Kualitas Tidur Mempengaruhi Kemampuan Sosial Bayi, Mitos atau Fakta?

Ternyata ini bisa diprediksi sejak bayi lho, Ma

23 November 2021

Kualitas Tidur Mempengaruhi Kemampuan Sosial Bayi, Mitos atau Fakta
pixabay.com/ddimitrova

Dalam tahun pertama kehidupan seorang anak, tidur merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa ditoleransi sama seperti makan.

Alasannya karena tidur juga merupakan kegiatan yang berperan penting dalam mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil pada 1000 hari pertamanya.

Baru-baru ini, para peneliti bahkan menemukan bahwa kemampuan sosial anak di masa depan bisa diprediksi melalui ekspresi yang dimiliki anak terkait dengan waktu tidurnya.

Apa saja yang menjadi indikatornya? Apakah prediksi ini bisa berubah? Berikut hasil penelitian yang bisa Mama ketahui, yang sudah Popmama.com rangkum dari Parents.com.

Bagaimana Ekspresi Wajah Dapat Memprediksi Masa Depan Anak?

Bagaimana Ekspresi Wajah Dapat Memprediksi Masa Depan Anak
freepik.com

Dalam studi yang dilansir dari Parents.com, peneliti mengungkapkan anak yang rewel akibat kurang tidur memiliki ekspresi wajah yang geram karena kelelahan.

Menurutnya, ini bahkan bisa memprediksi bagaimana mereka akan menangani masalah sosial di masa depan.

Candice Alfano, profesor psikologi di University of Houston, telah menerbitkan sebuah studi baru di Affective Science yang melihat secara dekat bagaimana perubahan ekspresi wajah anak-anak setelah kurang tidur dapat memprediksi masalah sosial mereka di masa depan.

"Masalah tidur pada anak-anak secara rutin dikaitkan dengan kompetensi sosial yang lebih rendah dan lebih banyak masalah dalam hubungan teman sebaya, tetapi kami benar-benar tidak mengerti apa yang mendorong asosiasi ini," tulis Candice dalam penelitian tersebut.

Editors' Picks

Hubungan Kualitas Tidur dan Masalah Sosial Anak

Hubungan Kualitas Tidur Masalah Sosial Anak
freepik.com

Dalam penelitiannya, Candice dan tim menilai 37 anak berusia antara 7 dan 11 tahun dalam dua tes yang berbeda.

Pertama, anak-anak yang cukup tidur di malam sebelumnya. Kemudian, tes kedua dilakukan pada anak-anak yang tidurnya dibatasi sehingga membuat mereka lelah dan rewel keesokan harinya.

Selama evaluasi di laboratorium, anak-anak diperlihatkan dua set gambar; beberapa gambar memiliki asosiasi positif seperti pelangi dan es krim, dan yang lain menggambarkan asosiasi negatif seperti anjing menggonggong atau ditembak.

Sementara anak-anak melihat gambar-gambar ini, kamera merekam ekspresi wajah mereka.

Dua tahun kemudian, orangtua mereka diminta untuk memberikan laporan tentang bagaimana anak mengelola hubungan sosialnya.

Candice menulis, "Anak-anak yang menunjukkan ekspresi wajah yang kurang positif dalam menanggapi gambar-gambar yang menyenangkan ketika tidurnya dibatasi, dilaporkan memiliki lebih banyak masalah sosial dua tahun kemudian, bahkan ketika mereka mengendalikan masalah sosial sebelumnya."

Dari sini Candice dan timnya berpikir bahwa, jumlah tidur berkualitas yang didapat anak-anak ketika masih muda dapat membantu mereka dalam hubungan sosialnya kelak.

Hasil penelitian ini cocok dengan banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana kualitas tidur dapat berdampak besar pada diri anak. Baik secara mental, fisik, hingga kesehatan sosial.

Bukan Masalah Seumur Hidup

Bukan Masalah Seumur Hidup
freepik.com/freepik

Setelah mengetahui hal ini, lantas Mama pasti cukup cemas. Tetapi, hal ini tidak bersifat permanen kok, Ma.

Hanya karena seorang anak mengalami masalah tidur, tidak berarti mereka akan menghadapi masalah kesehatan atau sosial seumur hidupnya.

Jika si Kecil mengalami kesulitan tidur akibat gangguan pernafasan, restless leg syndrome, gangguan tidur, sleep apnea, dan lainnya, Mama bisa segera mencari bantuan pada ahlinya.

Menurut Yale Medicine, masalah tidur di antara anak-anak sering terjadi dan hingga 40% orangtua akan mencari bantuan untuk masalah tidur anak mereka.

Tips yang Bisa Dilakukan

Tips Bisa Dilakukan
Freepik/cookie_studio

Para ahli sepakat bahwa banyak masalah tidur umum yang dapat diatasi dengan menerapkan rutinitas kebersihan tidur yang sehat atau sleep hygiene routine.

Apa sih yang perlu dilakukan saat menerapkan sleep hygiene routine?

Berikut ini beberapa tips yang direkomendasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk Mama:

  • Buat rutinitas waktu tidur yang konsisten untuk si Kecil yang mencakup waktu tidur dan waktu bangun yang sama.
     
  • Ciptakan kamar yang nyaman untuk tidur dengan membuatnya tetap gelap, tenang, dan berada pada suhu yang nyaman.
     
  • Jauhkan semua layar dan gadget dari kamar tidur.
     
  • Hindari makan dalam porsi besar tepat sebelum tidur.
     
  • Jaga pola hidup sehat dengan aktif berolahraga di siang hari. Ini akan membuat anak tidur lebih cepat di malam hari.
     
  • Berikan si Kecil nyanyian lembut atau bacakan buku pengantar tidur untuknya.

Waspadai Kondisi Ini

Waspadai Kondisi Ini
Freepik/freepic.diller

Jika setelah melakukan sleep hygiene routine si Kecil masih memiliki masalah tidur, ada baiknya Mama melakukan konsultasi dengan dokter anak kepercayaan Mama.

Berikut ini gejala atau kondisi yang perlu Mama waspadai menurut Yale Medicine:

  • Si Kecil sulit tertidur
     
  • Sering terbangun di malam hari
     
  • Susah bangun pagi
     
  • Mendengkur keras
     
  • Hiperaktif
     
  • Mengantuk sepanjang siang

Jika hal-hal di atas dialami si Kecil, jangan ragu untuk membuat janji temu dengan dokter. Pertolongan yang tepat dapat membuat perubahan yang besar untuk si Kecil.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.