5 Perbedaan Push Walker dan Baby Walker, Mana Lebih Aman?

Push walker dan baby walker memiliki cara penggunaan dan fungsi yang berbeda, tetapi push walker lebih mendukung proses belajar berjalan secara alami.
Baby walker memiliki risiko kecelakaan yang lebih tinggi, seperti jatuh dari tangga, luka bakar, hingga tenggelam.
Push walker lebih direkomendasikan, tetapi tetap harus digunakan sesuai tahap perkembangan bayi dan di bawah pengawasan orang tua.
Melihat si Kecil belajar berdiri dan berjalan adalah momen bahagia untuk orangtua. Tidak heran kalau banyak yang mencari alat bantu jalan agar prosesnya semakin lancar, dan dua nama yang sering digunakan adalah push walker dan baby walker.
Sekilas, keduanya kelihatan mirip. Sama-sama beroda dan sama-sama diklaim dapat membantu bayi berjalan lebih cepat. Padahal, dari cara pakai sampai risikonya, push walker dan baby walker itu berbeda jauh, dan salah pilih bisa berdampak pada keamanan bayi.
Supaya Mama tidak salah pilih untuk menunjang si Kecil berlatih berjalan, berikut Popmama.com mengulas 5 perbedaan push walker dan baby walker. Yuk, simak sampai habis!
1. Cara penggunaan

Pexels/Craig Adderley Baby walker berbentuk hampir seperti lingkaran, dengan kursi kain yang digantung di tengah rangka plastik keras dan roda di bagian bawah. Bayi didudukkan di kursi itu dengan kaki menggantung menyentuh lantai, lalu bergerak mendorong tubuhnya sendiri dengan ujung jari kaki.
Push walker justru sebaliknya. Alat ini tidak memiliki kursi sama sekali. Bayi berdiri tegak di belakangnya sambil berpegangan pada gagang, lalu mendorong alat itu ke depan seiring langkah kakinya sendiri.
Mengutip Sirap Limau, push walker baru cocok dipakai kalau bayi sudah mulai belajar berdiri dan menyeimbangkan badan saat melangkah. Posisi berdiri tegak ini membuat kaki bayi dapat beristirahat dengan baik di lantai setiap kali ia berjalan.
Karena cara pakainya berbeda, waktu ideal untuk mulai menggunakannya pun berbeda. Melansir Kid Pop, push walker umumnya baru direkomendasikan saat bayi sudah bisa menarik tubuhnya sendiri untuk berdiri dan menahan beban di kakinya, biasanya sekitar usia 9-12 bulan.
2. Fungsi

Pexels/Craig Adderley Meski sama-sama disebut alat bantu jalan, fungsi keduanya sebenarnya berbeda. Baby walker berfungsi sebagai tempat duduk beroda yang membuat bayi dapat berpindah tempat tanpa perlu berdiri sendiri.
Push walker punya fungsi yang jauh berbeda, yaitu bukan untuk menahan tubuh bayi, melainkan untuk memberi pegangan supaya bayi berani berlatih menopang berat badannya sendiri sambil melangkah.
Fungsi inilah yang membuatnya lebih dekat dengan proses belajar jalan yang sesungguhnya, sehingga si Kecil dapat melatih kakinya untuk berdiri tegak dan berjalan.
Menurut Wonder Baby, sebagian besar baby walker dan push toy memang dirancang untuk bayi usia 6-24 bulan yang sedang penasaran dan ingin mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
Bedanya, fungsi push walker ini lebih ke arah melatih, bukan untuk memfasilitasi jalan pintas. Itu sebabnya alat ini kerap dianggap lebih sejalan dengan tahap perkembangan alami bayi menuju berjalan mandiri.
3. Manfaat

Pexels/ROYAL PIXEL Dari sisi manfaat, push walker jauh lebih banyak disebut membantu tumbuh kembang. Mengutip Barnshenn, alat ini dapat mendorong bayi belajar bergerak dengan percaya diri, sekaligus memperkuat otot kaki dan melatih koordinasi serta keseimbangan.
Melansir Kid Pop, saat bayi berpegangan pada push walker, ia harus menarik tubuhnya sendiri untuk berdiri, gerakan yang melatih kekuatan lengan, kaki, dan otot inti sekaligus.
Push walker juga mendorong pola jalan tumit ke ujung kaki yang alami, mirip pola jalan orang dewasa nantinya. Sehingga bayi dapat berdiri seperti orang pada umumnya.
Dorongan kecil yang dilakukan bayi saat menggerakkan push walker turut melatih motorik halus di tangan dan pergelangan tangan, sekaligus motorik kasar di lengan dan kaki. Semakin sering bayi memakainya, semakin kuat dan percaya diri pula langkahnya.
Sementara itu, baby walker justru memiliki manfaat yang jauh lebih terbatas. Alat ini belum terbukti membantu bayi berjalan lebih cepat, bahkan beberapa penelitian justru menunjukkan hasil sebaliknya.
4. Risiko

Pexels/Eman Genatilan Ini bagian yang paling penting untuk Mama perhatikan. Melansir Healthy Children dari American Academy of Pediatrics (AAP), baby walker berisiko membuat bayi terguling dari tangga, penyebab utama patah tulang dan cedera kepala serius pada bayi penggunanya.
Risiko lainnya adalah luka bakar, karena bayi bisa menjangkau benda lebih tinggi seperti taplak meja berisi kopi panas atau gagang panci di kompor. Bayi dalam baby walker bahkan berisiko tenggelam kalau sampai terjatuh ke kolam atau bak mandi.
Mengutip Kid Pop, bayi dalam baby walker bisa bergerak lebih dari 90 sentimeter per detik, jauh lebih cepat daripada waktu reaksi orang tua untuk mencegah kecelakaan.
Push walker memang tidak sepenuhnya bebas risiko, tetapi jauh lebih aman. Karena bayi tidak terikat pada alat ini, ia cukup melepaskan pegangan dan jatuh terduduk ke lantai kalau kehilangan keseimbangan, bukan terguling dalam rangka berat seperti baby walker.
5. Rekomendasi medis

Pexels/Golden Ratio Captures Dari sisi medis, rekomendasinya cukup tegas. Melansir Healthy Children, AAP secara resmi menyerukan larangan produksi dan penjualan baby walker beroda karena dianggap tidak punya manfaat sama sekali dan justru berbahaya.
Melansir Wonder Baby, dikutip dari studi tahun 2017 yang menemukan bahwa bayi pengguna walker dan alat bantu serupa cenderung mencapai tonggak perkembangan seperti berdiri dan berjalan lebih lambat dibandingkan dengan bayi yang tidak memakainya.
Kalau tetap ingin memakai alat bantu jalan, push walker menjadi pilihan yang lebih disarankan oleh tenaga medis dibandingkan dengan baby walker beroda. Meski begitu, sumber yang sama tetap mengingatkan bahwa pengawasan orang tua tidak boleh lengah sedetik pun.
Jadi, kalau harus memilih di antara push walker dan baby walker, jawabannya cukup jelas. Push walker menawarkan cara belajar jalan yang lebih alami dan minim risiko, sementara baby walker lebih banyak menyimpan bahaya ketimbang manfaat.
Meski begitu, tidak ada alat yang bisa menggantikan pengawasan langsung dari Mama. Apa pun pilihannya, pastikan area bermain bebas dari tangga, benda tajam, dan barang berbahaya lain, supaya si Kecil bisa belajar melangkah dengan aman.
Nah, itulah pembahasan mengenai 5 perbedaan push walker dan baby walker untuk membantu bayi mama belajar berjalan. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!
-gI9trHqsb9KOUZeHyVNskHgluncHT5Q5.jpg)





















