- Mata bayi konsisten tidak sejajar. Jika selama 4–6 bulan mati si Kecil masih tetap tidak sejajar, Mama perlu waspada akan gejala strabismus permanen.
- Reaksi visual terlihat tak seimbang. Misalnya, bayi hanya mengikuti pergerakan benda dengan satu mata saja atau tampak seperti kutang fokus.
- Bayi sering memiringkan kepala. Saat mencoba melihat sesuatu, bayi memiringkan kepalanya, dan hal ini merupakan cara alami tubuh untuk menyesuaikan penglihatan agar terlihat lebih jelas.
- Respons kedua mata terhadap cahaya tampak berbeda. Terlihat bercak putih maupun pantulan cahaya yang tidak biasa pada pupil mata bayi (leukokoria).
- Terdapat riwayat kelainan mata pada keluarga. Adanya riwayat mata juling pada anggota keluarga bisa meningkatkan risiko untuk bayi mengalami hal yang serupa.
11 Kondisi pada Bayi yang Sering Dikira Berbahaya, padahal Normal

- Artikel menjelaskan sebelas kondisi umum pada bayi baru lahir yang sering disalahartikan berbahaya, padahal merupakan bagian dari proses adaptasi dan perkembangan alami tubuh bayi.
- Beberapa kondisi seperti refleks moro, mata juling sementara, cegukan, kulit mengelupas, hingga napas tidak teratur dijelaskan sebagai hal normal selama tidak disertai gejala serius.
- Orangtua diimbau tetap waspada dan berkonsultasi ke dokter bila gejala berlangsung lama atau muncul tanda tidak wajar agar kesehatan bayi dapat dipantau dengan tepat.
Menjadi orangtua baru memang penuh berbagai lika-liku. Di awal kehadiran anak, selain rasa bahagia yang membuncah, Mama dan Papa juga akan dihadapkan pada rasa khawatir mengenai kondisi si Kecil. Hal-hal kecil hingga besar yang terasa tak wajar pasti akan membuat cemas.
Di awal kehidupannya, ada beberapa kondisi bayi yang terlihat “aneh” dan bisa membuat Mama waswas. Beberapa hal itu merupakan kondisi normal yang terjadi pada bayi yang baru lahir dan merupakan bagian dari proses adaptasi serta tumbuh kembang alami.
Lantas, apa saja kondisi pada bayi yang sering dikira berbahaya padahal normal? Simak informasinya yang Popmama.com rangkum di bawah ini.
1. Gerakan secara tiba-tiba (Refleks Moro)

Kondisi ini merupakan respons motorik spontan pada bayi yang baru lahir saat terkejut oleh suara keras, perubahan posisi, ataupun sentuhan yang tiba-tiba. Pada kondisi ini, umumnya bayi akan merentangkan kedua tangan dan kakinya, membuka lebar jari-jarinya, lalu menariknya kembali ke arah dada, dan sering kali diikuti oleh tangisan.
Tapi Mama tak perlu khawatir, karena adanya refleks Moro merupakan ciri bahwa sistem saraf pusat si Kecil berkembang dengan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Refleks Moro dipicu oleh organ keseimbangan di telinga bagian dalam (vestibular). Saat kepala bayi berubah posisi secara mendadak terhadap tubuhnya, otak menerima sinyal “bahaya” dan memicu gerakan refleks ini sebagai upaya untuk “meraih” pegangan agar tidak terjatuh.
Refleks ini bersifat sementara dan akan menghilang secara bertahap seiring berkembangnya sistem saraf dan menguatnya otot lahir bayi. Puncak sensitivitas refleks ini biasanya terjadi pada bulan pertama dan kedua kelahiran. Memasuki usia 3—4 bulan, refleks ini mulai berkurang dan akan hilang permanen pada usia 6 bulan.
Nah, Mama perlu perhatikan lebih jika refleks ini tidak muncul atau hanya muncul pada satu sisi tubuh (asimetris) si Kecil. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan karena hal tersebut bisa menjadi petunjuk adanya gangguan pada sistem saraf, cedera pada saraf area bahu (pleksus brakialis), atau patah tulang selangka akibat proses persalinan.
Lalu jika Mama merasa gerakan kaget si Kecil tak wajar atau disertai dengan gejala lain seperti demam atau lemas, jangan ragu untuk berkonsultasi pada dokter agar mendapatkan saran dan tindakan yang tepat.
2. Mata yang terlihat juling

Mata juling atau strabismus merupakan kondisi kedua mata yang tidak sejajar dan melihat ke arah yang berbeda secara bersamaan. Salah satu mata mungkin fokus ke depan, sementara mata lainnya bisa mengarah ke dalam (esotropia), ke luar (eksotropia), ke atas (hipertropia), atau ke bawah (hipotropia).
Kondisi ini merupakan hal yang normal dan bisa terjadi karena pada awal kehidupan bayi, sistem saraf serta otot yang mengontrol gerakan mata memang belum berkembang sempurna. Bayi masih belajar menyesuaikan kedua bola matanya, sehingga mata sering tak selaras hingga tampak bergulir ke arah yang berbeda.
Seiring pertumbuhan otot mata di usia 3–6 bulan, kondisi ini biasanya akan berangsur membaik. Meski normal, kondisi ini juga menjadi perhatian serius bagi orangtua apabila memiliki tanda-tanda seperti:
Meski normal dan bersifat sementara, tapi mata juling pada bayi sebaiknya tetap harus dikonsultasikan ke dokter. Jangan menunda-nunda waktu pemeriksaan agar tidak memperparah risiko pada si Kecil.
3. Sering cegukan

Cegukan merupakan kondisi ketika bayi terlalu banyak dan terlalu cepat saat minum susu. Kondisi itu menimbulkan kontraksi otot diafragma yang menyebabkan pita suara menutup tiba-tiba, sehingga menimbulkan suara cegukan.
Kondisi ini umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir hingga usia satu tahun. Menariknya, ternyata cegukan sudah bisa dialami oleh bayi sejak dalam kandungan. Pemeriksaan USG juga menunjukkan bahwa cegukan bisa muncul sejak usia kehamilan 9–10 minggu.
4. Kulit mengelupas

Pengelupasan kulit pada bayi yang baru lahir terjadi akibat menghilangnya lapisan terluar kulit atau vernix caseosa. Vernix caseosa merupakan lapisan tebal yang melindungi bayi selama di dalam kandungan.
Kondisi init tergolong normal karena ini merupakan proses adaptasi kulit bayi terhadap lingkungan di luar rahim. Lapisan vernix caseosa akan lepas dengan sendirinya dengan perlahan, dan hal inilah yang membuat kulit bayi terkelupas di minggu-minggu awal setelah kelahirannya, terutama di bagian tangan dan kaki.
Meski normal, perlu diingat bahwa selain karena proses di atas, kulit mengelupas pada bayi juga bisa disebabkan beberapa kondisi lain seperti iritasi, dehidrasi, eksim, infeksi, dan kondisi medis lainnya.
Oleh karena itu, jika kulit bayi mengelupas sampai lebih dari beberapa minggu, disertai dengan kulit kemerahan yang intens, serta rasa sakit hingga bayi tampak gelisah, rewel, dan menangis, maka segera periksakan kondisi bayi ke tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.
5. Bersin terus menerus

Bersin tidak selalu tanda bahwa bayi terkena penyakit. Pada bayi yang baru lahir, sering bersin dapat disebabkan karena merupakan refleks alami tubuh untuk membersihkan saluran hidung yang masih sempit dan sangat sensitif. Hal ini merupakan bagian dari perkembangan dan adaptasi bayi terhadap lingkungan.
Refleks normal ini berfungsi untuk “membuka” jalur napas dari debu, sisa-sisa cairan ketuban, lendir, atau partikel asing lainnya pada hidung bayi. Selain itu, udara yang kering, alergi, dan suhu dingin juga bisa menyebabkan bersin terus menerus pada bayi.
Lalu, jika Mama melihat si Kecil bersin terus menerus yang disertai dengan demam tinggi, batuk pilek parah, terlihat lemas, tidak mau menyusu, sulit bernapas, dan rewel, maka segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan optimal.
6. Napas tidak teratur

Pola pernapasan bayi yang tidak teratur atau periodic breathing merupakan pola pernapasan normal pada bayi yang baru lahir. Kondisi ini terjadi ketika bayi bernapas dengan sangat cepat selama beberapa detik, lalu bernapas dengan lebih lambat, atau bahkan berhenti sejenak selama kurang dari 10 detik, sebelum kembali bernapas normal.
Periodic breathing disebabkan oleh sistem saraf dan pusat pernafasan bayi yang belum sempurna. Otak bayi masih belajar untuk mengatur ritme napas secara konsisten. Kondisi ini sering terjadi saat bayi sedang tertidur.
Lalu, pernapasan normal pada bayi umumnya adalah 30–60 kali per menit. Frekuensinya bisa sedikit melambat saat bayi tertidur pulas, yaitu menjadi sekitar 30–40 kali per menit.
Pernapasan normal pada bayi juga didominasi oleh gerakan perut yang naik turun, suara napasnya halus dan tenang, tak ada ciri-ciri tarikan dinding dada atau tulang iga yang dalam (retraksi), serta tak terdengar suara mengi atau mendengus.
Tapi, Mama harus waspada dan segera membawa ke dokter jika si Kecil mengalami:
- Napas lebih dari 60 kali per menit.
- Tarikan dada atau tulang iga yang dalam (retraksi).
- Bibir atau kulit membitu.
- Hidung kembang kempis.
- Napas yang berbunyi.
- Lemas, tak mau menyusu, rewel terus menerus.
- Demam tinggi.
7. Kerak pada kepala bayi (cradle cap)

Dikenal juga sebagai dermatitis seboroik, yaitu bentuk peradangan kulit ringan pada bayi yang baru lahir dan balita. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tidak menular, dan bukan disebabkan oleh kebersihan yang kurang terjaga.
Kondisi ini ditandai dengan adanya sisik atau kerak tebal yang menempel pada kulit kepala bayi. Kerak ini bisa tampak seperti ketombe yang sangat tebal namun memiliki tekstur yang cenderung berminyak saat disentuh.
Umumnya, kerak memiliki warna yang bervariasi, mulai dari putih, kuning, hingga kecoklatan tergantung pada tingkat keparahannya. Kulit yang berada di sekitar area kerak ini mungkin akan tampak kemerahan.
Tapi, kondisi ini biasanya tak menimbulkan rasa gatal pada bayi. Kerak serupa juga bisa muncul di area yang banyak mengandung kelenjar minyak seperti belakang telinga, alis, kelopak mata, sekitar hidung, lipatan kulit leher, selangkangan, area popok, dan ketiak.
8. Mongolian spot

Mongolian spot atau yang sering disebut bercak Mongol atau tompel adalah tanda lahir berwarna biru atau abu-abu kebiruan yang muncul di kulit bayi yang baru lahir. Bercak ini biasanya terletak di daerah bokong, bawah punggung, atau pinggang bayi.
Belum diketahui apa penyebab utama dari kondisi ini. Tapi secara medis, Mongolian spot terjadi akibat adanya akumulasi melanosit (sel pigmen kulit) di lapisan dermis (lapisan tengah kulit).
Kondisi yang memiliki nama unik ini umumnya tak disertai dengan tekstur apapun pada kulit, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak gatal, dan tidak berbahaya bagi si Kecil. Mongolian spot biasanya muncul pada bayi yang sehat dan tidak berhubungan dengan gejala medis lainnya.
Tetapi, Mama disarankan untuk membawa si Kecil ke dokter jika bercak yang ada pada tubuhnya memiliki ciri-ciri seperti berikut:
- Muncul di lokasi yang tidak biasa seperti area wajah atau mulut.
- Berukuran sangat besar atau mencakup area tubuh yang luas.
- Muncul dengan gejala lain seperti benjolan.
- Warna bercak yang berubah menjadi lebih gelap atau bentuknya yang berubah.
9. Jerawat

Tak hanya rema atau orang dewasa, bayi yang baru lahir juga bisa mengalami jerawat pada wajah dan tubuhnya. Jerawat pada bayi baru lahir (neonatal acne) umumnya muncul ketika bayi berusia 4–6 minggu atau beberapa hari setelah lahir.
Kondisi ini ditandai dengan munculnya benjolan kecil berwarna merah atau putih di area wajah bayi, terutama pipi, dahi, dan dagu. Jerawat biasanya akan bertahan selama beberapa hari hingga beberapa bulan.
Belum ada penyebab pasti tentang kondisi ini, tetapi beberapa faktor resiko seperti kulit bayi yang masih sensitif, bakteri yang tumbuh di kulit, hingga pengaruh hormon ibu yang diterima bayi selama berada di dalam kandungan juga bisa menyebabkan munculnya jerawat.
10. Kaki berbentuk O

Bentuk kaki bayi yang baru lahir bisa saja terlihat menyerupai huruf O pada kedua tungkainya. Kaki bayi berbentuk O (genu varum) adalah kondisi umum yang sering membuat orangtua khawatir.
Kondisi ini merupakan bagian dari proses perkembangan alami tulang kaki bayi setelah lahir ke dunia. Karena selama di rahim ibu, bayi terbiasa dengan posisi meringkuk yang membuat kedua tungkai melengkung seperti huruf O secara alami.
Namun, Mama tak perlu khawatir, kondisi ini umumnya akan membaik seiring pertumbuhan serta aktivitas motorik si Kecil, terutama saat ia mulai berdiri dan berjalan. Namun, jika kondisi ini tidak membaik hingga 2 tahun, Mama perlu waspada dan segera membawa si Kecil ke tenaga medis untuk pemeriksaan lebih lanjut.
11. Ruam atau bintik merah pada kulit

Pada kulit bayi yang baru lahir terkadang muncul ruam atau binti-bintik merah. Kondisi ini disebut erythema toxicum neonatorum (ETN), yaitu ruam kulit jinak dan bersifat sementara yang sangat umum terjadi pada bayi baru lahir.
Kondisi ini bisa memengaruhi 40-70% bayi baru lahir sehat, dan biasanya muncul dalam 24-72 jam pertama kehidupan. ETN ini bisa sembuh dengan sendirinya dalam 1–2 minggu.
Ruam ditandai dengan munculnya bercak merah (makula), yang terkadang disertai dengan benjolan putih atau kekuningan di bagian tengahnya (pustula). Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tidak menular, dan tidak menimbulkan rasa sakit.
ETN sering kali muncul pada bagian wajah, dada, pungggung, lengan, dan kaki bayi. Tapi, ETN tidak pernah muncul di telapak tangan maupun telapak kaki. Kondisi ini bisa muncul dan menghilang dalam waktu singkat, bahkan terkadang terlihat berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti ETN belum diketahui. Tapi, banyak ahli menduga kalau kondisi ini berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh bayi yang baru lahir masih menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar rahim.
Reaksi ini merupakan bagian normal dari proses perkembangan tubuh bayi dan bukan disebabkan oleh infeksi atau alergi makanan. Tapi, jika kondisi ini tak membaik setelah 2 minggu dan disertai dengan gejala lain, Mama sebaiknya segera memeriksakan kondisi si Kecil kepada dokter.





















