Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Perut Bayi Bunyi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pexels/freestocks.org
  • Bunyi perut bayi umumnya normal, berasal dari gerakan usus mencerna ASI atau MPASI serta udara terperangkap; dinding usus bayi yang tipis membuat suaranya lebih jelas.
  • Pemicu bunyi dapat meliputi lapar, udara tertelan saat menyusu, pola makan ibu menyusui, intoleransi laktosa, atau MPASI pemicu gas. Kembung, gumoh, dan rewel perlu dipantau.
  • Orangtua dapat menyendawakan bayi, memijat perut lembut, serta memperbaiki posisi menyusu atau dot. Segera periksa ke dokter bila disertai diare, BAB berdarah, demam tinggi, atau tak membaik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Bunyi gemericik atau “krucuk-krucuk” pada perut bayi umumnya terjadi akibat gerakan usus mencerna ASI atau MPASI serta udara yang terperangkap dalam saluran pencernaan.
  • Who?
    Bayi, terutama yang sedang menyusu atau mengonsumsi MPASI, dapat mengalami bunyi perut. Orang tua perlu memperhatikan bila bayi juga muntah, menolak menyusu, diare, BAB berdarah, atau demam tinggi.
  • Where?
    Bunyi berasal dari saluran pencernaan bayi, terutama usus dan rongga perut, saat makanan, cairan, serta udara bergerak selama proses pencernaan.
  • When?
    Bunyi dapat terdengar sebelum atau sesudah bayi menyusu, saat perut kosong, ketika udara tertelan selama menyusu, atau setelah mengonsumsi makanan yang memicu gas.
  • Why?
    Dinding usus bayi yang masih tipis membuat gerakan pencernaan lebih terdengar. Bunyi juga dapat dipicu lapar, udara tertelan, gas, intoleransi laktosa, atau beberapa menu MPASI.
  • How?
    Orang tua dapat menyendawakan bayi, memijat perut lembut, memperbaiki posisi menyusui atau dot, serta berkonsultasi ke dokter bila keluhan menetap atau disertai tanda bahaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perut bayi bisa bunyi krucuk-krucuk saat mencerna susu atau makanan. Kadang bayi lapar atau menelan udara waktu menyusu. Mama bisa bantu bayi bersendawa dan memijat perutnya pelan-pelan. Biasanya ini tidak apa-apa. Tapi kalau bayi demam, mencret, muntah, atau BAB berdarah, Mama harus membawa bayi ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika Mama menyusui, tiba-tiba terdengar bunyi "krucuk-krucuk" dari perut si Kecil. Mama pun spontan bertanya-tanya, kenapa perut bayi berbunyi seperti itu, ya? Apakah ini tanda ada yang tidak beres di dalam perutnya?

Tenang, Ma, bunyi-bunyian dari perut bayi sebenarnya adalah hal yang sangat umum terjadi, bahkan pada orang dewasa sekalipun. 

Daripada Mama semakin penasaran dengan kondisi si Kecil yang perutnya berbunyi, berikut Popmama.com mengulas tentang kenapa perut bayi berbunyi? Yuk, simak sampai habis!

Kenapa Perut Bayi Berbunyi?

Pexels/Jonathan Borba

Melansir The Asian Parent, bunyi di perut bayi sebenarnya muncul dari gerakan peristaltik usus saat mencerna makanan, sama seperti yang terjadi pada orang dewasa. 

Bedanya, dinding usus bayi masih jauh lebih tipis, sehingga apa pun yang masuk ke saluran pencernaannya, baik ASI maupun MPASI, cenderung menghasilkan bunyi yang lebih jelas terdengar.

Dilansir dari Vinmec Health, bunyi seperti gemericik atau gurgling ini juga bisa muncul karena ada udara yang terperangkap di lipatan-lipatan usus atau bagian lain dari sistem pencernaan bayi yang memang belum bekerja sempurna.

Kabar baiknya, hampir semua orang tua baru pasti pernah mendengar suara-suara aneh dari perut bayinya, dan pada kebanyakan kasus, ini adalah hal yang normal saja. Jadi, Mama tidak perlu langsung panik setiap kali mendengar perut si Kecil berbunyi.

Penyebab Perut Bayi Bunyi

Pexels/Tri Warno

Ada beberapa hal yang bisa membuat perut bayi mama jadi lebih sering berbunyi. Berikut beberapa di antaranya.

  1. Bayi sedang lapar.
    Menurut The Asian Parent, saat perut bayi kosong, ia akan berkontraksi dan melepaskan udara di sekitar rongga perut sehingga menimbulkan bunyi yang khas.

  2. Menelan udara saat menyusu.
    Baik saat menyusu langsung maupun menggunakan dot, udara bisa ikut tertelan apabila posisi menyusui atau bentuk dot kurang pas, seperti penjelasan dari The Asian Parent.

  3. Pola makan Mama saat menyusui.
    Mengutip Vinmec Health, makanan yang terlalu berminyak, pedas, atau tinggi protein yang Mama konsumsi bisa memengaruhi kualitas ASI dan membuat perut bayi mama jadi lebih sering berbunyi.

  4. Intoleransi laktosa atau menu MPASI pemicu gas.
    Menurut Vinmec Health, tubuh bayi yang belum bisa mencerna laktosa dengan baik, atau menu MPASI seperti kol dan produk olahan susu, dapat memicu gas berlebih di perutnya.

Tanda-Tanda Perut Bayi Bunyi

Pexels/Polina Smelova

Supaya Mama lebih mudah membedakan, kenali dulu tanda-tanda berikut ini.

  1. Bunyi ringan seperti gemericik, muncul setiap beberapa detik.
    Dilansir dari The Asian Parent, ini biasa terdengar sebelum dan sesudah bayi menyusu, dan termasuk kondisi yang wajar.

  2. Perut terasa kembung atau agak keras saat disentuh.
    Menurut Northwest Family Clinics, tanda ini biasanya juga diikuti oleh bayi yang menekuk lututnya ke dada atau lebih sering buang angin.

  3. Sering gumoh, muntah, atau menangis terutama di malam hari dan menolak menyusu.
    Mengutip Vinmec Health, kombinasi tanda ini perlu diperhatikan lebih saksama, meski umumnya masih dapat membaik dalam hitungan hari.

  4. Disertai diare, BAB berdarah, atau demam tinggi.
    Menurut Vinmec Health, Mama disarankan untuk segera memeriksakan si Kecil ke dokter apabila tanda-tanda ini muncul bersamaan.

Apa yang Harus Orangtua Lakukan saat Perut Bayi Berbunyi?

Pexels/Sarah Chai

Kalau bunyi di perut si Kecil mulai terasa mengganggu, Mama bisa coba beberapa langkah berikut.

  1. Sendawakan bayi setelah menyusu.
    Gendong dalam posisi tegak dengan dagu bersandar di bahu Mama, lalu tepuk lembut punggungnya, seperti dikutip dari The Asian Parent.

  2. Pijat lembut perut bayi.
    Menurut The Asian Parent, gunakan sedikit minyak telon dan usap perutnya dengan gerakan melingkar untuk membantu melepaskan udara yang terperangkap.

  3. Perbaiki posisi menyusui atau cek bentuk dot.
    Dilansir dari Vinmec Health, pastikan seluruh mulut bayi menempel sempurna pada payudara, atau ganti dot dengan ukuran yang lebih sesuai bila menggunakan botol.

  4. Konsultasikan ke dokter bila tidak kunjung membaik.
    Jika langkah-langkah di atas sudah dicoba, tapi kondisi tak berubah, menurut Vinmec Health, Mama disarankan untuk membawa si Kecil ke dokter spesialis anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Cara Mencegah Perut Bayi Berbunyi

Pexels/Anna Shvets

Selain mengatasi, ada juga beberapa langkah yang bisa Mama lakukan supaya perut bayi mama tidak terlalu sering berbunyi.

  1. Jaga pola makan seimbang selama menyusui.
    Menurut Vinmec Health, Mama sebaiknya memilih makanan rendah lemak, tidak pedas, serta memperbanyak sayur dan buah agar kualitas ASI tetap terjaga.

  2. Pastikan teknik menyusui sudah tepat.
    Melansir The Asian Parent, posisi kepala bayi yang lebih tinggi dari perutnya saat menyusu bisa membantu mengurangi udara yang tertelan.

  3. Siapkan susu formula dengan benar bila diperlukan.
    Dilansir dari Vinmec Health, seduh susu formula 5-10 menit sebelum diberikan, jaga botol tetap tegak, dan aduk perlahan supaya tidak banyak gelembung udara yang terbentuk.

  4. Hindari makanan pemicu gas saat memberikan MPASI.
    Mengutip The Asian Parent, beberapa contohnya adalah kol, kembang kol, dan produk olahan susu yang sebaiknya diberikan secukupnya saja.

Jadi, Ma, perut bayi yang berbunyi sebenarnya bukan hal yang perlu langsung membuat panik. Selama si Kecil masih terlihat nyaman, menyusu dengan lahap, dan tumbuh kembangnya berjalan normal, bunyi-bunyian ini hanyalah bagian dari proses pencernaannya.

Nah, itulah pembahasan mengenai kenapa perut bayi bunyi? Mulai sekarang, Mama dapat mengetahui kondisi yang sedang dialami si Kecil. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article