Dot Orthodontic Berikan Rasa Aman Menyusu Tidak Langsung pada Bayi

Masalah yang timbul akibat penggunaan dot bisa dicegah dengan memanfaatkan dot orthodontic

1 Juni 2021

Dot Orthodontic Berikan Rasa Aman Menyusu Tidak Langsung Bayi
Freepik

Tahukah Mama, memberikan ASI secara langsung ternyata dapat membantu menstimulasi aktivitas otot-otot sekitar mulut dan lidah bayi yang akan memengaruhi sistem pencernaan dan pernapasan pada bayi.

Meski pemberian ASI secara langsung adalah pilihan terbaik, namun nyatanya tidak semua mama dapat menyusui si Kecil secara langsung karena alasan bekerja dan sebagainya.

Ketika tak bisa memberikan ASI secara langsung, penggunaan botol hingga kini masih menjadi salah satu solusi yang dipilih banyak mama untuk masalah tersebut. 

Ditemui dalam konferensi pers virtual bersama Baby HUKI pada Jumat (28/05), DR. drg. Eriska Riyanti, Sp. KGA (K), Dokter Gigi Anak dari Fakultas Kedokteran Gigi Unversitas Padjadjaran, mengungkapkan bahwa mekanisme mengisap bayi yang menyusu langsung dari Mama dan bayi yang menggunakan botol susu berbeda.

“Si Kecil yang minum susu menggunakan alat bantu sering kali terjadi risiko seperti tersedak, kembung hingga terjadinya maloklusi (gangguan pertumbuhan gigi dan rahang yang terjadi pada anak), hal ini karena bentuk dot yang tidak tepat, posisi bayi menyusu, kesiapan bayi menerima aliran susu, dan intensitas mengisap dot," jelasnya.

Guna mencegah permasalahan tersebut, penggunaan botol dengan dot orthodontic dapat menjadi solusi terbaik dan aman untuk diberikan kepada bayi, Ma.

Untuk mengetahui informasi selengkapnya, berikut Popmama.com telah merangkumnya sebagai berikut.

Editors' Picks

1. Menghindari risiko penggunaan dot

1. Menghindari risiko penggunaan dot
Pixabay/sofilayla

Penggunaan dot saat ini masih menjadi pilihan bagi para Mama yang tak bisa memberikan ASI secara langsung pada bayinya. Namun nyatanya, tak semua dot aman digunakan untuk bayi, Ma.

Puting buatan atau dot umumnya lebih kaku dan kurang fleksibel dibandingkan dengan puting payudara mama, sehingga sulit untuk membuat tekanan terhadap atap rongga mulut bayi.

Volume dari aliran susu ditentukan terutama oleh tekstur dari dot, ukuran, dan jumlah lubang pada ujung dot. Selain itu susu akan mengalir secara terus menerus dan bayi akan kurang memiliki kontrol aliran susu, yang seringkali membuat si Kecil tersedak.

Dalam paparannya, drg. Eriska menjelaskan, “Dot yang didesain secara fisiologis akan memfasilitasi pergerakan lidah ke depan dan ke atas pada daerah permukaan datar dot. Aliran air susu tidak akan otomatis mengalir ke tenggorokan, bila tidak terjadi gerakan mengisap karena adanya aktivitas otot-otot lidah, pipi, dan bibir. Mekanisme tersebut tidak akan membuat si Kecil tersedak."

2. Dot orthodontic menunjang pertumbuhan mulut anak

2. Dot orthodontic menunjang pertumbuhan mulut anak
Pexels/Burst

Dot orthodontic yang memiliki bentuk pipih dan posisi lubang di tengah permukaan membuat aliran susu tidak menembak langsung ke tenggorokan, dan air tidak keluar saat tidak diisap, sehingga si Kecil bebas dari tersedak, anti kolik dan meminimalkan risiko bingung puting.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Departemen Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada tahun 2020 mengungkapkan, risiko atau masalah yang kerap timbul dari penggunaan dot, baik jangka pendek maupun jangka panjang dapat dicegah dengan dot yang dikembangkan sesuai prinsip fisiologis yang mendukung ritmik isap yaitu dot orthodontic.

"Dot yang didesain secara fisiologis memperlihatkan adaptasi yang baik terhadap organ-organ dan mekanisme fisiologi mengisap untuk tumbuh kembang mulut anak,” ungkap drg. Eriska yang juga sebagai Ketua Peneliti.

3. Penggunaan dot orthodontic mengurangi maloklusi

3. Penggunaan dot orthodontic mengurangi maloklusi
Pixabay/tung256

drg. Eriska menyebutkan, "Anak yang tidak mendapat ASI atau tidak menyusu langsung dari ibunya cenderung mengalami tingkat keparahan maloklusi lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapat ASI atau menyusu langsung."

Dalam paparannya, drg. Eriska juga menjelaskan manfaat penggunaan dot orthodontic di antaranya adalah untuk mengurangi maloklusi atau dikenal dengan “kelainan gigitan”.

Maloklusi adalah gangguan pertumbuhan gigi dan rahang yang terjadi pada anak. Kondisi ini sering ditemukan pada gigi geligi anak, baik pada periode gigi susu/sulung, periode gigi bercampur, maupun pada periode gigi permanen.

Maloklusi sendiri juga dapat dipengaruhi oleh fase menyusu, yang umumnya dimulai dari bayi baru lahir hingga berusia dua tahun. Sebab menyusu memungkinkan rahang bayi yang masih dalam proses perkembangan terbentuk menjadi lebih baik.

Dengan desain fisiologis yang ada pada dot orthodontic, nantinya akan membantu pergerakan lidah si Kecil pada permukaan datar dot dan membuat air susu tidak mudah mengalir ke tenggorokan jika ia tidak mengisap karena adanya aktivitas otot-otot lidah, pipi, dan bibir.

Sehingga penggunaan dot orthodontic dapat membuat si Kecil minum susu dengan lebih nyaman dan tidak mudah tersedak maupun mengalami risiko penggunaan dot lainnya.

Itulah informasi terkait penggunaan dot orthodontic yang terbukti aman bagi bayi dalam menyusu, serta baik untuk pertumbuhan kompleks orofacial (sekitar wajah, rahang dan mulut).

Semoga informasi ini bermanfaat bagi Mama yang tidak dapat menyusui secara langsung, ya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.