Komplikasi Transfusi Darah, Kaki Bayi 4 Bulan Ini Harus Diamputasi

Wah, si Bayi mengalami reaksi alergi darah. Kok bisa ya?

22 November 2018

Komplikasi Transfusi Darah, Kaki Bayi 4 Bulan Ini Harus Diamputasi
Facebook.com/Abdul Ghani

Seorang bayi berusia 4 bulan mengalami pembengkakan dan pembusukan kaki setelah mendapat transfusi darah. Peristiwa ini terjadi di Rumah Sakit Penang di Malaysia pada (12/11/2018). 

Anak dari Muhammad Zain Al Fateh Muhammad Faizal Amri masuk rumah sakit untuk operasi hernia. Operasi dilakukan sekitar pukul 15.00 dan segera selesai. Namun, setelah operasi, tekanan darah si Bayi mulai menurun dan harus menjalani transfusi darah melalui kaki kiri hingga sekitar pukul 19.00 malam di hari itu yang sama. 

Setelah melakukan transfusi darah, kaki kiri bayi itu mengalami pembengkakan dan mulai muncul gelembung dengan warna kegelapan. 

Dilansir dari New Straits Times Press, keluarga korban merasa prihatin dan frustasi karena para dokter dan perawat justru saling menyalahkan karena komplikasi yang terjadi akibat transfusi darah ini. Awalnya keluarga diberitahu bahwa kaki anaknya harus diamputasi untuk menghilangkan pembekuan darah agar kondisinya bisa stabil. 

Keluarga korban meminta keadilan atas kejadian ini. Mereka berencana untuk mengambil tindakan hukum terhadap rumah sakit karena kelalaian yang terjadi pada anaknya.

“Rumah sakit mengklaim bahwa insiden itu terjadi karena pergerakan bayi. Tapi kan anak saya masih belum sadar karena suntikan setelah operasi hernia. Jadi, ia tidak mungkin banyak bergerak,” kata orangtua korban. 

Awalnya, keluarga si Bayi malah mengkhawatirkan efek suntikan bius terhadap tumbuh kembang anaknya. Mereka tidak menduga masalah lain malah menghampiri. 

Sementara itu, pihak rumah sakit belum dapat memastikan secara pasti penyebab terjadinya pembengkakan dan munculnya gelembung gelap pada kaki kiri korban. 

Walau transfusi darah bisa memberikan banyak manfaat saat dibutuhkan, namun risiko yang diterima pun bisa berdampak buruk untuk kesehatan. Ada komplikasi atau risiko yang bisa terjadi saat melakukan transfusi darah, berikut rangkuman dari Popmama.com

1.  Terkena reaksi alergi 

1.  Terkena reaksi alergi 
romper.com

Dilansir dari Healthline, transfusi darah memang bisa menimbulkan reaksi alergi. Gejala yang muncul bisa termasuk rasa gatal-gatal. Atas saran dari dokter, reaksi ini sering diobati dengan antihistamin.

Reaksi alergi bisa terjadi terhadap darah yang diterima si Kecil, meskipun golongan darahnya sama. Bentuk reaksi alerginya bisa ringan atau berat.

Untuk gejala reaksi alergi yang ringan, si Kecil akan mengalami gatal atau ruam pada kulit. Namun untuk reaksi alergi yang berat, si Kecil akan merasa kesulitan bernapas, terasa nyeri di bagian dada hingga mengalami mual-mual. 

Gejala-gejala ini dapat mulai terjadi setelah transfusi darah dilakukan, setidaknya dalam durasi 24 jam. Reaksi alergi dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi bersama protein atau zat lain setelah melakukan transfusi darah. 

2. Mengalami demam

2. Mengalami demam
Pixabay/Ben_Kerckx

Demam bisa dirasakan si Kecil setelah melakukan transfusi darah, reaksinya bisa terjadi dengan cepat. Biasanya demam yang tidak dianggap sebagai pertanda serius karena umum terjadi. Ini jika masih terjadi dalam durasi 1 hingga 6 jam setelah transfusi. 

Namun, Mama perlu waspada jika suhu tubuh si Kecil sudah mulai panas. Perhatikan gejala demam disertai rasa mual yang terjadi padanya karena bisa jadi ini ada indikasi penyakit yang lebih serius. 

Terkadang dokter akan menghentikan transfusi darah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Baca juga: Ketahui Penyebab Bayi Demam dan Kapan Harus ke Dokter, Ma!

Editors' Picks

3. Transfusi darah berlebihan 

3. Transfusi darah berlebihan 
Freepik

Transfusi darah yang masuk ke dalam tubuh si Kecil terlalu banyak, sehingga kadarnya berlebihan. 

Transfusi darah yang terlalu banyak daripada kebutuhannya dalam menyebabkan sesak napas dan beberapa gejala lainnya. Gejala ini dapat terjadi dalam beberapa jam setelah melakukan transfusi darah. 

Gejala sesak napas yang dialami si Kecil menyebabkan kinerja jantung tidak bekerja dengan baik. Jantung tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh. 

Sesak napas pun bisa berdampak buruk untuk paru-paru karena dipenuhi oleh cairan. 

4. Kelebihan zat besi

4. Kelebihan zat besi
Freepik

Transfusi darah yang terjadi pada si Kecil dapat memicu dirinya kelebihan zat besi dalam darah. 

Dilansir dari Healthline, zat besi yang terlalu banyak di dalam tubuh juga bisa membahayakan kesehatan. Terlalu banyak zat besi akan memengaruhi organ tertentu, seperti hati. 

Kondisi hemokromatosis atau kelebihan zat besi terjadi pada orang yang terlalu banyak mendapatkan transfusi darah.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Zat Besi Sangat Penting Bagi Tumbuh Kembang Bayi

5. Penyebaran virus ke dalam tubuh

5. Penyebaran virus ke dalam tubuh
Pixabay/rsunset

Transfusi darah seharusnya memang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Darah perlu melewati pemeriksaan yang sangat hati-hati sebelum transfusi darah di mulai.

Walau telah melakukan pemerisaan, terkadang masih ada virus yang bisa masuk ke dalam tubuh. Infeksi yang kemungkinan bisa akibat virus termasuk HIV atau hepatitis. 

Semoga informasi mengenai risiko yang bisa didapatkan setelah melakukan transfusi darah berguna untuk Mama ya! 

Topic: