"Vaksinasi adalah benteng pertahanan terkuat yang bisa kita berikan kepada anak. Langkah paling krusial sebelum mudik adalah memastikan imunisasi anak lengkap, terutama vaksin MR/MMR. Vaksinasi dua dosis terbukti paling efektif mencegah penularan campak yang sangat mudah menyebar," ujarnya.
Panduan Mudik Sehat dan Aman Bersama Anak dari IDAI

Mudik bersama anak selalu menjadi momen spesial yang dinantikan banyak keluarga saat libur Lebaran tiba. Selain menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman, perjalanan ini juga menjadi kesempatan menghadirkan pengalaman liburan yang menyenangkan bersama si Kecil.
Meski terasa menyenangkan, perjalanan jarak jauh bersama anak tetap membutuhkan perhatian ekstra. Untuk membantu orangtua, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan panduan mudik sehat bersama anak agar perjalanan tetap aman dan kesehatan si Kecil terjaga.
Berikut Popmama.com telah rangkum mengenai panduan mudik sehat dan aman bersama anak dari IDAI.
1. Pastikan anak telah mendapatkan imunisasi lengkap

IDAI mengingatkan bahwa perjalanan jarak jauh dapat meningkatkan risiko anak terpapar berbagai penyakit menular, seperti campak, batuk, hingga pilek. Kondisi mobilitas yang tinggi serta interaksi dengan banyak orang selama mudik membuat anak lebih rentan tertular penyakit.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan pentingnya memastikan status imunisasi anak sebelum berangkat. Ia menjelaskan bahwa vaksinasi menjadi perlindungan utama dari penyakit menular, terlebih di tengah meningkatnya kembali kasus campak di sejumlah wilayah.
2. Gunakan car seat sesuai usia anak

IDAI menegaskan bahwa penggunaan car seat menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan anak selama perjalanan darat menggunakan mobil. Peralatan ini perlu disesuaikan dengan usia dan berat badan anak agar mampu memberikan perlindungan maksimal apabila terjadi benturan atau kecelakaan.
Bayi baru lahir hingga usia 2 tahun diwajibkan menggunakan rear-facing car seat yang dipasang menghadap ke belakang dan diletakkan di kursi belakang mobil. Posisi ini dianggap paling aman karena mampu menopang serta melindungi kepala, leher, dan tulang belakang bayi saat terjadi benturan.
Sementara itu, anak usia 2 hingga 5 tahun disarankan menggunakan forward-facing car seat, kemudian beralih ke booster seat hingga sabuk pengaman mobil dapat terpasang dengan benar, yakni sabuk pangkuan berada di paha atas dan sabuk bahu melintang di antara bahu dan dada.
IDAI juga menganjurkan anak di bawah usia 12 tahun tetap duduk di kursi belakang demi perlindungan yang lebih optimal selama perjalanan. Selain itu, orangtua tidak dianjurkan memangku anak selama perjalanan, terutama saat kendaraan sedang berlaju atau dikemudikan.
3. Pilih destinasi wisata yang aman

Selain imunisasi lengkap, orangtua juga perlu cermat dalam menentukan destinasi wisata selama mudik agar tetap ramah dan aman bagi anak. Pemilihan lokasi yang tepat dapat membantu mengurangi risiko kelelahan maupun paparan cuaca yang kurang bersahabat.
Dr. Piprim menyarankan orangtua untuk memilih destinasi wisata dalam ruangan (indoor), seperti museum, pusat sains, atau perpustakaan anak guna menghindari paparan hujan serta keramaian berlebih.
“Pilihlah destinasi di dalam ruangan (indoor) seperti museum, pusat sains/edukasi interaktif, perpustakaan anak, atau taman bermain dalam ruangan. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman seru sekaligus melindungi anak dari hujan dan keramaian yang berlebihan. Hindari lokasi yang rawan banjir, longsor, atau memiliki akses jalan licin,” ujar Dr. Piprim.
4. Menerapkan protokol kesehatan selama mudik

Orangtua juga perlu menerapkan protokol kesehatan selama mudik. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Hindari keramaian
Orangtua disarankan membatasi aktivitas anak di lokasi yang terlalu padat selama perjalanan mudik. Anak juga perlu diajarkan menjaga jarak dari orang yang sedang batuk atau pilek untuk mengurangi risiko penularan penyakit.
Menjaga kebersihan tangan
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tetap menjadi kebiasaan penting yang perlu dilakukan selama mudik. Jika tidak tersedia fasilitas cuci tangan, Mama dapat menyiapkan hand sanitizer sebagai alternatif praktis.
Patuhi etika batuk dan bersin
Ajarkan si Kecil menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam saat batuk maupun bersin. Penggunaan masker juga dapat membantu melindungi anak, terutama saat berada di transportasi umum atau tempat ramai.
Tidak berbagi barang pribadi
Anak sebaiknya menggunakan perlengkapan pribadi masing-masing selama perjalanan mudik. Hindari berbagi alat makan, botol minum, atau handuk agar risiko penularan penyakit dapat diminimalkan.
5. Perlengkapan yang wajib dibawa

Persiapan barang bawaan menjadi hal penting agar perjalanan mudik bersama anak berjalan lebih aman dan nyaman.
IDAI merekomendasikan beberapa perlengkapan berikut untuk membantu orangtua mengantisipasi berbagai kebutuhan selama perjalanan.
Kotak P3K
Kotak pertolongan pertama sebaiknya selalu dibawa selama mudik sebagai langkah antisipasi kondisi darurat. Isi dengan obat dasar seperti parasetamol, obat antimabuk perjalanan, oralit, plester, perban, termometer, serta vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh anak.
Dokumen penting
Orangtua dianjurkan membawa dokumen identitas anak, seperti Akta Kelahiran atau Kartu Keluarga, selama perjalanan mudik. Selain itu, pastikan tiket perjalanan, bukti reservasi penginapan, serta daftar nomor darurat termasuk rumah sakit terdekat juga sudah disiapkan.
Jaket, jas hujan, payung
Perubahan cuaca selama mudik dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga perlengkapan pelindung perlu dipersiapkan. Jaket, jas hujan atau payung, alas kaki antiselip, serta pakaian ganti menjadi barang penting untuk menjaga kenyamanan anak.
Bekal dan mainan anak
Membawa bekal makanan sehat seperti buah potong, telur rebus, omelet, atau biskuit dapat membantu menjaga energi anak selama perjalanan. Orangtua juga dapat menyiapkan botol minum pribadi, buku cerita, atau mainan kecil agar anak tetap terhibur sepanjang mudik.
6. Aturan keselamatan saat naik motor bersama anak

Untuk perjalanan menggunakan kendaraan roda dua, IDAI menegaskan bahwa anak berusia di bawah 6 tahun tidak diperkenankan untuk dibawa menggunakan sepeda motor selama perjalanan mudik.
Apabila anak sudah cukup usia, orangtua wajib memastikan anak menggunakan helm berstandar SNI dengan ukuran yang sesuai dengan lingkar kepala. Penggunaan helm yang pas sangat penting agar perlindungan kepala tetap maksimal selama berkendara.
Selain itu, anak harus duduk di posisi belakang pengendara, dan jumlah penumpang dalam satu motor tidak boleh lebih dari dua orang. Aturan ini bertujuan menjaga keseimbangan kendaraan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan selama perjalanan mudik berlangsung.
7. Kondisi pengemudi harus dalam kondisi sehat dan fokus

IDAI menekankan bahwa keselamatan anak selama perjalanan sangat bergantung pada kondisi pengemudi. Oleh karena itu, pengemudi perlu memastikan diri berada dalam keadaan prima, waspada, dan siap berkendara agar perjalanan mudik berlangsung aman.
Remaja di bawah usia 17 tahun tidak diperbolehkan mengemudi karena belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagai syarat legal berkendara. Selain itu, pengemudi harus dalam kondisi sehat, tidak berada di bawah pengaruh alkohol maupun obat terlarang, serta menghindari konsumsi obat yang dapat memicu rasa kantuk saat perjalanan.
Dalam perjalanan jarak jauh, pengemudi dianjurkan beristirahat secara berkala, misalnya setiap 2 hingga 3 jam di rest area ketika mulai merasa lelah. Penggunaan ponsel saat mengemudi juga sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
Nah, itu dia panduan mudik sehat dan aman bersama anak dari IDAI. Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk membantu perjalanan mudik Mama dan Papa bersama si Kecil, ya!


















