Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: 91 Persen Orangtua Bertengkar di Tahun Pertama Punya Bayi
Magnific/tirachardz
  • Survei terhadap 492 ibu dengan anak di bawah lima tahun mencatat 91 persen orangtua mengalami perselisihan signifikan setelah memiliki bayi.

  • Pemicu konflik meliputi minimnya waktu pribadi, rasa kewalahan, komunikasi, kurang tidur, keintiman, pembagian pengasuhan dan pekerjaan rumah, serta keuangan.

  • Komunikasi yang baik, saling memberi waktu istirahat, dan memperbaiki masalah bersama dapat menjadi solusi dalam menjaga hubungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hasil survei terhadap 492 ibu yang memiliki anak di bawah usia 5 tahun menemukan bahwa 91 persen orangtua mengalami perselisihan yang cukup signifikan dengan pasangan setelah memiliki bayi. Perselisihan tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor.

Kehadiran bayi membawa banyak perubahan dalam kehidupan pasangan, mulai dari berkurangnya waktu untuk diri sendiri hingga kurang tidur dan pembagian tanggung jawab yang perlu disesuaikan. Kondisi tersebut dapat membuat Mama dan Papa lebih mudah merasa kewalahan dan akhirnya memicu pertengkaran. 

Berikut Popmama.com telah merangkum informasi mengenai 91 persen orangtua bertengkar di tahun pertama punya bayi, seperti dikutip dari laman What to Expect.

1. 91 persen orangtua bertengkar di tahun pertama punya bayi

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Sebanyak 91 persen orangtua dalam survei mengaku mengalami perselisihan yang cukup signifikan dengan pasangan setelah memiliki bayi. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertengkaran menjadi hal yang cukup umum dialami pasangan ketika mulai menjalani kehidupan sebagai orangtua.

Berdasarkan survei What to Expect, 51 persen orangtua bertengkar karena sulit mendapatkan waktu untuk diri sendiri. Selain itu, beberapa sumber konflik lainnya meliputi:

  • 43 persen karena masalah komunikasi, seperti merasa tidak didengar atau dipahami.

  • 38 persen karena keintiman fisik dan emosional.

  • 36 persen karena kurang tidur.

  • 34 persen karena pembagian pekerjaan rumah dan pengasuhan.

  • 34 persen karena masalah keuangan.

  • 32 persen karena perbedaan gaya pengasuhan.

  • 27 persen karena keluarga besar.

  • 23 persen karena pekerjaan dan pengasuhan anak.

2. Rasa kewalahan dan kurang tidur jadi pemicu pertengkaran

Magnific/DC Studio

Sebanyak 53 persen orangtua mengatakan rasa kewalahan, terlalu banyak stimulasi, dan merasa terus-menerus dibutuhkan menjadi masalah yang mendorong pertengkaran. Sementara itu, 48 persen menyebut kurang tidur dan 43 persen merasa kurang didukung atau dihargai oleh pasangan.

Kurang tidur juga dapat membuat seseorang lebih sulit mengatur emosi, mengendalikan respons, berempati, dan menyelesaikan masalah. Akibatnya, persoalan kecil yang biasanya dapat dibicarakan dengan tenang bisa terasa jauh lebih besar ketika Mama dan Papa sama-sama kelelahan.

Perubahan setelah memiliki bayi juga dapat membuat pasangan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Jadi, konflik yang muncul tidak selalu berarti hubungan Mama dan Papa sedang bermasalah, tetapi bisa menjadi bagian dari proses menghadapi perubahan dalam rumah tangga.

3. Seberapa sering orangtua bertengkar setelah punya bayi?

Magnific/jcomp

Pertengkaran ternyata cukup sering terjadi selama tahun pertama menjadi orangtua. Sebanyak 71 persen pasangan mengatakan mereka bertengkar beberapa kali dalam sebulan atau lebih, sementara hanya 29 persen yang mengaku jarang atau tidak pernah bertengkar.

Meski begitu, konflik tidak selalu berarti hubungan pasangan berada dalam kondisi buruk. Perbedaan pendapat justru dapat menjadi kesempatan untuk membicarakan persoalan yang sebelumnya belum tersampaikan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Mama dan Papa menyelesaikan konflik tersebut agar tidak berubah menjadi rasa kesal yang terus menumpuk.

Pasalnya, 91 persen responden mengatakan konflik setelah memiliki bayi berdampak pada hubungan mereka. Sebanyak 38 persen merasa situasinya menantang tetapi masih dapat dikelola, sedangkan 29 persen merasa berjarak dengan pasangan.

4. Cara mengelola konflik setelah punya bayi

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI

Konflik mungkin sulit sepenuhnya dihindari, tetapi Mama dan Papa dapat belajar mengelolanya agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Beberapa cara yang dapat dicoba, antara lain:

  1. Luangkan beberapa menit secara rutin untuk membahas masalah atau perasaan yang sedang dirasakan. Cara ini dapat mencegah rasa kesal terus menumpuk.

  2. Jika pertengkaran mulai memanas, Mama dan Papa dapat menggunakan kata atau tanda tertentu sebagai sinyal untuk berhenti sebentar dan melanjutkan pembicaraan setelah lebih tenang.

  3. Candaan dapat membantu mencairkan suasana ketika ketegangan mulai meningkat, termasuk saat menghadapi momen-momen melelahkan bersama si Kecil.

  4. Ketika salah satu sudah merasa sangat kewalahan, pasangan dapat membantu memberikan waktu sekitar 20 menit untuk menenangkan diri sebelum kembali menghadapi situasi.

Nah, itu dia informasi selengkapnya tentang studi yang mengungkap 91 persen orangtua bertengkar di tahun pertama punya bayi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article