Data BPS: 14–15 dari 1.000 Kelahiran Hidup Meninggal Sebelum 1 Tahun

- SUPAS 2025 mencatat angka kematian bayi Indonesia 14,12 per 1.000 kelahiran hidup, turun dari 16,85 pada 2020 dan 26,09 pada 2010.
- Kesenjangan antardaerah masih lebar: Papua Pegunungan mencatat IMR tertinggi 37,04 per 1.000 kelahiran, sedangkan DKI Jakarta terendah, 9,26.
- Kematian neonatal mencapai 8,95 per 1.000 kelahiran; penguatan layanan ibu-bayi dan dukungan ASI dini diperlukan, karena baru 27% bayi mendapat ASI dalam satu jam pertama.
Angka kematian bayi masih menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) Indonesia sebesar 14,12 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
Artinya, secara nasional terdapat sekitar 14–15 bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun dari setiap 1.000 bayi yang lahir hidup. Meski angka tersebut terus mengalami penurunan, BPS masih menemukan kesenjangan yang cukup lebar antarwilayah.
BPS mencatat IMR Indonesia pada SUPAS 2025 turun dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang berada di angka 16,85. Bahkan, angka tersebut hampir setengah dari kondisi pada SP2010 yang mencapai 26,09 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup.
Berikut Popmama.com rangkum beberapa fakta penting mengenai angka kematian bayi di Indonesia berdasarkan data BPS 2025.
Table of Content
1. Papua Pegunungan memiliki angka kematian bayi tertinggi

Pexels/Huynh Van Kesenjangan angka kematian bayi terlihat cukup jelas antardaerah. Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan IMR tertinggi di Indonesia, yaitu 37,04 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
Dengan angka tersebut, sekitar 37 dari setiap 1.000 bayi yang lahir hidup di Papua Pegunungan meninggal sebelum berusia 1 tahun. Di posisi berikutnya terdapat Papua Selatan dengan IMR 34,49, Papua Tengah 34,32, Papua Barat 33,58, dan Papua Barat Daya 27,20.
Sebaliknya, DKI Jakarta mencatat IMR terendah, yakni 9,26 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Setelahnya terdapat DI Yogyakarta sebesar 9,80, Jawa Tengah 10,88, Bali 11,51, dan Jawa Timur 11,84.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lokasi tempat bayi dilahirkan masih berkaitan dengan peluang bertahan hidup pada tahun pertama kehidupannya.
BPS juga menyoroti bahwa kawasan Indonesia Timur masih cenderung memiliki angka kematian ibu dan bayi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Karena itu, penurunan angka nasional perlu diikuti dengan upaya mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan antardaerah.
2. Sebagian besar kematian bayi terjadi pada periode yang sangat awal

Unsplash/Kelly Sikkema Selain melihat kematian sebelum usia 1 tahun, BPS menggunakan indikator Angka Kematian Neonatal atau Neonatal Mortality Rate (NMR) untuk mengetahui jumlah bayi yang meninggal pada periode 0–28 hari setelah lahir.
Hasil SUPAS 2025 menunjukkan NMR Indonesia sebesar 8,95 kematian per 1.000 kelahiran hidup, turun dari 9,30 berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020. Artinya, dari setiap 1.000 bayi yang lahir hidup, hampir 9 bayi meninggal sebelum berusia 28 hari.
Periode neonatal memang merupakan salah satu fase paling rentan dalam kehidupan anak. WHO menyebut bahwa pada 2022, hampir setengah dari seluruh kematian anak di bawah usia 5 tahun terjadi pada periode neonatal, yaitu 28 hari pertama kehidupan.
WHO juga mencatat bahwa sebagian besar kematian neonatal terjadi pada minggu pertama kehidupan. Kondisi seperti kelahiran prematur, komplikasi saat persalinan, infeksi, dan kelainan bawaan menjadi beberapa penyebab utama kematian pada periode tersebut.
4. Dukungan penuh terhadap bayi baru lahir juga penting

Pexels/Marcus Goodman Upaya menyelamatkan nyawa bayi perlu dimulai sejak masa kehamilan. Setelah lahir, bayi yang memiliki faktor risiko juga membutuhkan pemantauan dan dukungan yang optimal agar kondisinya dapat segera ditangani apabila muncul komplikasi.
Salah satu bentuk dukungan penting pada periode awal kehidupan adalah pemberian ASI. WHO dan UNICEF di Indonesia menyebutkan bahwa pemberian ASI sejak dini menjadi bagian penting dalam perawatan bayi baru lahir.
Namun, praktik ini masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, baru 27 persen bayi baru lahir yang mendapatkan ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran.
Secara keseluruhan, data SUPAS 2025 menunjukkan bahwa Angka Kematian Bayi di Indonesia terus mengalami penurunan. Meski demikian, tantangan masih ada, terutama karena kesenjangan angka kematian bayi antarwilayah cukup besar.
Karena itu, penurunan angka kematian bayi secara nasional perlu dibarengi dengan pemerataan akses terhadap pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang berkualitas. Hal ini menjadi semakin penting di wilayah yang masih memiliki angka kematian bayi tinggi.
BPS menegaskan bahwa hasil SUPAS 2025 dapat menjadi dasar untuk memperkuat kebijakan penurunan kematian ibu dan anak, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan pelayanan kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.





















