Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
bayi senyum - hotelcasapoli.it
  • Hipospadia adalah kelainan posisi lubang kencing pada bayi laki-laki yang dapat memengaruhi fungsi saluran kemih dan perlu dikenali sejak dini.

  • Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi risiko diduga terkait kombinasi faktor genetik, lingkungan, paparan tertentu, obat selama kehamilan, usia ibu di atas 35 tahun, dan obesitas.

  • Perawatan kesuburan serta kelahiran prematur juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi; bila ada tanda hipospadia, orangtua dianjurkan berkonsultasi ke dokter untuk pemeriksaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hipospadia adalah saat lubang pipis bayi laki-laki tidak di tempat biasa. Penyebabnya belum pasti. Mungkin ada hubungan dengan gen, lingkungan saat ibu hamil, ibu berusia 35 tahun atau lebih, berat badan berlebih, bantuan untuk hamil, atau bayi lahir terlalu cepat. Kalau terlihat tanda ini, ibu perlu membawa bayi ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap orangtua tentu ingin si Kecil tumbuh sehat dan berkembang dengan baik. Namun, ada beberapa kondisi bawaan yang dapat terjadi sejak bayi lahir dan memerlukan perhatian khusus.

Salah satunya adalah hipospadia, yaitu kelainan pada posisi lubang kencing bayi laki-laki. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi saluran kemih, sehingga perlu dikenali sejak dini agar si Kecil mendapat penanganan yang sesuai.

Mengutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berikut Popmama.com rangkum 4 penyebab hipospadia pada bayi yang perlu Mama ketahui.

1. Faktor genetik dan lingkungan

Pexels.com/Doci

Penyebab hipospadia pada sebagian besar bayi belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan lingkungan selama kehamilan.

Paparan tertentu dari lingkungan maupun konsumsi obat-obatan selama kehamilan juga diduga berperan dalam meningkatkan risiko hipospadia.

Meski begitu, faktor genetik tidak selalu menyebabkan hipospadia pada bayi sehingga kondisi ini tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan riwayat keluarga atau kehamilan.

2. Usia ibu dan berat badan berlebih

Pexels.com/Jep Gambardella

Usia ibu saat hamil serta kondisi berat badan juga termasuk faktor yang dikaitkan dengan peningkatan risiko hipospadia.

Ibu yang berusia 35 tahun ke atas dan mengalami obesitas diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan kondisi ini.

Namun, bukan berarti semua ibu dengan kondisi tersebut akan melahirkan bayi dengan hipospadia. Kondisi ini dapat dipengaruhi juga oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.

3. Menjalani perawatan kesuburan

Pexels.com/Vanessa Loring

Penggunaan teknologi reproduksi berbantuan untuk membantu proses kehamilan juga dikaitkan dengan risiko hipospadia. Perawatan ini dapat melibatkan prosedur tertentu untuk membantu pasangan memperoleh kehamilan.

Meski demikian, hubungan antara perawatan kesuburan dan hipospadia masih perlu dipahami lebih lanjut. Kondisi ini tidak serta-merta terjadi pada setiap bayi yang lahir melalui teknologi reproduksi berbantuan.

4. Terlahir secara prematur

Pexels.com/Valeria Boltneva

Bayi yang lahir prematur atau sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipospadia.

Hal ini diduga berkaitan dengan proses perkembangan organ reproduksi selama kehamilan yang belum berlangsung secara optimal.

Namun, kelahiran prematur bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi risiko hipospadia pada bayi karena kondisi ini diduga melibatkan berbagai faktor yang saling berkaitan.

Itu dia 4 faktor yang diduga berkaitan dengan hipospadia pada bayi. Meski begitu, penyebab pasti kondisi ini belum diketahui dan tidak selalu dapat dicegah.

Jika Mama menemukan tanda hipospadia pada si Kecil, segera konsultasikan dengan dokter agar mendapat pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article