebut sebagai gejala penyerta.
Karena si Kecil belum bisa bercerita tentang rasa tidak nyamannya, Mama perlu jeli memperhatikan perubahan pada warna kulit dan cara napasnya.
Jenis-Jenis Sianosis pada Bayi

Wikimedia Commons/Jules Atkins, RM Kemenkes membagi sianosis menjadi tiga jenis berdasarkan letak dan penyebabnya. Berikut penjelasannya.
Sianosis sentral
Jenis ini dipicu masalah sirkulasi darah atau gangguan serius pada jantung dan paru-paru. Warna biru terlihat di lidah dan selaput lendir, dan penanganannya bergantung pada penyebabnya.Sianosis perifer
Jenis ini muncul karena aliran darah ke ujung tubuh terkendala. Kebiruan tampak di ujung jari tangan dan kaki serta di sekitar bibir, sementara kadar oksigen di darah arteri tetap normal.Akrosianosis
Kondisi ini terjadi pada bayi atau anak yang terpapar cuaca dingin. Penanganannya, cukup dengan menghangatkan ujung tubuh si Kecil.
Cara Mengatasi Sianosis pada Bayi

Pexels/Jonathan Borba WebMD menyebut sebagian besar warna kebiruan pada anak berasal dari akrosianosis yang tidak perlu diobati dan biasanya hilang sendiri. Meski begitu, Mama tetap perlu tahu langkah yang tepat jika kebiruan itu ternyata bukan akrosianosis.
Berikut beberapa cara untuk mengatasinya.
- Periksa letak warna kebiruan
Jika hanya terlihat di tangan, kaki, dan sekitar bibir, kemungkinan itu akrosianosis yang normal pada bayi, menurut WebMD. - Cek suhu dan hangatkan tubuh
Mengutip laman Kemenkes, ukur suhu bayi lalu segera menghangatkannya jika kebiruan terlihat di kuku tangan atau kaki. Suhu normal bayi berkisar 36,5–37 derajat Celsius. - Segera bawa ke IGD
Melansir Kemenkes, segera bawa bayi ke IGD terdekat bila tanda sianosis muncul di rumah. Jangan menunggu sampai kondisinya memburuk. - Pengukuran saturasi oksigen
Dokter akan memeriksa fisik, menanyakan riwayat kesehatan, dan mengukur kadar oksigen dengan alat berlampu yang dipasang di jari tangan atau kaki selama beberapa menit. - Tes penunjang
Bila perlu, dokter dapat meminta tes fungsi paru, rontgen dada, ekokardiogram, atau kateterisasi jantung untuk mencari penyebabnya. - Pengobatan sesuai penyebab
Sebagian anak butuh oksigen atau alat bantu napas, obat-obatan, bahkan operasi untuk mengatasi kondisi yang mendasarinya.
Nah, itulah pembahasan mengenai sianosis pada bayi: apa itu, penyebab, dan cara mengatasi. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!
- Periksa letak warna kebiruan





















